Jurnal Perjalanan ke SPAT Indonesia – Malang


Bismillah!!

yosh.. ditengah rushingnya mengerjakan tugas-tugas dan tuntutan akademis lainnya (T_T).. Sempetin diri buat bikin jurnal perjalanan ini, *meski hanya di satu tempat kunjungan*, itu pun karena di tagih bu dosen. #glek #Okefine..

Selamat membaca aja ya temans:)

Semangatt !!!

DSC_2408

Jurnal Perjalanan Sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu

Advertisements

Karena fieldtrip bukan cuma jalan-jalan, tapi juga belajar


yosh!! sempatkan diri untuk posting tentang “fieldtrip agribisnis 4-8 desember 2012” sebelum memorinya menguap terbawa angin tenggara, atau lapuk berdebu tergilas zaman.. #okeh, ini lebay. abaikan.

in the name of Allah..

Setelah sekian lama kami para ranger kafilah dan mafia (katakanlah begitu) agribisnis di kampus menjadi anak yang rajin menabung, akhirnya kami dengan berbekal tabungan 785.000 IDR -yang didapat dengan berdarah-darah, red- dapat menggenapkan tujuan untuk mengadakan agrowisata ke daerah Malang. Yap, tepat sekali! Kota yang terkenal dengan buah Apelnya itu loh. Jadi ceritanya rute perjalanan kami adalah dari pinggiran bogor *ciawi* ke CV. ASIMAS di Lawang-Malang, Kusuma Agrowisata di Batu-Malang, CV. Bromo Semeru di Batu-Malang, Universitas Brawijaya dan Sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu Indonesia (Republik Telo). Lalu dilanjut dengan wisata ke Parangtritis, Prambanan dan Malioboro :).

Sejatinya, banyak kata yang ingin berloncatan keluar dari alam pikiran dan akhirnya tercantum dalam blog ini. Apa daya, semoga apa yang ditulis mewakili semua rasa yang tersirat di hati :).

Jadi, saya ingin sedikit sampaikan hikmah yang didapat dari perjalanan kemarin. Karena Fieldtrip kemarin itu bukan cuma jalan-jalan, tapi juga belajar. Belajar memahami karakter temans seperjalanan, belajar menyetarakan ego menyamakan langkah. Dan yang terpenting belajar bertafakur, belajar memetik hikmah dan pelajaran dari setiap momen dan peristiwa yang dialami.

1. Belajar Memahami Teman Seperjalanan
Yap! dalam waktu kurang lebih 5 hari 4 malam, kami jadi belajar dan setidaknya bisa membaca karakter masing-masing anggota perjalanan. Maka benarlah apa yang disabdakan Rasul SAW tercinta, seseorang telah menjadi sahabat bagi yang lainnya jika telah mengadakan perjalanan bersama dengannya. Dalam perjalanan ini, ada yang sukanya tidur terus, ada yang senang sekali mendendangkan lagu -untung suaranya bagus:)-, ada yang pandai mengatur segala hal tapi tak terkontrol dalam berbicara, ada yang damai mengikuti arus yang mengalir, ada pula yang pandai meramaikan suasana dengan kekonyolan atau jokes yang dibuatnya. Sempat bad mood dan ilfeel sama salah seorang ranger akibat kata-katanya yang kurang di jaga. Tapi, tapi, tapi,, keberagaman karakter ini membuat saya belajar bahwa ternyata saat bersama dengan teman-teman kita adalah saat yang paling tepat untuk berrefleksi. Berkaca. Ngeunteung kalau bahasa sundanya. Bahwa no body’s perfect, kita bisa melihat dan merasakan kekurangan dan kelebihan teman seperjalanan kita, begitupun mereka, bisa melihat baik dan buruknya kita. Dengan berkaca seperti itu, kita menjadi paham bahwa jalan terbaik untuk meminimalisir konflik atas beragamnya karakter orang-orang di sekitar kita itu adalah dengan “memahami” lalu mulai beradaptasi dengannya. Jadi, #okefine adaptasi sama kata-kata yang tidak menyenangkan 🙂

Satu hal lagi, dalam kesempatan in..i i’ll confess about my mistake yang dilakukan saat makan popmie di bis tanpa memperhatikan teman-teman lain yang ga makan. Wah, feeling guilty so much itu.. maaf yah bu itoh dan temans.. tak kan terulang kedua kaliii 😀

2. Belajar Menyetarakan Ego, Menyamakan Langkah
Dari 27 orang anggota perjalanan (24 ranger, 3 orang sopir) pasti memiliki selera makan yang berbeda-beda. Nah, disinilah ego kita di uji. Ima dkk dan pak bendum selalu kesibukan untuk cari resto/rumah makan yang selain pas di lidah pas juga di kantong kita-kita :). Bersyukur saat sajian makanan yang ada pas di lidah kita semua. Tapi ada kejadian yang menarik, saat itu kita telat makan, baru jam 10 malam kita semua bisa makan malam itupun di rumah makan padang yang makanannya ofcourse pedas semua. Sebagian besar awak bis kepedesan, ada yang langsung minta obat ke nia biar ga sakit perut, ada pula yang mengaduh karena sebelumnya mereka memang terjangkit sakit perut. Tapi alhamdulillah, kepedesan ini tidak menelan korban jiwa :D.
Disini, saya jadi berpikir dan salut betapa luar biasanya kebersamaan kita (ecieee). Yah, meskipun makanan tidak sesuai selera semua peserta tapi semua awak bis makan, tak terkecuali. Semua sama-sama mengenyampingkan ego masing-masing: suka ga suka harus makan. Semua paham bahwa betapa cakah-cikihnya ima dkk sebagai penanggungjawab konsumsi untuk bergegas cari pemadam kelaparan untuk mengurusi kesehatan perut kita semua, meskipun waktu makannya sering ngaret. Thanks for Divisi Konsumsi 🙂

Kita juga belajar menyetarakan ego saat memutuskan jadi atau tidaknya berkunjung ke Candi Prambanan. Diskusi dipimpin Dadang waktu singgah ke rumah Buk De-nya Salma di Klaten. Awalnya diskusi alot karena ternyata masuk Prambanan harus merogoh finansial kita-kita *lagi* sebesar 35.000 IDR. Ada yang keberatan. Lalu ada yang saran masing-masing aja. Yang mau masuk-masuk, yang ngga, ya ngga usah. Awalnya begitu. Tapi kebayang jalan-jalannya akan sangat garing kalau ga sama-sama. Meskipun Garing itu kriuk, kriuk itu krekes, krekes itu enak. Tapi garing tetaplah garing teman!#apasihhh
Satu menit, dua menit, tiga menit.. Akhirnya muncul ide dari Nabil sang bendum.. Usul subsidi silang dari teman-teman, sampai akhirnya masing-masing kita hanya perlu mengeluarkan 15.000 IDR. Okefiks. Approved. Semuanya merogoh kocek masing-masing, dan jadilah kita semua pergi ke Prambanan dan berhasil mencetak blueprint foto yang memorable seperti di bawah ini:)

