Rangkuman Buku Menuju Jama’atul Muslimin (Hal. 205-273)


Ringkasan Buku Menuju Jama’atul Muslimin Hal. 205-273

Karya Hussain Bin Muhammad bin Ali Jabir , MA

 
IV. Rambu Keempat dalam Sirah Nabi SAW: Sirriyah dalam Kerja Membina Jama’ah
    Faktor2 yg menjamin keberlangsungan proses pembinaan jama’ah:
1.    Sirriyah dalam gerak pembinaan jama’ah
2.    Bersabar atas segala kesulitan
3.    Menghindari konfrontasi melawan kebatilan dalam dua tahap awal: PENYEBARAN dan TAKWIN.
Pengertian Sirriyah
Sirriyah dalam kerja membina jama’ah adalah batasan pengetahuan program kerja pada lingkungan kepemimpinan. Setiap individu tdk boleh mengetahui tugas agt lain tetapi harus mengetahui tugas pribadinya.
Sirriyah dalam amal Islami termasuk langkah yg pernah digariskan Rasulullah saw untuk dilalui para juru dakwah.
Jika jama’ah Islam berjalan diatas langkah2 Rasulullah saw, berarti jama’ah tsb berjalan diatas manhaj yang lurus, tapi jika menyimpang jama’ah tsb terancam kesesatan.

Contoh Sirriyah dalam kehidupan dakwah Rasulullah saw:
1.    Proses diturunkan Al-Qur’an kepada Rasul secara berangsur, kemudian kepada orang2 beriman.Ini dalil nyata bhw pemimpin menyimpan proker keseluruhan lalu menurunkannya kepada basis (qawa’id) secara bertahap dan sirriyah.
2.    Kisah hijrah Rasul ke Madinah al munawwarah. Ali bin Abi Thalib bertugas menjaga amanat dan barang-barang, Asma’ bin Abu Bakar bertugas mengurus makanan, Amir bin Fahirah memelihara kambing, Abdullah bin Abu Bakr mencari berita dan gerakan musuh, Abdullah bin Uraiqith bertugas menyediakan dua kendaraan dan petunjuk jalan. Masing-masing memiliki tugas khusus yang tidak berkaitan dengan tugas orang lain.
3.    Kisah sariyah (pasukan kecil) yg dipimpin oleh Abdullah bin Jahsy untuk mengintai kaum Quraisy. Proker dipegang Rasulullah saw, bahkan Abdullah bin Jahsy sendiri tidak diberi tahu kecuali setelah berjalan jauh dari madinah (stlh membaca surat tertutup yg diperintahkan membukanya di tempat yg telah ditunjuk Rasulullah saw).

 

Kesalahan dalam memahami sirriyah
Banyak da’i yg keliru memahami sirriyah dlm kerja membina jama’ah. Mereka terbagi menjadi dua kelompok, yaitu:
Kelompok Pertama, menganggap ajaran2 Islam yg harus disyiarkan justru malah dirahasiakan.
Mereka tdk mau membicarakan tema dakwah dan menjauhi segala sesuatu yang mengarah kesana. Bahkan  ada yg mengingkari bentuk perwujudan Islam. Mereka meniru tradisi non Islami agar tdk dituduh fanatik serta menyembunyikan identitasnya sbg orang pergerakan. Menyembunyikan dakwah Islamiyah sbg fikrah dan ajaran, bukanlah termasuk prinsip sirriyah. Kita tdk boleh menyembunyikan ilmu,krn Allah telah mengambil janji dr para ahli ilmu agar menyampaikan ilmunya dan menjelaskan pd manusia. Firman Allah Q.S Ali Imran: 187:
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima. “
Nabi SAW bersabda:
“Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lalu menyembunyikannya, maka Allah akan mengalunginya pada hari kiamat dengan kalung dari api.“
Hal ini diperkuat dengan ancaman Allah dalam Al-Qur’an Q.S Al-Baqarah: 159-160:
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan[105] dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang. “
Kelompok Kedua
Mereka yg mencampuradukkan  antara sesuatu yg harus dijelaskan dengan sesuatu yg harus dirahasiakan. Mereka “mengobral” segala sesuatu pada setiap tempat dan kepada siapa saja.
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri diantara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu). “ (Q.S An-Nisa: 83)
Mereka adalah org2 yg tidak disiplin. Jiwa mereka belum menyerap ajaran2 Islam, sementara akal merekabelum mengetahui isu dalam mengacaukan barisan dan akibat negatif yang  ditimbulkannya.
Kedua sikap diatas  merupakan bentuk kesalahan dalam memahami sirriyah. Menurut penulis, amal Islami terbagi menjadi 2: 1) Bagian bersifat struktural yg wajib dirahasiakan (tandzimi) dan 2) Bagian yg bersifat pemikiran (fikri) dan nilai (ruhi) yg harus dijelaskan sesuai program. Pembagian ini nampak jelas dalam kehidupan Rasulullah SAW (khususnya periode Makkah).

