High Heels


Entah, karena faktor ndeso atau memang tidak biasa, saya benar-benar tidak nyaman memakai high heels. Pertama kali mencoba bertahan memakai high heel selama kurang lebih 5 jam itu di acara akad dan resepsi pernikahan kakak saya. Hasilnya? tumit kaki saya bengkak dan well… It hurt my leg so much.. Perang batin, kalau kondangan keluarga kemudian dititah pakai sepatu ini ya, pakai baju ini ya?.. *Sigh*

Somehow, we have to fight fo our choice…

Saya jadi bertanya-tanya, apakah memang cuma saya saja yg merasa kesakitan kalau pakai high heels, atau perempuan lain juga ya? Baiklah, mungkin bahasan ini kurang penting. Tapi penting bagi saya meskipun cuma sekedar berceloteh, mengungkap hikmah di balik keengganan ber”high heels” ria. In my humble opinion, sebagai perempuan, kita memang patut memerhatikan keindahan. Tapi memilih apa yang kita pakai tanpa harus menyakiti diri sendiri adalah pilihan bijak saya kira.

Yang terpenting adalah, bukan seberapa mahal atau seberapa lucu atau seberapa modis yang kita pakai. Tapi sebagaimana pakaian itu bisa menjadi sarana kita menjadi perempuan baik yang menjaga martabat. Tidak akan menjadi rendah seorang perempuan yang lebih senang memakai sendal gunung atau flat shoes. Tidak akan menjadi sangat menawan perempuan yang kemana-mana menggunakan high heels. Bijaklah pada apa yang kita pakai. Siapa tahu, itu yang akan menjadi timbangan pemberat kebaikan/keburukan kita di hari perhitungan kelak.

Just be your self.

Bisikan yang saya hujam ke diri saya sendiri dan acapkali saya coba bisikan ke saudari-saudari yang dicinta. Mencoba segenap hati berbicara lembut tentang keengganan kepada mama atau tante yang kadang, terlalu “ingin terlibat” pada apa yang kita kenakan. Semoga ya, usaha kita menyederhanakan diri dengan penggunakan pakaian dan aksesori yang tidak berlebihan ini, dapat melangitkan pahala kita untuk menemui keridhaan-Nya.

4 Maret 2014,

dalam keengganan ber”high heels”

Advertisements

Rindu (lagi)


Rindu.. rindu.. rindu..

Atas nama ukhuwah aku rindu..

Pada wajah yang teduh bergelimang cahaya

Pada pundak yang hangat senantiasa menyangga tubuh yang terasa menanggung berkilo-kilo beban..

Mereka yang tangguh, yang senantiasa menyemangati, membersamai..

Baik-baik ya disana..

Semoga Allah senantiasa mengokohkan dan membersamai pijakanmu..

yang merindu.
2.30 pm

Bertahan Karena Allah


 

Jalan Perjuangan, 23 Oktober 2012, 11.45 WIB

Siang itu mentari tersenyum begitu lebar, menebarkan sinarnya ke seluruh penjuru bumi. Teriknya pancaran sang mentari tak jua surutkan langkah pemudi berjilbab lebat itu, ia bergegas menghalau panas yang menyengat, meyusuri jalan yang ia tak tahu rimbanya, hanya berbekal secarik kertas yang berisi alamat tujuan.

“Jalan Perjuangan No. 58, hmm.. dimana ya? Sudah masuk waktu dhuhur pula. Oke ndal, kita cari mesjid dulu yuk! Kita shalat, baru lanjutkan misi kita” Ujar gadis ini sembari menundukkan kepala, mengajak ngobrol sang sandal gunung kesayangan yang baru ia beli tiga bulan lalu.

Nasya Muthmainnah namanya. Seorang gadis yang dianugerahi paras yang elok khas pemudi Jawa ini tengah mencari alamat seseorang yang akan menjadi guru spiritualnya kedepan. Kemantapan untuk ikut melingkar dalam sebuah grup pengajian ini ia dapat setelah  bercengkrama dengan salah satu kakak tingkatnya di kampus. Ditengah perjalanannya menuju  masjid, pikiran Sya terkenang dengan percakapannya yang dalam dengan sang kakak pekan lalu…

 

Pelataran Kampus Biru, 16 Oktober 2012

“Sya sayang, sendiri itu mendekatkan diri kita pada kemaksiatan.. tapi kalau berjamaah kita akan kuat dan bersemangat. Karena apa? Karena ada teman seperjuangan yang akan merangkul kita disaat semangat melemah, atau menepuk pundak kita di saat kita keliru. Maka, meski tergopoh, tetaplah berjama’ah Sya..” Ujar Kak Nay lembut.

Sya senang sekali jika ia punya kesempatan mengobrol dengan Kak Nay, ia dengan senang hati bercerita dan mengungkapkan kegelisahannya tentang segala sesuatu kepada Kak Nay. Kak Nay semacam sebuah kotak ajaibnya Sya, yang siap diisi apapun, kapanpun dan dimanapun.. Jika pertanyaan Sya terlalu banyak, terlalu menggebu atau ketika Sya sedang banyak merengek dengan alasan-alasannya, Kak Nay hanya menyunggingkan senyum, atau diam seribu bahasa. Sya tahu, itu bukan karena Kak Nay acuh terhadapnya, tapi agar ia dapat lebih banyak berkontemplasi, berpikir dan mencari, dan menjadi dewasa atas setiap keputusan yang Sya ambil. Kali ini, Sya tengah berargumen tentang keengganannya untuk mengikuti kegiatan mentoring yang direkomendasikan Kak Nay.