jalan-jalan, sama-sama, belajar-belajar, berkah-berkah :)

jalan-jalan, sama-sama, belajar-belajar, berkah-berkah 🙂

3. Belajar Bertafakur
This is it. Hal yang paling penting yang kita harus petik. Bertafakur. Merenungi tanda-tanda kebesaran Allah lewat ciptaan-Nya. Bukankah di setiap pagi di bis *kalau ga tidur :D* kita bisa menyaksikan sunrises dengan indahnya lalu melihat pula terbenamnya senja? Dan apa yang kita dapat setelah melihat indahnya pantai parangtritis, lalu cerahnya biru langit diatas indah bangunan-bangunan tua Prambanan? Maka kita, dengan segenap hati seluruh jiwa, seharusnya bisa melihat, merasakan dan berfikir bahwa Allah SWT sungguh Maha Besar dan Maha Indah. Lalu bersyukur dan memuji Allah SWT atasnya. Salah satu fungsi besar dari jalan-jalan ya agar kita bisa bertafakur seperti ini. Iya tho? 🙂

Maka biarlah teman, fenomena kemenyan yang kita lihat di bibir pantai dan fenomena orang yang menghanyutkan barang-barangnya di tepi pantai parangtritis itu jadi i’tibar buat kita. Bahwa sesungguhnya apa yang mereka lakukan nonsense sekali. Bahwa Allah amat benci dengan perkara-perkara syirik seperti itu. Don’t try that at home, okeh? 🙂

Juga mari kita berdo’a pada Allah agar kebersamaan yang pernah kita ukir itu menuai keberkahan dan ridho Allah. Bukan malah menuai murka Allah karena perkara-perkara salah yang kita lakukan saat perjalanan. Sungguh akan menjadi hal yang amat sangat menyedihkan jika kita menikmati ranumnya kebersamaan, mengukir tawa renyah nan indah tapi disana tidak terdapat kasih sayang Allah sama sekali. Jadi, tawa dan kebersamaan yang kita buat untuk apa? Untuk mendekati surga atau neraka-Nya? Mari #berpikir

Mengertilah bahwa Allah sungguh menilai dan melihat gerak-gerik kita di setiap waktu, di setiap kesempatan dan di setiap tempat. Maka mari beristighfar atas apa-apa yang tidak seharusnya kita lakukan. Dan berazzam jadi pribadi yang jauuhh lebih baik lagi.. Kita sama-sama perbaiki diri ya 🙂

“Tidakkah mereka perhatikan, bagaimana Allah memulai ciptaan kemudian mengulanginya? Sesungguhnya yang demikian itu mudah saja bagi Allah. Katakanlah:’Berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah, bagaimana Allah memulai ciptaan, kemudian Ia mengulangi penciptaan itu sekali lagi. Sesungguhnya Tuhan Berkuasa atas segala sesuatu.” (QS. 29:19-20)

“Berjalanlah kamu di atas muka bumi, kemudian lihatlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan itu.” (Al An’am: 11)

Di Prambanan - Jogja

Di Prambanan – Jogja

Continue reading

Capacity Building with Horti Chain Centre


Bismillah…

“We Only Work With The Champion” adalah kata-kata yang masih terngiang di telinga saya ketika mengingat Training yang diadakan HCC pada 28-29 Agustus lalu di Menara Jamsostek – Jakarta. Kata-kata itu terlontar dari Dirut HCC yang memberikan 8 materi dalam 2 hari *saya izin bilang: WowwXD*. Ibu Caecil, begitu ia biasa dipanggil, dengan tangkasnya memberi letupan-letupan motivasi pada kami –para peserta training yang terdiri atas 12 orang, mahasiswa+alumni UNIDA- agar lebih fokus terhadap tujuan kami masing-masing. Saat beliau masih berbicara tentang motivasi-motivasi itu, saya pun jadi larut dengan pikiran saya sendiri.. Semacam berkontemplasi “Tujuan??? Ahh, rasanya banyak tujuan yg kutulis di kertas mimpi itu, banyak definisi, dan Allah… tolonglah, tolong wujudkan satu dari sekian banyak tujuan yang ingin kucapai”.

“Ayo, jadilah para champion, because WE ONLY WORK WITH THE CHAMPION. Don’t brave enough? Silakan pulang!! Kami tidak perlu orang-orang cengeng dan lemah dalam project kami” tandas Bu Caecil, mantap. Agak merinding juga saya mendengarnya.. Nadanya itu lohh.. Mantepp, Jlepp !!

Awal dari pelaksanaan training ini adalah diperlukannya 3-5 orang mitra HCC yang akan ditempatkan di wilayah Sobang – Banten untuk proyek HCC yang bertujuan untuk meningkatkan Value Chain Palm Sugar asal daerah Sobang dimana Palm Sugar merupakan komoditas yang bagus prospeknya untuk eksport. Namun, sebagai DBS, HCC berperan untuk membantu Pertanian Rakyat di Sobang yang mengelola Palm Sugar dalam hal pembenahan semua aspek yang menunjang diterimanya Palm sugar di pasar Global, salah satunya kualitas Palm Sugar itu sendiri dan kelembagaan Pertanian Rakyat di Sobang sendiri. Proyek yang dicanangkan berjangka panjang, sekitar 3 tahunan. Luaran yang diharapkan adalah 1) Pertanian Rakyat di daerah Sobang memiliki sistem kelembagaan yang baik dan terstuktur 2) Kualitas Palm Sugar setempat memenuhi standard Global GAP sehingga di terima pasar Internasional dan 3) Menandai Sobang dalam Peta Indonesia sebagai daerah penghasil Palm Sugar di Indonesia. Tugas dari para mitra HCC ini adalah sebagai QC (Quality Control) yang akan mendampingi dan membina petani setempat untuk dapat memenuhi criteria sebagai supplier di pasar Internasional. Nah, sebelum terjun ke lapangan, tim yang akan terjun ke lapangan perlu di bina dan di training agar sedikitnya tahu apa yang harus mereka kerjakan. Maka diadakanlah training yang dilaksanakan selama 2 hari ini, selain sebagai pemberian gambaran juga sebagai proses seleksi untu 5 orang yang terpilih sebagai mitra HCC yang akan di terjunkan ke Sobang – Banten.