Pemahaman yang dangkal tentang sirriyah
Sirriyah a/ sifat yg lekat atau tak terpisahkan dari dakwah Rasulullah saw dlm semua tahapannya sepanjang kehidupan Rasulullah di Makkah dan di Madinah. Jika sifat sirriyah ini nampak jelas di Makkah, pd periode Madinah sifat ini lebih bnyk ditemukan dan lebih tertata rapi dikarenakan periode ini adalah tahapan perang dan jihad, sedangkan perang adalah tipu daya. Sepanjang periode Makkah bnyk peristiwa yg menunjukkan iltizam Rasul dan para sahabat pada sifat sirriyah ini:

  1. Darul Arqam bin Abil Arqam. Percakapan ketika menyebutkan rumah Arqam: “Kegiatan itu dilakukan di suatu tempat yang aman, tdk diketahui o/ kaum musyrikin.”
  2. Kisah pemukulan Abu Bakr oleh kaum musyrikin. Terjadi pada  akhir periode Mekah.  Penulis kitab Al-Bidayah menyebutkan riwayat dr Aisyah, ia berkata: Abu Bakar kelua, kemudian berkata, “Pergilah kpd Ummu Jamil binti Khaththab, tnykan kpdnya tentang Muhammad SAW. Lalu ibunya datang kpd Ummu Jamil seraya berkata,”Sesungguhnya Abu Bakar bertanya kepadamu tntg keadaan Muhammad bin Abdullah.” Ummu Jamil menjawab: “Aku tidak kenal Abu Bakr dan tidak kenal Muhammad, tetapi jika kamu menginginkan, aku datang bersamamu kepada anakmu.” Kemudian ia berkata “Ya”, maka berjalanlah Ummu Jamil bersamanya..
  3. Peristiwa masuk Islamnya Amr bin ‘Anbasahdan perintah Rasul kpdnya agr menyembunyikan keislamannya dan tetap berhubungan dg keluarga.
  4. Keislaman Abu Dzar dan cara berhubungan dg Rasul dgn menggunakan seorang pemberi isyarat yaitu Ali bin Abi Thalib. Jika ia melihat  sesuatu yang mencurigakan maka ia duduk ke tanah seperti orang yg sedang menuangkan air.
  5. Ketidaktahuan Umar bin Khaththab ttg masuk Islamnya adik perempuan dan iparnya . Terjadi pada akhir periode Mekah.
  6. Peristiwa Baiat Aqabah yg pertama dan kedua. Dilakukan secara amat rahasia pada akhir periode Mekah
  7. Peristiwa hijrahnya Rasulullah saw dengan Abu Bakar yg berlangsung sangat rahasia. Peristiwa ini adalah penutup periode Makkiyah.

Adapun peristiwa yang menunjukkan adanya sifat sirriyah di Madinah banyak jumlahnya, karena periode ini merupakan masa jihad dan perang. Di periode ini Rasul memiliki aminu sirri (pemegang rahasia)  yaitu Hudzaifah bin al-Yaman al-’Abasi.

Kesimpulan Bab Sirriyah
Sirriyah merupakan “kotak” tempat menyimpan program amal jama’I dan tirai yg menutupi dan melindungi program tersebut. Rambu sirriyah ini sangat penting untuk diperhatikan oleh para da’i  karena merupakan kunci keamanan yg akan melindungi amal jama’I dr intaian mata2 musuh. Para da’I jg harus mengetahui penggunaannya secara baik sesuai dgn tempat dan waktu.
“… Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan Dia adalah Maha Penyanyang diantara para penyanyang”
(Q.S Yusuf: 64)

V. Rambu Kelima dalam Sirah Nabi SAW: Bersabar atas Gangguan Musuh
Bersabar pada Tahapan Takwin
Kesabaran merupakan faktor terpenting disamping merupakan sunah Ilahiyah untuk melindungi jama’ah pada tahapan pembentukannya.
Fenomena Pengulangan Perintah Sabar
•    Sabar diperlukan  untuk membantu ketaatan dan menjauhi kemaksiatan
•    Sabar diperlukan ketika melakukan jihad yg berat di jln Allah & ketika mnghadapi kemenangan musuh
•    Sabar diperlukan ketika mnghadapi trlambtnya kemenangan dan panjangnya perjalanan.
Ayat makkiyah bnyk mengulang perintah sabar krn msh dlm periode awal dakwah (takwin). Hal ini menunjukkan pentingnya sifat ini dlm memelihara eksistensi jama’ah, perlunya sifat ini dimiliki oleh seluruh anggota jama’ah, terutama pd tahapan takwiniyah.

Dalil2 ttg Kesabaran Rasulullah & para sahabat dlm menghadapi gangguan
Kesabaran  yg dilakukan Rasulullah saw dan sahabat di Makkah.