Based on the description, being the partner of HCC that placed in Sobang – Banten is very exciting and amazing.. Berharap benar bisa terekrut untuk project ini, atau jika tidak di project ini, pihak HCC berkenan mengajak bergabung di projectnya yang lain *NgareppbenerrJ

Sebelum memaparkan sedikitnya 9 materi –yang, lumayan memeningkan kepalaJ- pada training tersebut, ada baiknya kita berkenalan sedikit dengan HCC . HCC (Horti Chain Centre) merupakan sebuah Business Support Organization yang di gagas oleh Pemerintah Belanda di Indonesia. HCC berada di bawah institusi INA (Indonesia – Netherland Association). HCC didirikan untuk mendorong hubungan yang lebih baik antara produsen lokal Indonesia dengan pasar modern baik domestik maupun Internasional. Beberapa Project yang pernah dilaksanakan HCC antara lain:

  1. Value Chain Analysis-Bottlenecks and Opportunities for Export
  2. Value Chain Analysis-Food Ingredient
  3. GIS Mapping for Cassia Vera in Kerinci, Jambi – Sumatera
  4. Baseline Survey Cassia Vera in Kerinci, Jambi – Sumatera

 

Sedangkan Pelayanan yang provided by HCC antara lain:

  1. Baseline Study and Impact Assesment
  2. Value Chain Analysist
  3. Assistance for Preparation of Global GAP Certification
  4. GIS Mapping
  5. Quality Management System
  6. Market development
  7. Institutional Development

Well, setelah mengetahui sedikitnya tentang HCC, mari kita simak apa yang didapat dari training selama 2 hari  itu… *Let’s CekidotJ

Materi 1 – 8 disampaikan oleh : Ibu Caecilia Afra Widyastuti (Director of Horti Chain Centre)

Materi 9 disampaikan oleh: Pak Iskandar Zulkarnain (Manager of Applying Techology of Horti Chain Centre)

 

1.      PENDAHULUAN TENTANG M4P (MAKING MARKET WORKING FOR THE POOR)

Tujuan dari konsep M4P ini adalah memposisikan kaum miskin di pusat pengembangan ekonomi. Cara yang paling mudah untuk memahami konsep ini adalah dengan membandingkannya dengan pendekatan konvensional. Secara singkat, elemen kunci dari pendekatan M4P adalah:

  •  Rasional dan Tujuan
  • Kerangka Kerja untuk memahami dan Keberlanjutan
  • Petunjuk untuk Aksi dan Intervensi

Contoh Perbandingan Proyek Konvensional dan M4P di Negara Afrika:

 

Terlihat jelas dari perbedaan diatas bahwa proyek B lah yang lebih efektif karena melakukan pendekatan M4P dengan pelakun NGO/LSM sedangkan proyek A merupakan tipe proyek konvensional –yang notabene biasa dilakukan pemerintah,L-

 

Jadi, Inti dari M4P adalah:

Rasionalitas Kerangka Kerja Pedoman
Tujuan: Sistem pasar yang lebih efektif termasuk untuk kaum miskin Memahami sistem pasar yang lebih membumi seccara detail,

Gambaran keberlanjutan dibentuk dengan justifikasi secara terbuka

Intervensi yang fleksibel, multi-faceted ke pasar yang jenuh dengan sentuhan ringan, tidak langsung dan bersifat fasilitasi.

 

Perbedaan Pendekatan M4P dengan Pendekatan Konvensional

Konvensional M4P
Masalah apa yang dihadapi oleh usaha? Masalah apa yang dihadapi oleh usaha?
Bagaimana saya dapat membantu untuk memecahkan masalah? Mengapa sistem pasar tidak menyediakan solusi untuk masalah tersebut?
  …. Mengapa pasar tidak bekerja untuk masy miskin?

 

Desain Interverensi dan Implementasi

  • Tipe pendekatan konvensional lebih kepada dukungan umum untuk a) Perubahan Makro dan b) Dukungan langsung yg diberikan untuk kelompok sasaran, sedangkan pendekatan M4P lebih focus dan detail memahami masalah sehingga dapat menentukan intervensi yang tepat.
  • Tipe pendekataan M4P memiliki dukungan khusus ditujukan untuk menjawab kendala pasar melalui interverensi sedikit (terbatas, focus, fasilitatif). Interverensi tidak langsung, berdasarkan pada penyelidikan, pengaruh.

 

 

 

 

Dalam hal ini, Pelaku Fasilitator harus mampu mendorong dan memotivasi berbagai pihak lain untuk terlibat langsung, tidak sebagai penonton. Misalnya pada kasus Sugar Palm yang akan menjadi baseline project, masalah yang dihadapi adalah Palm sugar yang ada masih berbau asap dan itu tidak sesuai standard pasar Internasional. Oleh karenanya fasilitator harus mendorong, memotivasi, dan mendampingi agar para petani dapat menemukan cara yang tepat untuk menghilangkan bau asap yang ada.

 

2.      PENGERTIAN ANALISA SS DAN RANTAI NILAI

Mengapa Analisa Sektor dan Rantai Nilai?

  • Pemahaman pasar sebagai inti M4P
  • Pasar adalah kajian yang kompleks dan pemahaman pasar membutuhkan keahlian khusus
  • Analisa SS dan rantai Nilai adalah alat yang berguna untuk memahami pasar lebih baik
  • Semakin baik kita memahami pasar khusus, maka semakin baik kita mendesain intervensi yang tepat.

Pengertian Analisa SS dan Rantai Nilai

Subsektor adalah seluruh pemain usaha yang saling berhubungan, dimana ada proses membeli dan menjual untuk menawarkan suatu produk atau layanan jasa sampai ke konsumen akhir. Setiap subsektor dapat dilihat dari alur berikut:

 

Rantai nilai dapat diartikan sebagai berikut:

  • Rangkaian proses dari input produk yang khusus ke produksi primer, transformasi, pemasaran sampai konsumen akhir.
  • KOordinasi dan menghubungkan pengaturan kelembagaan produksen, pengolahan, pedagang dan distributor produk tertentu.
  • Model ekonomi yang menggabungkan seleksi produk dan teknologi yang tepat dengan membentuk organisasi yang menghimpun para pelaku untuk akses pasar.

Jadi, fasilitator memiliki peran untuk menyampaikan rantai nilai yang ada kepada petani produsen agar terjadi tranparansi. Agar petani mengetahui bahwa setiap subsector memiliki resiko masing-masing dalam proses pengelolaan produk untuk sampai kepada konsumen. Semakin besar pendapatan yang dihasilkan, semakin besar pula resiko yang harus ditanggungnya.

 

3.      ANALISA SUB SECTOR

Alat yang dapat digunakan untuk analisa sub sector antara lai:

  1. Kuisioner dengan pertanyaan terbuka dan tersturuktur
  2. Wawancara kelompok
  3. Workshop untuk validasi dan diseminasi
  4. Diskusi kelompok
  5. Data sekunder – publikasi, laporan, internet
  6. Observasi

Analisa Sub Sektor

Pemain Subsektor:

  • Penyedia Saprodi
  • Produsen (petani)
  • PEdagang besar/Pengecer
  • Eksportir
  • Importir

Kegunaan mewawancarai semua pemain pasar

  • Mendapat gambaran keseluruhan dari pasar
  • Dapat membayangkan dimana masala utama dan mengidentifikasi interverensi yang dibutuhkan
  • Menyediakan informasi kecenderungan keseluruhan pasar
  • Mengidentifikasi institusi yang bisa menyediakan jasa pelayanan

 

4.      PETA SUB SEKTOR

Adalah gambaran skematis dari struktur sub sector. Peta sub sector menunjukkan bagaimana produk mengalir dalam sistem tersebut. Peta sub sector juga menunjukkan alternative saluran suplai. Saluran adalah rantai vertical dari bentuk yang mentransformasi bahan mentah dan menyampaikan ke konsumen dalam bentuk barang jadi.

Mengapa peta sub sektor penting??

  • Membantu identifikasi pemain pasar untuk wawancara
  • Menyediakan gambaran grafis dari pemain utama dan hubungannya

 

Petunjuk Tentang Peta Sub Sektor:

  • Bagian sebelah kiri Peta menunjukkan fungsi
  • Tinggi mennunjukkan berapa besar kinerja dari para pelaku usaha tsb
  • Peta mempersatukan para actor, mereka beli dimana
  • Tanda Panah menunjukkan arus produk diantara para actor
  • Garis vertical yang putus-putus menunjukkan kontras penjualan
  • Titik menunjukkan titik pertemuan
  • Lebarnya bentuk dari actor mencerminkan ukuran relative untuk setiap saluran

“ukuran dapat dihubungkan dengan banyaknya actor, nilai penjualan/volume produksi”

 

5.     IDENTIFIKASI HAMBATAN DAN PELUANG

Jenis hambatan / peluang:

  • Pengelolaan dan organisasi
  • Akses Pasar
  • Pengembangan teknologi dan produk
  • Penyediaan sarana produksi
  • Kebijakan
  • Keuangan
  • Infrastruktur

 

6.      IDENTIFIKASI BSD

Penyedia Layanan Usaha yang berkelanjutan biasanya dilakukan oleh sector swasta, berperan untuk memperbaiki kinerja usaha, akses pasar dan kemampuan untuk berkompetisi.

Identifikasi BSD dilakukan untuk:

  • Memastikan solusi berkelanjutan terhadap kendala
  • Menghindari distorsi pasar
  • Memperluas capaan memalui ejumlah penyedia layanan
  • Memaksa untuk melihat dimana BSD yang sudah ada di sector swasta

 

Contoh penyedia layanan usaha:

  • Organisasi penyedia jasa swasta
  • Aktor rantai nilai
  • Asosiasi bisnis
  • Broker
  • LSM
  • Pemerintah

 

7.      INTERVENSI PROGRAM

Kriteria pemilihan intervensi:

  • Apakah daya debar dampaknya luas?
  • Apakah biaya intervensi efektif?
  • Berapa jumlah UKm yg diuntungkan?
  • Peluang intervensi untuk jadi jasa pelayanan yang berkelanjutan
  • Kapasitas jasa pelayanan untuk mengelola intervensi
  • Waktu yang dibutuhkan untuk intervensi
  • Ketersediaan sumberdaya
  • Sinergi intervensi
  • Kemampuan untuk promosi hubungan saling menguntungkan antara UKM dan perusahaan besar

 

8.      MONITORING DAN EVALUASI PROGRAM

Monitoring merupakan proses yang penting karena berfungsi sebagai: 1) untuk meningkatkan kinerja sebagai proyek 2) pembuktian impact ke donor dan stakeholder lain 3) untuk menyebarluaskan temuan kepada dunia luar.

Pengukuran kinerja dapt dilakukan pada tingkatan yang berbeda, yakni:

  • Tingkat layanan pasar: kesadaran, pemahaman, kegunaan, kepuasan, hal memiliki, keberlanjutan.
  • Tingkat usaha: studi daya saing dengan pengukuran produktivitas dan kualitas jasa untuk pasar jasa
  • Tingkat kemiskinan

 

9.      RAPID DIAGNOSTIC APPRAISAL

Tujuan

  • Memahami pendekatan yang tepat untuk analisa SC/VC
  • Dapat melakukan analisa SC/VC dengan melibatkan chain actor sebagai expert

RDA merupakan sebuah proses dan cara yang dapat digunakan untuk mempelajari situas, kondisi dan persepsi dari berbagai chain actor.

Metode RDA:

  • Wawancara Semi terstruktur
  • Pemeriksaan faktor kunci
  • Studi kasus dan Cerita
  • Dinamika kelompok
  • Pemetaan
  • Kalender Musim
  • Triangulasi

Prinsip RDA:

  1. Cepat, pembelajaran progresif
  2. Penukaran peran: Petani adalah ahli
  3. Triangulasi
  4. Kontak secara langsung

Team RDA terdiri dari:

  • Seorang facilitator/ pewawancara

–     Memastikan bagaimana sebaiknya responden ditanya

–     Menjelaskan tentang team, tujuan dan jadwal

–     Mengajukan pertanyaan

–     Membuat responden merasa nyaman

  • Seorang pencatat

–     Mencatat semua pembicaraan

–     Memastikan semua terdokumentasi dengan baik

  • Seorang observer

–     Memperhatikan jadwal

–     Merekam proses dan mengingatkan

–     Dapat membantu pewawancara bila memungkinkan

  • Latar belakang anggota team terdiri gender, umur, suku dsb yang berbeda (bila mungkin)

 

Toolbox:

  • Dialogical analysis

–     Wawancara,  diskusi,  cerita lisan, pemaparan

  • Temporal analysis

–     Riwayat, musim, pola sehari-hari

  • Spatial analysis

–     Peta, model, sket kebun/lahan

  • Systems analysis

–     Sebab dan akibat, dampak

  • Institutional analysis

–     Aturan kelembagaab, interaksi

  • Well-being analysis

–     Perbedaan sosial di dalam dan di antara kelompopk.

  • Preference analysis

–     Preferensi, persepsi

Yap.. Akhirnya berakhir juga 9 materi trainingnya saudara-saudara *lap keringat, fiuhh*..

Materi-materi ini luar biasa menurut saya, bisa jadi pedoman buat penelitian juga lhoJ.. Semoga bisa bermanfaat buat kita semua..

 

We’re the Champion ^^

 

Salam Champ(ion) ^0^

“A”

16/09/2012

7:52 PM

Praktik Lapang itu . . .


Bismillahirrahmanirrahim…

It’s the PL time.. Terhitung mulai tanggal 4 September 2012 saya melakukan praktik lapang di bilangan daerah Banjaran, Kabupaten Bandung.

Praktik lapang ini merupakan  kegiatan diluar bangku  kuliah yang harus dilaksanakan oleh mahasiswa Prodi Agribisnis Fakultas Agribisnis dan Teknologi Pangan Universitas Djuanda yang berbobot 4 SKS.