Beratnya penyiksaan atas jiwa Rasulullah dan para sahabatnya
Beratnya beban tersebut diungkapkan Rasulullah sekembalinya dari thaif dlm munajat kpd Allah:
“Ya Allah, kami adukan kepada-Mu segala kelemahan, ketakberdayaan dan ketakmampuanku dalam menghadapi (kezaliman) manusia, wahai Dzat Yang Maharahman. Kepada siapa Engkau serahkan aku? Kepada musuh yang memusuhiku, atau kepada yang dekat yang Engkau kuasakan kepadaku? Aku tidak peduli, asal Engkau tidak memurkai aku. Aku yakin ampunan-Mu sangat luas dan tak terhingga. Aku berlindung dengan nur wajah-Mu yang menjadikan segala kegelapan terang benderang.”

VI. Rambu Keenam dalam Sirah Nabi SAW: Menghindari Medan Pertempuran
    Pengertian Menghindari Pertempuran
Fikrah menghindarkan jama’ah dari medan pertempuran dengan melakukan hijrah merupakan faktor yg dapatmemelihara angt jama’ah dr kekejaman Quraisy dan meloloskan diri dr penghancuran dan pemberangusan.
    Pentingnya rambu ini dalam melindungi Pembinaan jama’ah
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri[342], (kepada mereka) malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?.” Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).” Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?.” Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali,” An-Nisa:97
    Pelaksanaan rambu ini dlm kehidupan Rasulullah saw
Hijrah ke Habasyah > Hijrah ke madinah > Fathul Makkah
    Rambu ini berhasil menggagalkan usaha pembunuhan Rasulullah saw
Seluruh lapisan jama’ah diperintahkan berhijrah.
“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. ” Al Anfal:30

Tabiat Jalan Menuju Jama’atul Muslimin (I)
1.    Memahami Tabiat Jalan
•    Tabiat Jalan: Menuju Surga. “Surga itu dikelilingi o/ hal2 yg tdk disukai” (Hadits Nabi)
•     Para tiran diseret ke neraka jahannam
•    Jalan kemenangan dan kekuasaan, tp dpt menimbulkan ghurur (keterperdayaan)

2.    Macam2 Tabiat Jalan
•    Fitnah Popularitas
•    Fitnah kebanggaan diri
•    Fitnah lambatny kemenangan
•    Keasingan di lingkungan
•    Pemihakan kepada org2 yg menolak kebenaran
•    Fitnah keluarga & org2 yg dicintai
•    Penganiayaan

3.    Tujuan Tabiat Jalan
•    Mengantarkan manusia pd kualitas kerja terbaik
•    Q.S Al-Kahfi:7, Q.S Al-Mulk:2,
•    Membentuk manusiayg baik melalui perbuatan2nya (Kisah Thalut dlm Q.S 1: 246-251)
•    Untuk menghilangkan benih kelemahan dan kekerdilan jiwa
•    Menyingkirkan org2 yg lemah semangat dr barisan mukminin yg penyabar.

4.    Tabiat Jalan: Slh 1 Sunnatullah
•    Ibtila’ adalah slh 1 sunnatullah yg harus dihadapi manusia terutama para penyeru kebenaran. “Alif Lam mim.. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? ”Q.S Al-Ankabut:1-2

Contoh-Contoh Tabiat Jalan (II)
I.    Contoh Sebelum Kenabian
•    Kisah Kedua anak Adam (Al-Maidah: 27-30)
•    Kisah seorang mukmin, habib an-Najjar (Yasin: 25-27)
•    Kisah ashhabul Ukhdud (Al-Buruj: 1-9)

II.    Contoh Di Masa Kenabian
•    Gangguan kaum musyrikin kepada Rasulullah saw
•    Bujukan kaum musyrikin kepada Rasulullah saw

III.    Contoh Gangguan kaum musyrikin kpd para Sahabat
•    Periode Mekkah: Khabbab bin al-Arits,  abu Dzar,  Ammar dan keluarga, Bilal, Umar bin Khatthab, Abu Bakar Ash-Shiddiq,
•    Periode Madinah: provokasi Yahudi, pembangkangan dan pengkhianatan di Uhud, Keterperdayaan di Hunain.

IV.    Contoh Gangguan kpd kaum muslimin pada Dekade ketiga Abad 14 H
•    Sebagian yg sudah dan sedang terjadi
•    Langkah-langkah masa depan kaum kafir

Kesimpulan Bab Tabiat Jalan
    Tabiat jalan berat, tapi harus dilalui oleh gerakan Islam
    Satu-satunya jalan menuju syurga
    Beraneka ragam bentuk; penjara, siksa atau kemewahan, kemegahan atau ghurur
    Sasaran tabiat jalan ini: mengetahui yg shalih dr yg thalih, membuang yg jelek dr yg biak, membersihkan barisan dr unsur kehancuran.

Advertisements

Lelaki kuat nan tajam bashirahnya…


Thaahaa

Maa anzalna ‘alaikal qur’aana litasyqaa (Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah)

Illaa tadzkiratallimayyakhsyaa (tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah),

Tanziilammimman khalaqal ardha wassamaa waatil ‘ulaa (yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. )

Arrahmaanu ‘alal ‘arsyistawaa ((Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy)

Lahuumaa fissamaawaati wa maafilrdhi

wamaabainahumaa wamaa tahtatsaraa (Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah.)