Awalnya, target komoditas PL saya adalah Kajian Agribisnis Ikan Sidat (Anguilla sp.), namun karena terkendala satu dan lain hal, PL di Perusahaan Jepang yang mengelola ikan Sidat ini tak jadi dilaksanakan. *Sedih, pake banget sebenernyaL* karena komoditas ini adalah yang paling saya minati. Karakteristik ikan ini yang langka dan sedang gencar-gencarnya diburu para eksportir membuat ikan ini menjadi primadona. Apalagi, salah satu sumber elver (benih) ikan sidat yang melimpah, ada di perairan Pelabuhanratu-Sukabumi. Sekali lagi, Pelabuhanratu –baca, my hometown-.. Saat komoditas unggulan yang berada di kampung halaman sendiri tidak dapat diteliti, rasa … *aduh, nyeseklah!!!*

Tapi, well.. Qadarullah.. Yakin, Insya Allah ada hikmahnya.. Apapun itu, I just believe.. Jadilah akhirnya saya memilih Kajian Agribisnis Komoditas Kentang (Solanum tuberosum) di PT. Alamanda Sejati Utama Bandung. Disana, saya melaksanakan PL dengan neng Ima yang memilih komoditas buncis untuk dikaji.

Perjalanan ke Bandung kami mulai pada Selasa pagi. Ditemani dengan fajar yang baru saja menyunggingkan senyumnya, kami menunggu bus Jurusan Cianjur-Bandung di depan Asrama Haji Cianjur. Perjalanan dilanjut dengan rute Leuwipanjang – Banjaran, dan akhirnya kami sampai di tempat tujuan sekitar pukul 11 pagi.

di jalan menuju kota kembang

Sesampainya di Banjaran, kami mendatangi tempat kost yang sebelumnya pernah kami datangi. Tapi ternyata, di tempat ibu kost yang ini, kondisi perairannya sedang tidak baik. Si ibu khawatir, kami akan sangat kesulitan untuk mandi atau mencuci atau bahkan sekedar wudhu.

“Da ayeuna mah neng, ibu oge sok nyuhunkeun cai ka pabrik, sesah tea ning..” kata si Ibu menjelaskan.

Kami menghela, langsung berfikir cari alternative tempat kost. Tapi ternyata ibunya baik dan pengertian, beliau melobi keponakannya yang memiliki sepetak kamar untuk bisa kami sewa. Dan tempatnya masih dekat dengan pabrik, cukup jalan kebelakang sebentar dari rumah si Ibu tadi. Kami menunggu sekitar sejam-an, dan ibu ini berhasil menyewakan kami satu kamar mungil yang dapat kami tempati. Alhamdulillah J

Ibu pemilik kost-an yang biasa kami panggil bu Ai pun, baiknya luar biasa. Beliau orangnya pendiam, saat kami datangpun beliau hanya menghaturkan senyum untuk menyambut kami lalu kembali dengan kesibukannya. Tapi setelah beberapa hari tinggal, Alhamdulillah kami merasakan kebaikannya.. Saat beliau mengetahui kami tengah melaksanakan shaum, beliau senang sekali dan kerap kali memasakkan kami makanan untuk berbuka shaum.. Alhamdulillah lagi, terus, selalu J

Kini, 2 minggu sudah kami berada di tempat PL.. banyak hal yang kami lakukan dan yang menjadi pembelajaran bagi kami. Para staff dan pegawai PT. Alamanda sangat welcome dan humble pada kami mahasiswa PL. Hal ini membuat kami kerasan dan betah berada di kawasan Pabrik. Agenda awal yang kami lakukan adalah menyisir bangunan apa saja yang ada disini. Setidaknya ada 3 jenis bangunan yang dimiliki perusahaan, yakni Perkantoran, Warehouse, dan Gudang alat bahan bantu. Ah iya, Perusahaan juga memiliki kebun percobaan seluas 2 ha yang ditanami oleh kacang Kenya, chaesyim, dan pakcoy. Fasilitas yang dimiliki PT. Alamanda diantaranya Reefer truck (6 unit), teknologi Green House, Netting House dan Cold Storage. Sebagai tambahan, sejauh ini perusahaan eksportir Indonesia yang memiliki sistem cold storage (Sistem rantai pendingin) yang bertujuan untuk menjaga kualitas produk tetap segar sampai ke konsumen akhir hanya PT. Alamanda.

PT. Alamanda

Kegiatan yang intens dilakukan adalah kegiatan yang dilaksanakan di warehouse. Total komoditas yang diusahakan PT. Alamanda sekitar 32 jenis buah-buahan dan sayuran. Kegiatan di Warehouse merupakan kegiatan pengolahan produk sebelum akhirnya di distribusikan kepada buyer yang ada di Singapore.

Adapun pola alur pengolahan kentang di warehouse antara lain:

  1. Penerimaan kentang dari petani supplier yang ada di Pangalengan atau Wonosobo. Kentang dimasukkan ke dalam Force Air Cooling untuk didinginkan agar suhu kentang normal (00C-50C).
  2. Kentang  (abras) ditimbang untuk mencocokkan dengan surat jalan dari supplier kepada PT.
  3. Kentang disortir berdasarkan gradennya. Jenis grade: Grade XL, Medium, Mini dan Baby Potato
  4. Kentang ditimbang kembali berdasarkan masing-masing gradenya
  5. Kentang ditimbang untuk dipacking sesuai ukuran permintaan buyer (ex: 1 kg/500 gr/750 gr)
  6. Kentang dimasukkan ke dalam plastic sesuai grade dan buyernya, di sealer dan dimasukkan ke dalam box.
  7. Setelah packing selesai, potato disusun dan dimasukkan ke container untuk selanjutnya dikirim ke Singapore by sea.

Alur pengolahan kentang di Warehouse PT. Alamanda

Sebagian besar pasar utama dari produk PT. Alamanda Sejati Utama adalah Rantai Supermarket yang ada di Singapore diantaranya:

  1. NTUC Fair Place
  2. Cold Storage
  3. Shop and Save
  4. Giant
  5. SATS
  6. QNQ enterprise PTE. LTD
  7. Eastern Green
  8. Fresh Direct
  9. PT. Alamanda Singapore
  10. HAiro
  11. Derick PTE. LTD

beberapa dari sekian jenis produk yang di ekspor Alamanda *menggiurkan, eh?:)

Di Netting House PT. Alamanda

seru-seruan sama ibu-ibu pekerja di grup sayuran akar ^^

Well then, itu dulu yang dapat saya ceritakan tentang kegiatan PL saya di bilangan kabupaten Bandung ini. Most of All, saya harap kegiatan PL ini dapat berlangsung dengan lancar sampai akhir *Angkat kedua tangan, say: AamiinJ*.

Jauh di lubuk hati saya, ada satu kalimat yang gregetan ingin segera dikeluarkan: “ oh, jadi gini ya Agribisnis teh, interesting enough.. “. Seperti menemukan lilin dalam kegelapan, saya harap Allah selalu membimbing dan mengarahkan saya agar kecintaan dan passion saya terhadap dunia agribisnis ini semakin tumbuh subur.. Karena tanpa terasa, sebentar lagi sidang PL, kemudian kolokium, terus penelitian, lalu skripsi dan akhirnya lulus.. Setidaknya, saya ingin,, ingin sekali menebar kebermanfaatan kepada masyarakat dari ilmu yang telah saya timba selama kurang lebih empat tahun itu..

Ya Allah,, tumbuh suburkan kecintaanku pada dunia agribisnis ini, dan jadikanlah aku bermanfaat di dalamnya..” Aamiin T_T

 

With Entirely Spirit and Hope,

16 September 2012,

“A”

“PENYAJIAN KOMUNIKASI PERTANIAN YANG EFEKTIF DALAM KEGIATAN PENYULUHAN ”


BAB I

                                                       PENDAHULUAN

1.1       Latarbelakang

Penyuluhan pertanian didefinisikan sebagai suatu sistem pendidikan di luar sekolah untuk keluarga-keluarga tani di pedesaan, di mana mereka belajar sambil berbuat untuk menjadi mau, tahu dan bisa menyelesaikan sendiri masalah-masalah yang dihadapinya secara baik, menguntungkan dan memuaskan (Wiriaatmaja, 1986).

Dalam kegiatan penyuluhan pertanian, komunikasi menjadi sebuah faktor penting yang dapat menunjang tercapainya tujuan-tujuan penyuluhan. Disini, komunikan dituntut untuk memiliki sebuah strategi komunikasi agar objek penyuluhan dapat menerima pesan dengan baik dan tidak terjadi missunderstanding dalam proses penyuluhan ini.

Setiap petani di suatu daerah pertanian memiliki karakteristik yang berbeda-beda, oleh karenanya penyajian komunikasinya pun perlu disesuaikan dengan daerah masing-masing petani. Para petani yang masih berada di daerah pedesaan yang terisolir tentunya lebih efektif jika diberikan penyuluhan dengan metode dialog dua arah serta pendekatan interpersonal. Terdapat korelasi positif yang nyata antara kompetensi komunikasi yang dimiliki oleh penyuluh terhadap perilaku petani dalam mengelola sumber daya yang dimiliki. Selain faktor keterisoliran dan kompetensi komunikasi, strategi komunikasi pun berpengaruh terhadap efektifitas komunikasi. Hal ini didukung oleh terbagi-baginya tipe penerima respon penyuluhan, mulai dari kelompok inovator; early adopter, early mayority, late adopter dan kelompok penolak inovasi yang bersifat apatis (lagger).

Oleh karenanya, diperlukan sebuah kajian mendalam untuk mengetahui bagaimana seharusnya penyajian komunikasi pertanian yang efektif dalam kegiatan penyuluhan terhadap ragam petani yang tersebar di berbagai daerah agar para petani dapat tercerahkan dan berkembang cara berpikirnya.

 

1.2       Rumusan Masalah

Dari latarbelakang diatas penulis dapat merumuskan beberapa masalah, antara lain:

  1. Bagaimana penerapan komunikasi pertanian yang efektif dalam kegiatan penyuluhan?
  2. Apa hambatan-hambatan komunikasi pertanian yang terjadi pada kegiatan penyuluhan pertanian?
  3. Apa faktor-faktor penunjang komunikasi pertanian yang efektif?

1.3       Tujuan

Adapun penyusunan tulisan ini bertujuan untuk :

  1. Mengetahui sejauh mana keefektifan komunikasi pertanian yang diterapkan para penyuluh pada kegiatan penyuluhan.
  2. Mengetahui faktor-faktor pendukung komunikasi pertanian yang efektif dalam kegiatan penyuluhan pertanian dan mampu mengaplikasikannya di lapangan.
  3. Menggali pengetahuan dan potensi penulis mengenai tipe-tipe komunikasi, khususnya komunikasi pertanian dan
  4. Mampu mengimplementasikan tahap-tahap komunikasi pertanian yang efektif dalam dunia pertanian.


BAB II

PEMBAHASAN

 

Proses Komunikasi

Theodornoson dan Theodornoson (1969) seperti  diacu dalam Bungin (2007) memberi batasan lingkup communication berupa penyebaran informasi, ide-ide, sikap-sikap, atau emosi dari seorang atau kelompok kepada yang lain (atau lain-lainnya terutama melalui simbol-simbol. Dipertegas Effendy (2000) yang mengatakan komunikasi sebagai proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Pikiran bisa merupakan gagasan, informasi, opini dan lain-lain yang muncul dari benaknya. Perasaan bisa berupa keyakinan, kepastian, keraguan, kekhawatiran, kemarahan, keberanian, kegairahan dan sebagainya yang timbul dari lubuk hati. Definisi lain tentang komunikasi (Berlo 1960; Kincaid & Schramm 1987; Rogers 2003) ialah proses penyampaian informasi atau pesan dari sumber kepada penerima, dengan tujuan timbulnya respons dari penerima sehingga melahirkan kesamaan makna.

Dalam proses komunikasi terdapat  lima komponen atau unsur penting yang harus kita perhatikan yaitu: sender, massage, delivery channel atau media, receiver dan efect/umpan balik (feedback).  Melalui proses komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain. Akan tetapi, komunikasi hanya akan efektif apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesan tersebut.

Komunikasi Pembangunan

Nasution (2004) mengutip pernyataan Hedebro tentang tiga aspek komunikasi dan pembangunan yang berkaitan dengan tingkat analisisnya.  Ketiga aspek tersebut meliputi hal berikut: (i) Pendekatan yang berfokus pada pembangunan suatu bangsa, dan peran media massa menyumbang upaya tersebut. Di sini, politik dan fungsi-fungsi media massa dalam pengertian yang umum merupakan objek studi, sekaligus masalah-masalah struktur organisasional dan pemilikan, serta kontrol terhadap media. Untuk studi jenis ini, digunakan istilah kebijakan komunikasi dan merupakan pendekatan yang paling luas dan bersifat umum; (ii) Pendekatan untuk memahami peranan media massa dalam pembangunan nasional, namun lebih jauh spesifik. Persoalan utama dalam studi ini adalah penggunaan media agar dapat dipakai secara efisien, untuk mengajarkan pengetahuan tertentu bagi masyarakat suatu bangsa; dan (iii) Pendekatan yang berorientasi kepada perubahan yang terjadi pada suatu komunitas lokal atau desa. Studi jenis ini mendalami bagaimana aktivitas komunikasi dapat dipakai untuk mempromosikan penerimaan yang luas akan ide-ide dan produk baru.