Wa intajhar bilqauli fainnahu ya’lamussirra wa akhfaa (Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi)

Allahu laa ilaaha illa huwa; lahul asmaa ul husnaa.. (Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik), )

 

Qur’an Surat Thaahaa: 1-8

Air mata berderaian di pelupuk pemuda gagah nan termasyhur dalam pergulatan di Pasar Ukaz itu kala membaca petikan Surat ini…Lalu Allah menerangi hatinya yang jernih dengan titik-titik cahaya keimanan. Maka setelah ia memeluk erat iman itu, bashirahnya tajam nan murni… Setidaknya, ada beberapa ayat yang diturunkan untuk mempertegas pendapat lelaki ini,. 1) Katanya: Rasulullah, sebaiknya istri-istri Anda itu mengenakan hijab, sebab yang berbicara kepada mereka ada orang yang baik, ada yang jahat.” Maka turun ayat hijab (Q.S 33: 32-33 dan 59). 2) Tatkala istri-istri Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam berkumpul karena perasaan cemburu, lelaki ini berkata kepada mereka: Kalau kamu diceraikan mudah-mudahan Tuhan memberi ganti dengan istri-istri yang lebih baik, maka turun ayat ini (Q.S 66: 2-5).

Dan tentang akhlaknya ini, rasul terkasih bersabda tentangnya : “Allah telah menempatkan kebenaran di lidah dan di hati Umar”

Yap, dialah lelaki kuat yang tajam bashirahnya.. Umar Ibn Khathab..

 

Kini, sekuat apapun, tak akan ada lelaki yang Allah setujui pendapatnya dengan diturunkannya wahyu.. Tetapi sungguh saya yakin, masih ada lelaki sahaja yang dikaruniai bashirah tajam dalam nuraninya.. Setajam nurani Umar berkata.

🙂

 

 

 

dari Bumi menuju Langit


Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju (menciptakan) langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S) Al-Baqarah : 29

Ayat ini menjadi dalil bahwa ALlah menciptakan bumi terlebih dahulu, kemudian langit yang berjumlah tujuh lapis. ALlah memulainya dari bagian bawah kemudian menuju ke bagian atas. Saya tertegun..

Dan begitulah tarbiyah yang selama ini saya kenal. Dimana saya merasa kembali dilahirkan. Dari titik kejahiliyahan ke jalan yang bercahaya. Ada tahapan-tahapannya. Ibda’ binafsi. Dimulai dari diri sendiri. Dimulai dari hal yang terkecil. Setelahnya adalah dakwah kepada keluarga, kerabat terdekat, kepada masyarakat lalu bernegara sesuai syariat yang ALlah perintahkan.

Dimulai dari bumi lalu menuju langit..

Membenahi hal tersepele sekalipun kemudian dengan segenap cinta memperjuangkan kerja agar harmoni membentuk baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur…

Izinkan saya sampaikan bahwa bagaimanapun, sayapun rindu dengan khilafah

Amat mengingini kalimat ALlah tegak di seluruh bumi-Nya ini.

Tapi lagi-lagi kita berbeda cara. Tak apa kan? Asal pergerakan kebajikan itu selalu ada.

dan lagi-lagi pula, mari, kita memetik cinta dari langit, lalu menebarkannya di bumi..

menerjemahkan bahasa langit agar sahih teramalkan oleh penduduk bumi

tugas yang hanya bisa diemban kaum kita. Para manusia beriman.

Mari laksanakan tugas kita masing-masing. Untukmu tugasmu, untukku tugasku…

dimanapun gerbong tempat kita berpijak, satu tujuan itu terpatri sudah bukan?

ALlahu Ghayyatuna

Salam ukhuwah untuk Muktamar Khilafah Juni nanti.

Salam cinta, kerja, harmoni

Baraakallahu Fiikum

Selasa, 7 Mei 2013

#Hadits 1: Niat


Jangan sampai sesuatu yang sedemikian kita cintai sehingga menggelincirkan niat lurus yang pada awalnya telah terpancang di hati. Jangan pernah !!!

Jangan sampai, kita bertarbiyah karena ingin termasyhur keshalihan/keshalihahannya.

Jangan sampai, keaktifan kita dalam dunia dakwah, karena hanya ingin mendapat kesempatan agar bisa berdekatan dengan si akhi A, atau si ukhti B..

Ah, sungguh.. Syaithan itu amat pintar menggelincirkan niat kita..

Maka mari hati-hati pada isi hati kita. Moga ALlah selalu menjernihkannya.

Semenyulitkan apapun, mari benahi terus niat kita.

Realize that when Allah is not the real one goal, how much we got, whatever we had. Truly we got nothing! indeed! 

Amirul Mukminin Abi Hafsh Umar bin Khattab ra. berkata, Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda,

“Sesungguhnya amal perbuatan itu disertai niat dan setiap orang mendapat balasan amal sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang berhijrah hanya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya itu karena dunia yang ia harapkan atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya itu menuju yang ia inginkan.”