Hasil penelitian Kifli (2007) tentang strategi komunikasi pembangunan pada komunitas dayak di Kalimantan Barat menemukan bahwa berbagai bentuk materi komunikasi yang selama ini tersedia, ternyata belum dapat dipahami atau diakses dengan optimal oleh orang Dayak. Materi komunikasi dari luar baik berupa materi tercetak maupun elektronik, seperti brosur, leaflet, majalah atau program radio dan televisi, tidak dapat diakses. Kendala dari sisi fisik disebabkan karena keterisoliran geografis, sedangkan kendala sisi bahasa menyebabkan mereka tidak dapat memahami isi (content)yang terkandung di dalamnya.  Konsep dan strategi pembangunan yang cenderung seragam, belum mampu menjangkau komunitas Dayak secara memadai. Berbagai asumsi dan prasyarat penerima (receiver)dari kebijakan strategi komunikasi tersebut tidak mampu dipenuhi oleh sebagian masyarakat, termasuk oleh masyarakat Dayak.  Penelitian Amanah (2007) tentang pengembangan masyarakat pesisir mengungkap pula bahwa terdapat korelasi positif yang nyata antara kompetensi komunikasi yang dimiliki oleh penyuluh terhadap perilaku masyarakat pesisir dalam mengelola sumber daya pesisir yang dimiliki. Selain faktor keterisoliran dan kompetensi komunikasi, strategi komunikasi pun berpengaruh terhadap efektifitas komunikasi.

Harris (Bessete & Rajasunderam 1996) menyatakan bahwa pendekatan komunikasi pembangunan partisipatif perlu dikembangkan untuk mengembangkan masyarakat di tingkat bawah melalui pendekatan pendidikan non formal. Terkait dengan pendekatan pembangunan yang diterapkan di Indonesia, Waskita (2005) mencermati bahwa pembangunan sampai saat ini masih terlalu berfokus pada hal-hal fisik dan terukur. Hal ini pada gilirannya, berkontribusi terhadap model komunikasi yang dianut cenderung menunjukkan pola interaksi yang terbatas dan berkaitan dengan kekuasaan dan pelayanan.  Alternatif model komunikasi yang diusulkan adalah komunikasi dialogis antar orang yang terlibat dalam proses pembangunan.

 

            Pemberdayaan

Pemberdayaan memiliki berbagai interpretasi, pemberdayaan dapat dilihat sebagai suatu proses dan program. Payne (1997) mengemukakan bahwa pemberdayaan (empowerment) pada hakekatnya bertujuan untuk membantu klien mendapatkan kekuatan (daya) untuk mengambil keputusan dan tindakan yang akan dilakukan dan berhubungan dengan diri klien tersebut, termasuk mengurangi kendala pribadi dan sosial dalam melakukan tindakan.  Pemberdayaan dilakukan dengan jalan meningkatkan kapasitas, pengembangan rasa percaya diri untuk menggunakan kekuatan dan mentransfer kekuatan dari lingkungannya. Sebagai suatu proses, pemberdayaan adalah usaha yang terjadi terus menerus sepanjang hidup manusia.

Bowling dan Barbara (2002) mengemukakan bahwa program penyuluhan dapat membentuk perubahan perilaku melalui prinsip berbagi pengetahuan, dan pengalaman dengan masyarakat.  Bersama–sama masyarakat, dapat dilakukan berbagai kegiatan yang mengarah pada pembentukan perilaku masyarakat.  Pemberdayaan sebagai sebuah program mempunyai makna bahwa pemberdayaan merupakan tahapan–tahapan kegiatan untuk mencapai suatu tujuan dalam kurun waktu tertentu.  Dalam konteks ini, pelaksanaan program pemberdayaan dibatasi waktu, sehingga tampak sebagai kegiatan keproyekan.  Kondisi seperti ini tentu tidak menguntungkan bagi pelaksana program maupun komunitas target, karena sering terjadi kegiatan terputus di tengah jalan dan kurangnya koordinasi antar lembaga yang terlibat dalam program.

Van Den Ban (1999) mengungkapkan bahwa peranan berbagai program penyuluhan sebagai implementasi komunikasi pembangunan adalah dengan membantu petani untuk mengambil keputusan sendiri dengan cara menambah pilihan bagi mereka, dan dengan cara menolong mereka mengembangkan wawasan mengenai konsekuensi dari masing-masing pilihan tersebut. Upaya pemberdayaan ini perlu memahami struktur sosial masyarakat, tidak hanya melihat aspek ekonomi atau teknologi saja, melainkan juga aspek sosial-budaya perlu diperhatikan, sehingga program tidak lagi hanya bersifat “ingin cepat selesai.”

Strategi komunikasi pembangunan pertanian harus berfokus pada  peningkatan kemampuan petani dalam pengelolaan teknologi pertanian, penguatan kapasitas permodalan, kemampuan pengelolaan keuangan dan yang paling urgen adalah perubahan sikap dan perilaku yang positif memanfaatkan kekayaan alam, baik kekayaan darat maupun bahari.

Komunikasi Pertanian yang Efektif

Komunikasi pertanian menjadi sebuah kebutuhan dalam tugas seorang penyuluh pertanian. Peranan komunikasi pertanian menjadi sangat penting dalam memajukan dan meningkatkan kesejahteraan petani beserta keluarga tani. Penyampaian informasi pertanian akan semakin efektif bila kita memahami bagaimana sebenarnya konsep penyuluhan pertanian yang baik dan tepat sehingga mampu tepat sasaran.

Penerapan komunikasi pertanian efektif dapat dilaksanakan dengan tiga metode, antara lain: (1) Metode pendekatan  kelompok, dimana dilakukan pengelompokkan petani berdasarkan lokasi tempat tinggal atau hamparan sawah; (2) Metode pendekatan  massa, biasanya dilakukan secara massa dengan tujuan target seluruh khalayak ramai dan menggunakan media informasi seperti:tv, radio, dsb ; (3). Metode pendekatan  individu, dimana penyuluh dapat melakukan komunikasi dialogis terhadap petani an informasi yang disampaikan pun lebih tepat sasaran dan terarah, hanya saja sasarannya terbatas.

Syarat utama dalam komunikasi efektif adalah karakter yang kokoh yang dibangun dari fondasi integritas pribadi yang kuat, disertai dengan kepercayaan pada orang lain. Covey mengusulkan ada lima hal utama yang dapat menambah kekuatan emosi dalam menjalin hubungan  dengan sesama yaitu :

1. Berusaha benar-benar mengerti orang lain

Ini adalah dasar dari apa yang disebut emphatetic communication- (komunikasi empatik). Ketika  berkomunikasi dengan orang lain, kita mungkin mengabaikan orang itu dengan tidak serius membangun hubungan yang baik. Kita mungkin berpura-pura. Kita mungkin secara selektif berkomunikasi pada saat kita memerlukannya, atau kita membangun komunikasi yang atentif (penuh perhatian) tetapi tidak benar-benar berasal dari dalam diri kita.

Bentuk komunikasi tertinggi adalah komunikasi empatik, yaitu melakukan komunikasi untuk terlebih dahulu mengerti orang lain – memahami karakter dan maksud/tujuan atau peran orang lain.
Kebaikan dan sopan santun yang kecil-kecil begitu penting dalam suatu hubungan – hal-hal yang kecil adalah hal-hal yang besar.