(Diriwayatkan oleh dua orang ahli hadits: Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah Bardizbah Al-Bukhari dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairy An-Naisaburi)

_Hadits Arba’in, An-Nawawi

Watch our mouth, Folks …


311783_1937213311076_1264653589_31740615_2630977_n

Tahukah? Mungkin kalian sudah tahu,,,, tapi aku teringin menyampaikannya. Bahwa di dunia ini ada beberapa hal yang tak dapat kembali, waktu ketika telah berlalu, kesempatan bila sudah hilang, batu ketika telah dilontarkan dan KATA, kata yang kadung diucapkan.. Berapa kata kah yang telah kita ucapkan sejak kita mulai bisa berbicara hingga sekarang? berapa kata kah yang dengan sengaja kita tulis hingga menjadi bait-bait kebermanfaatan, atau kesia-siaan bagi orang sekitar? berapa juta kata yang terlontar dari lidah yang tak bertulang ini untuk dengan sengaja berucap pada kebajikan? atau dengan sengaja memperolok teman-teman kita? atau tidak tertahankan mendesas-desuskan orang lain? Tidak ada yang menghitung berapa kata yang telah dia ucapkan, aku, kamu, kita.. sama-sama tidak pernah menghitung jutaan kata yang telah kita produksi. Padahal di akhir nanti lidah menjadi salah satu saksi atas apa-apa yang kita perbuat..

“Pada hari ketika lidah, tangan dan kaki menjadi saksi atas mereka terhadap apa-apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. 24:24)

Oh betapa!!! Di akhir zaman ini media desas-desus semakin menjamur menggurita. Saat di zaman orang-orang terdahulu hanya memiliki satu-satunya lidah yang tajam sebagai media desas-desus, di kekinian kita memiliki banyak sekali fasilitas desas-desus, TV, Radio, HP, Internet dan bahkan Socmed (!). Mengapa bahkan, kita gemar sekali mendesas-desuskan orang lain, bukan, bukan hanya keburukan, tapi hal yang baik pun ramai diperbincangkan seolah-olah itu adalah hal buruk. Atau bahkan hal-hal tidak penting asalkan tentang seseorang, itu patut di perbincangkan. Oh, dear 😦 …

Tak bisakah kita, berusaha sedikit demi sedikit menahan, menjaga amanah lidah agar tidak berbicara kecuali yang baik-baik saja? Semenit, sejam, sehari, tahan rasa yang sangat ingin untuk membicarakan orang lain di hadapan lawan bicara kita. Yap, paham bahwa lidah ini sepertinya gatal saja jika tidak membicarakan seseorang, tapi mari sadari bahwa setiap hela kata yang terucap adalah tanggungjawab kita di hadapan-Nya. Your word, your responsible..

“Tiada suatu kata yang diucapkannya, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (Q.S Qaf:18) 

Mengapa bahkan, ketika ada berita simpang siur yang menyebar, kita dengan serta merta menerimanya, seolah-olah berita itu FIX, benar. Dan dengan gamangnya melanjutkan keberprasangkaan terhadap orang yang di gunjing.. So sad 😦 ..

“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam neraka yang jaraknya lebih jauh antara timur dan barat”. (Muttafaq ‘alaih, dari Abu Hurairah)

 

Ghibah 

Dalam sebuah perjalanan ke suatu daerah, para sahabat diatur agar setiap dua orang yang mampu, membantu seorang yang tak mampu (tentang makan-minum). Saat itu, Salman Al Farisi diikutkan pada dua orang, tetapi ketika itu ia lupa tidak melayani keperluan keduanya. Ia diperintahkan meminta lauk pauk kepada Rasulullah saw. Dan setelah ia berangkat, keduanya berkata, “Seandainya ia pergi ke sumur, pasti surutlah sumurnya.” Sewaktu Salman menghadap, beliau bersabda, “Sampaikan kepada kedua temanmu bahwa kalian sudah makan lauk pauknya.” Setelah ia menyampaikan kepada mereka berdua, lalu keduanya menghadap kepada Nabi saw dan katanya, “Kami tidak makan lauk pauk dan seharian kami tidak makan daging.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Kalian telah mengatakan saudaramu (Salman) begini-begitu. Maukah kalian memakan daging orang mati?” Mereka menjawab, “Tidak!” “Jika kalian tidak mau makan daging orang mati, maka janganlah kalian ghibah mengatakan kejelekan orang lain, sebab yang demikian itu berarti memakan daging saudaranya sendiri.” Menurut Ibnu Abbas, kisah tersebut yang melatarbelakangi diturunkannya surat Al-Hujarat : 12

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat: 12)

Diriwayatkan dari Abu Dzar berkata: Ya Rasulullah, apakah ghibah itu? Rasul menjawab : ”Menyebutkan tentang saudaramu akan sesuatu yang membuat dia merasa jijik.” Aku berkata: Ya Rasulullah, bagaimana jika hal tersebut memang ada pada dirinya? Rasul menjawab: Ketahuilah, bahwa menyebut tentang sesuatu yang memang ada pada dirinya, berarti kamu telah mengumpatnya. Abu Dzar berkata : Nabi SAW bersabda : Ghibah merupakan suatu dosa yang lebih besar daripada berzina. Kataku : Bagaimana itu, ya Rasulullah? Rasul menjawab : ”Itu karena orang yang berzina, jika dia bertobat kepada Allah, Allah menerima tobatnya. Namun ghibah tidak diampuni oleh Allah, hingga korban daripada ghibah mengampuninya.”

Jadi temans, sebetulnya apa yang kita untungkan dari memperbincangkan orang lain? akan kah itu memuliakan kita? Dalam pandangan kita, okefine, kita mungkin lebih baik dari orang yang dipergunjingkan. Tapi dihadapan Allah, who knows? Siapa tahu amal kita lebih buruk dibanding orang yg kita gunjingkan. Tegakah kita, menjadi orang yang menggunjing, mungkin keceplosan, itu sekali, seterusnya ketagihan. Bisa bayangkan, orang yang ketagihan memperbincangkan orang lain, sama seperti ketagihan untuk memakan bangkai saudaranya sendiri. Itu kanibal sekanibal-kanibalnya, kawan…

 

Cek, Ricek, Kroscek ala Islam: Tabayyun

Ingat, bahwa dalam menerima sebuah informasi, kita sebagai muslim memiliki rumus tabayyun sebagai alat penguji data. Bukankah dalam dunia penelitian, kita mengenal sebuah pengujian agar data tersebut dikatakan valid?  Maka tentu dalam interaksi sosial kita *apalagi muslim terhadap muslim lainnya*, tabayyun adalah alat penting dalam dunia perinformasian yang penuh dengan ghibah bin fitnah ini.

Menurut istilah syara’ tabayyun adalah kehati-hatian terhadap informasi yang beredar terkait dengan kaum muslimin tanpa didasari dengan  pemahaman yang mendalam.  Mari ingat kembali ayat yang diturunkan Allah SWT terkait fitnah yang menimpa bunda Aisyah Ra,

“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja.  Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. (An Nur: 15) “

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (Al Hujurat: 6)

Jadi, jika ada berita menyimpang tentang saudara kita, rumus pertama dan utama yang mesti kita lakukan adalah tabayyun. Apa? Tabayyun, akhi.. ukhti…

 

Yuk Tabayyun !!!

Terdapat banyak metode tabayyun yang bisa dilakukan, namun kali ini saya ingin menyampaikan 3 (TIGA) *ehm, inget ya tiga :)*   cara bertabayyun. Check this out:

1) Mengklarifikasi terhadap pihak yang bersangkutan

Nah, ini hal yang urgent, temans. Tapi kadang, sering bahkan, kita terbelenggu dengan prasangka yang kepalang ada, mendarah daging menulang rusuk *oke, ini berlebihan, abaikan*. Apakah sedemikian sulitnya menanyai pihak yang bersangkutan sehingga kita bahkan hanya bisa mengandalkan insting saja, mendasarkan prasangka pada apa yang terlihat di permukaannya saja? begitukah? *Please lah* Rasulullah SAW bersabda:

“Jauhilah dirimu dari persangkaan, maka sesungguhnya persangkaan itu sedusta-dustanya perkataan.” (HR. al-Bukhori)

Jadi, bukan hal yang sulit untuk sekedar klarifikasi, bertanya baik-baik benar atau tidaknya sebuah berita kepada orang yang bersangkutan. Jika memang desas-desus yang tersebar adalah berita yang amat penting, akan mengganggu stabilitas dakwah atau akan memicu perpecahan jika tidak diluruskan, maka klarifikasilah kepada orang yang bersangkutan. Tapi semoga derajat “kepo” kita tidak dalam stadium akut dimana kita melulu dan terlalu ingin tahu akan urusan pribadi orang lain. Menjadi ingin tahu berlebih atas hal-hal yang derajatnya agak, kurang dan tidak penting. Mari tidak berkutat pada perbincangan tentang orang lain, bukankah tipe seseorang itu ditentukan oleh apa yang dibicarakannya? bahwa orang-orang besar adalah orang yang membicarakan ide, gagasan-gagasan yang cemerlang. Maka mari menjadi tipe manusia seperti itu. Menjadi cemerlang dengan gagasan-gagasan masa depan, bukan berhiruk pikuk dengan memata-matai orang lain mencari bercak dan noda akhlak mereka. Atau, jika belum bisa memberi gagasan, setidaknya diam adalah emas. Benar-benar emas yang menjadi harta karun. Dan, memang semua orang punya bercak dosa bukan? Allah knows, Allah definitely knows siapa-siapa yang hatinya berkilauan atau yang hatinya hitam bak jelaga, jadi kita tak perlu memekati hati sendiri dengan menunjukkan, atau mencari-cari kurangnya oranglain dengan bergosip. Oke? *okesip3 :)*

 2) Menanyakan kevalidan data informasi kepada sahabat terdekat orang yang bersangkutan