2. Memenuhi komitmen atau janji

3. Menjelaskan harapan

Penyebab dari hampir semua kesulitan dalam hubungan berakar di dalam harapan yang bertentangan atau berbeda sekitar peran dan tujuan. Harapan harus dinyatakan secara eksplisit.

4. Meminta maaf

5. Integritas

Integritas merupakan fondasi utama dalam membangun komunikasi yang efektif. Karena tidak ada persahabatan atau teamwork tanpa ada kepercayaan (trust), dan tidak akan ada kepercayaan tanpa ada integritas. Integritas mencakup hal-hal yang lebih dari sekadar kejujuran (honesty). Kejujuran mengatakan kebenaran atau menyesuaikan kata-kata kita dengan realitas. Integritas adalah menyesuaikan realitas dengan kata-kata kita. Integritas bersifat aktif, sedangkan kejujuran bersifat pasif.

 

Prinsip dasar yang mempengaruhi komunikasi:

1. Faktor Teknis

2. Faktor Perilaku

Bentuk dari perilaku yang dimaksud adalah perilaku komunikan yang bersifat : pandangan yang bersifat apriori, prasangka yang didasarkan atas emosi, suasana yang otoriter, ketidak mampuan untuk berubah vvalaupun salah, sifat yang egosentris.

3. Faktor Situasional

Kondisi dan situasi yang menghambat komunikasi misalnya situasi ekonomi, sosial, politik dan keamanan

4. Keterbatasan Waktu

Sering karena keterbatasan waktu orang tidak berkomunikasi, atau berkomunikasi secara tergesa-gesa, yang tentunya tidak akan bisa memenuhi persyaratan-persyaratan komunikasi.

5. Jarak Psychologis/status social

Jarak psychologis biasanya terjadi akibat adanya perbedaan status, yaitu status sosial maupun status dalam pekerjaan. Misalnya, seorang pesuruh akan sulit berkomunikasi dengan seorang menteri karena ada jarak psichologis yaitu pesuruh merasa statusnya terlalu jauh terhadap  menteri. Selanjutnya, ada orang yang hanya ingin mendengar informasi yang dia senangi saja, sedangkan informasi lainnya tidak.

6. Adanya evaluasi terlalu dini

Seringkali orang sudah mempunyai prasangka, atau sudah menarik suatu kesimpulan sebelum menerima keseluruhan informasi atau pesan. Hal ini jelas menghambat komunikasi yang baik.

7. Lingkungan yang tidak mendukung

Komunikasi interpersonal akan lebih efektif jika dilakukan dalam lingkungan yang menunjang, berikut ini beberapa contoh suasana lingkungan yang tidak menunjang atau mendukung yaitu :

  • Keadaan suhu (terlalu panas atau terlalu dingin)
  • Keadaan ribut atau bising
  • Lingkungan    fisik yang tidak mendukung (ruang terlalu sempit/ kurang keleluasaan pribadi)
  • Keadaan si komunikator
  • Keadaan fisik dan perasaan komunikator sangat berpengaruh terhadap berhasil atau gagalnya komunikasi.

 

Mengukur keefektifan komunikasi

Kita tidak dapat menilai keefektifan komunikasi bila apa yang kita maksudkan tidak jelas;  kita harus benar-benar tahu apa yang kita inginkan.  Menurut Tubbs and Moss (1999) terdapat 5 hasil utama yang dapat dijadikan ukuran bagi komunikasi yang efektif :

  1. Pemahaman
    Penerimaan cermat atas kandungan rangsangan seperti yang dimaksudkan oleh pngirim pesan.  Komunikator dikatakan efektif bila penerima memperoleh pemahaman yang cermat atas pesan yang disampaikannya.
  2. Kesenangan
    Timbulnya rasa senang dan terhibur atau mempertahankan hubungan insani
  3. Pengaruh pada sikap
  4. Hubungan yang makin baik
  5. Tindakan


BAB IV

 PENUTUP

4.1         Kesimpulan

Dalam proses komunikasi terdapat  lima komponen atau unsur penting yang harus kita perhatikan yaitu: sender, massage, delivery channel atau media, receiver dan efect/umpan balik (feedback).  Melalui proses komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain. Akan tetapi, komunikasi hanya akan efektif apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesan tersebut.

Sistem penyuluhan seharusnya berorientasi pada kegiatan mendalami dan mengembangkan perubahan perilaku masyarakat dan merupakan proses pendidikan berkelanjutan yang dilakukan dengan cara persuasif atau membujuk. Namun, hingga saat ini  tidak jarang berubah bentuk menjadi proses instruksi dengan cara paksaan. Hal ini terjadi karena kegiatan penyuluhan dilakukan dengan cara berorientasi pada kepentingan sektoral atau target pembangunan tertentu tanpa memikirkan kepentingan dan kesiapan khalayak dalam menerima berbagai tawaran perubahan tersebut.

Penerapan komunikasi pertanian yang efektif dapat dilaksanakan dengan metode pendekatan kelompok, metode pendekatan massa dan metode pendekatan individu yang tentunya harus didukung oleh strategi komunikasi yang tepat dari penyuluh.

Di sisi lain, penyajian komunikasi pertanian efektif tak terlepas dari beragam hambatan, diantaranya: lingkungan yang tidak mendukung, gangguan bahasa, keterbatasan waktu, status sosial, rintanagn fisik dan rintangan kerangka berfikir.

Oleh karenanya, para penyuluh dituntut mengoptimalisasikan perannya sebagai fasilitator, dinamisator, motivator dan inovator bagi petani di seda binaannya dengan memiliki teknik komunikasi pertanian yang efektif guna menunjang fungsi-fungsinya tersebut.

4.2         Saran

Kegiatan penyuluhan yang dilakukan di setiap wilayah Indonesia merupakan sebuah upaya untuk mendorong para produsen pertanian agar lebih giat meningkatkan produtivitasnya dengan memanfaatkan teknologi dan sarana pertanian yang ada.

Adapun saran yang dapat disampaikan guna mengpotimalisasikan penyajian komunikasi pertanian yang efektif tehadap keluarga tani antara lain:

  1. Adanya dukungan dari pemerintah terhadap program penyuluhan pertanian dengan cara mengadakan pelatihan intensif terhadap para penyuluh agar mereka terampil berkomunikasi.
  2. Peningkatan kompetensi penyuluh dan adanya sebuah social respect agar para penyuluh tidak hanya mementingkan kepentingan sektoral tapi juga memperhatikan kebutuhan dan kesiapan pihak yang akan disuluh.
  3. Adanya sistem jaringan komunikasi yang telah terinstitusionalkan (melembaga) antara penyuluh dan pihak yang disuluh sehingga keefektifan komunikasi pertanian dapat tercapai.