Diriwayatkan bahwa ketika ada seseorang memuji orang lain di sampingnya, Umar bin Khattab lalu berkata, “Apakah kamu pernah bepergian bersamanya ? Ia menjawab : tidak. Umar melanjutkan : apakah kamu pernah mengadakan transaksi binis dengannya ? Katanya : tidak. Kata umar : kalau begitu, kamu diam saja. Saya pikir kamu hanya pernah melihatnya di masjid sambil mengangkat dan menundukkan kepalanya. Jadi, sebagai seorang muslim yang hati-hati, mari kita tanya siapa sang pembawa informasi. Terpercayakah? atau adalah pribadi yang gemar mengumbar aib saudaranya sendiri? Mari kita selidiki dulu sang pembawa berita sebelum mengarah kepada yang diberitakan. Karena pembawa informasi itu ada 3 jenisnya *tiga lagi deh* , yang pertama adalah pembawa informasi yang jujur dan biasanya mereka memberitakan hal-hal yang penting saja. Taklimat misalnya. Kedua, berita dari pembohong yang secara langsung harus ditolak. Ketiga, berita dari seorang yang fasik yang membutuhkan klarifikasi, cek, ricek dan kroscek akan kebenarannya. 

Dalam sebuah riwayat dari Qatadah disebutkan, “At-Tabayyun minaLlah wal ‘ajalatu Minasy Syaithan”, sikap tabayun merupakan perintah Allah, sementara sikap terburu-buru merupakan arahan syaitan.

Selanjutnya ketika kita ingin mengklarifikasi berita maka menanyai sahabat terdekat dari orang yang diberitakan adalah tindakan yang tepat. Seseorang dikatakan telah menjadi sahabat jika telah melakukan 3 *duh, lagi-lagi 3* hal seperti yang telah diriwayatkan. Melakukan perjalanan bersama, bermalam bersama dan bermuamalah. Jadi ketika teman-teman tahu orang yang ditanyai itu belum melakukan hal-hal diatas, hati-hati ya. Begitu.

3) Husnudzon, pada akhirnya Allah-lah yang menunjukkan

Ketika suuzdon menjadi sedusta-dusta perkataan, maka husnudzon adalah sejujur-jujur perkataan bukan? Entahlah, Yang jelas adalah, orang-orang yang berhusnudzon selalu berprasangka baik, waspada, tidak mudah percaya pada berita yang mengarah pada menjatuhkan kehormatan saudaranya sendiri atau berita sejenis yang negatif. Dan lagi, mereka tidak mudah untuk menyebar berita yang tidak jelas sumbernya dari mana. Mari, mengingat kembali orang-orang beriman yang berhusnudzon terhadap bunda Aisyah r.a atas haditsul ifki yang menimpa beliau. Mereka tak ikut-ikutan membicaran. Tetap sahaja menghormati karena mereka orang-orang terhormat.

 “Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.” (An-Nur: 16).

 

Kita bukan kumpulan para malaikat yang tak pernah berbuat salah. Kita pun bukan golongan nabi yang ma’shum,. Tapi kita adalah kumpulan manusia yang lemah, khilaf, dan banyak dosa. Tapi hakikat kita tidak begitu Allah menciptakan kita menjadi makhluk yang sempurna dibanding makhluk Allah yang lain. Kita diberi Allah nikmat iman untuk meneguhkan percaya, akal untuk memikirkan gejala penciptaan dan hati untuk merasa memfatwa diri atas apa-apa yang haq dan yang bathil.

Maka mari saling menjaga, di tengah hiruk pikuk kekinian yang dipadati ghibah, fitnah dan namimah

Moga Allah mampukan kita mengendalikan sang pedang lisan

Moga Allah mampukan kita menahan ego bincang berlebihan

agar tak mengoyak hati sesama, agar tak pudar rasa saling hormat

agar tak ada manusia yang amat menggemari bangkai-bangkai manusia

Moga Allah berkahi tiap niat lisan yang bijak berkata, hingga sejahtera tercipta,

menghadiahinya pahala surga

Moga Allah ampuni tiap kata yang terkata menyakiti saudara, menggantinya dengan taubat nasuha

agar Allah ridhoi kita memasuki firdaus-Nya

Semoga Allah senantiasa menjaga aku dari  tajam lisan mu

Semoga Allah menyelamatkan dirimu dari keji lisan ku

Dan semoga Allah melindungi kita dari syaithan yang bergiat menggelincirkan sang lidah

 

Demikianlah..

 

Referensi:

1) Al-Qur’anul Karim

2) Madah Tarbiyah Tamhidi “Afatul Lisan”

3) Sikap Tabayyun Terhadap Informasi, Dakwatuna.

4) Mericek Kebenaran Berita, Menjauhi fitnah. Masjid Al-amanah.com

Bercermin dari Kisah Ka’ab bin Malik dalam Perang Tabuk


Bismillah…

Pada perang Tabuk, ada beberapa sahabat yang tidak berangkat berperang. Salah satu di antar mereka. Salah satu di antara mereka adalah Ka’ab bin Malik. Marilah kita dengarkan cerita Ka’ab yang menunjukkan kejujuran imannya, usai turunnya pengampunan Allah atas dosanya.
“Aku sama sekali tidak pernah absen mengikuti semua peperangan bersama Rasululah saw, kecuali dalam perang Tabuk. Perihal ketidakikutsertaanku dalam perang Tabuk itu adalah karena kelalaian diriku terhadap perhiasan dunia, ketika itu keadaan ekonomiku jauh lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Demi Allah, aku tidak pernah memiliki barang dagangan lebih dari dua muatan onta, akan tetapi pada waktu peperangan itu aku memikinya.

Sungguh, tidak pernah Rasullah saw. merencanakan suatu peperangan melainkan beliau merahasiakan hal itu, kecuali pada perang Tabuk ini. Peperangan ini, Rasulullah saw. lakukan dalam kondisi panas terik matahari gurun yang sangat menyengat, menempuh perjalanan nan teramat jauh, serta menghadapi lawan yang benar-benar besar dan tangguh. Jadi, rencananya jelas sekali bagi kaum muslimin untuk mempersiapkan diri masing-masing menuju suatu perjalanan dan peperangan yang jelas pula.

Rasulullah saw. mempersiapkan pasukan yang akan berangkat. Aku pun mempersiapkan diri untuk ikut serta, tiba-tiba timbul pikiran ingin membatalkannya, lalu aku berkata dalam hati, “Aku bisa melakukannya kalau aku mau!” Akhirnya, aku terbawa oleh pikiranku yang ragu-ragu, hingga para pasukan kaum muslimin mulai meninggalkan Madinah. Aku lihat pasukan kaum muslimin mulai meninggalkan Madinah, maka timbul pikiranku untuk mengejar mereka, toh mereka belum jauh. Namun, aku tidak melakukannya, kemalasan menghampiri dan bahkan menguasai diriku.

Tampaknya aku ditakdirkan untuk tidak ikut Akan tetapi, sungguh aku merasakan penderitaan batin sejak Rasulullah saw. meninggalkan Madinah. Bila aku keluar rumah, maka di jalan-jalan aku merasakan keterkucilan diri sebab aku tidak melihat orang kecuali orang-orang yang diragukan keislamannya. Merekalah orang-orang yang sudah mendapatkan rukhshah atau ijin Allah Ta’ala untuk uzur atau kalau tidak demikian maka mereka adalah orang-orang munafik. Padahal, aku merasakan bahwa diriku tidak termasuk keduanya.

Konon, Rasulullah saw. tidak menyebut-nyebut namaku sampai ke Tabuk. Setibanya di sana, ketika beliau sedang duduk-duduk bersama sahabatnya, beliau bertanya, “Apa yang dilakukan Ka’ab bin Malik?”

Seorang dari Bani Salamah menjawab, “Ya Rasulullah, ia ujub pada keadaan dan dirinya!” Mu’az bin Jabal menyangkal, “Buruk benar ucapanmu itu! Demi Allah, ya Rasulullah, aku tidak pernah mengerti melainkan kebaikannya saja!”Rasulullahsaw. hanya terdiam saja. Continue reading

Kata di Jalan Cinta


Kata di Jalan Cinta

 

Satu kata cinta Bilal;

“Ahad!”

 

Dua kata cinta Sang Nabi;

“Selimuti aku..!”

 

Tiga kata cinta Ummu Sulaim;

“Islammu, itulah maharku!”

 

Empat kata cinta Abu Bakr;

“Ya Rasulullah, saya percaya…!”

 

Lima kata cinta ‘Umar;

“Ya Rasulullah, ijinkan kupenggal lehernya!”

 

 

Selamat datang

Di jalan cinta para pejuang . . .

 

_ Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A. Fillah _

 

Membuka lagi halaman buku Jalan Cinta Para Pejuang, lalu menemukan tulisan ini.. dan tertegun.. lama.. Memikirkan sebuah pertanyaan besar, lalu apa kata cintaku di Jalan Cinta ini untuk Nya?

 

Menyadari bahwa, Bilal, Ummu Sulaim, ‘Abu Bakar, dan ‘Umar adalah para pejuang di Jalan Cinta pendamping Sang Nabi yang sudah tak diragukan lagi katanya.. Bagaimana mereka dengan segenap hati.. Mempersembahkan kata-nya di Jalan Cinta itu.. Dengan penuh penghambaan dan ketaatan..

 

Aku? Apa kata cintaku untukNYA di Jalan Cinta ini? Ah.. siapalah rupanya diri ini jika dibandingkan orang-orang tersebut diatas.. Aku, hanya salah seorang hamba-NYa yang tengah meniti Jalan Cinta-NYa.. 

 

Ya Allah.. Meski terseok, izinkan aku persembahkan kata di jalan cinta ini untukmu, 4 kata cintaku padaMu: Izinkanku Istiqamah di Jalan-Mu…

 

pengemis cinta-Mu

15 Dzulhijah 1433 H / 31 Oktober 2012