“Tapi kak, apa Sya pantas berada di lingkaran itu? Kan, kakak tahu sendiri, Sya masih seperti ini. Masih belum bisa menjaga diri Sya, masih belum bisa mengabaikan perhatian-perhatian kecil dari lawan jenis. Masih  permisif dengan membalas sms-sms tak penting dari teman-teman lawan jenis Sya, bahkan kalau itu diatas jam 9 malam.. Masih suka kumpul-kumpul dengan teman lawan jenis. Sya tahu itu salah kak. Sya juga malu atas diri Sya ini..” rintih Sya dengan mata berkaca.

Mendengar keluhan Sya, Kak Nay tersenyum, seperti biasa, hingga membuat perasaan Sya semakin tak karuan..

“Benar nih Sya malu?”

“Sangat Kak, apalagi Sya  sudah berjilbab begini.. Meskipun Sya baru berhijrah tiga bulan lalu, Sya tahu Sya harusnya bisa menjaga akhlak Sya jadi lebih baik lagi.. Kalau seperti ini terus, Sya pasti akan dan telah mencoreng predikat seorang akhwat. Dan Sya tidak mau itu terjadi..”

Kak Nay terdiam, menghela napas panjang, diam lagi. Hening. Sejurus kemudian keluarlah kata-kata dari mulutnya..

“Sya sayang tahu apa yang kakak suka dari Sya?” Tanya Kak Nay dengan mata berbinar. Sya menggeleng.

“Sya, adalah adik yang paling tinggi ghirohnya, paling tanggap dalam merespon seruan. Paling bersemangat intinya. Dari sekian banyak adik-adik di kampus yang diajak berjilbab, hanya Sya yang langsung merespon. Sya tergolong akhwat yang berakselarasi dalam berhijab. Sya hanya butuh waktu seminggu untuk berhijrah dari tidak berjilbab hingga akhirnya bisa beratribut lengkap seperti sekarang ini.. Kalau kakak, dulu butuh proses satu semester lho Sya, untuk mengibarkan sang jilbab lengkap dengan manset dan kaos kakinya.. Ah, perjuangan sekali lah.. Tapi, tahu tidak apa yang lebih penting dari itu semua?” Sya menggeleng lagi, membiarkan Kak Nay mengalirkan kalimatnya..

“Istiqamah Sya.. Istiqamahlah yang paling penting dari hijrah yang kita lakukan.. Setelah kita memutuskan untuk berjilbab dengan syar’i, akan ada banyak godaan lain atas apa yang kita putuskan. Termasuk itu, tentang hubungan Sya dengan lawan jenis yang harus dibatasi. Sya malu, itu adalah tameng agar Sya tidak melulu mengikuti hawa nafsu… Di jalan ini, kita harus bahu membahu Sya, saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran..Nah, dalam mentoring itulah kita akan memperdalam kefahaman kita akan tsaqafah islamiyyah dan salah satu wasilah untuk memperkuat keistiqamahan kita…”

 “Tapi kak, apa Sya pantas ikut mentoring?Kan, Sya masih suka membangkang ini itu..” ujar Sya, masih beralasan.

“Kalau merasa belum pantas, maka pantaskanlah.. Kita semua ini ya sedang berusaha untuk memantaskan diri dihadapanNya. Sudah merasa belum pantas, tapi tidak mau memantaskan diri, lalu maunya apa dong?” Jawab Kak Nay, tegas tapi tetap lembut. Sya jengah, hatinya terketuk, ada bulir-bulir kesadaran disana.

Sya terdiam lama.. Larut dalam pikirannya sendiri.. Ya Allah.. Bagaimana aku bisa memantaskan diri dihadapanMu? Sudah banyak kekhilafan yang pernah ia perbuat.. Lagi, dan lagi.. Tak peduli sebanyak apa ia terjatuh, Allah yang Maha Baik selalu mengulurkan  invisible handNya agar Sya bangkit lewat jalan yang tak disangkanya.. Inilah titik balik Sya, perlahan namun pasti, kata-kata indah itu terurai dari hatinya..

“Iya Kak.. Aku juga lelah, bergumul dalam kesendirian, selalu kalah oleh bisikan-bisikan yang melemahkan. Aku menuruti nafsu yang menjauhkanku padaNya, padahal batin dan hatiku menjerit jika aku melakukan apa yang seharusnya tidak aku lakukan.. Mungkin, jika aku ikut mentoring, aku bisa mengabaikan bisikan-bisikan yang melemahkan itu..” aku Sya.

“Sya bisa, jika berpikir bisa. Jadi, minggu depan siap??” Tanya Kak Nay bersemangat.

Sya mengangguk, “Yosh!!”. Malu-malu, Sya berkata lagi, “Kak, Afwan ya, aku bandel. Ternyata jadi akhwat bandel ga enak Kak, galau terus..” ungkap Sya.

Kak Nay hanya tersenyum simpul. Mendekatkan tubuh pada Sya, lalu mendekapnya erat. Ah, Sya suka langsung terharu kalau Kak Nay seperti ini. Hening. Makin lama dekapan Kak Nay makin menghangatkan tubuh. Mata Sya juga mulai berkaca. 1,2,3. Dekapan terlama yang dirasa Sya, bulir-bulir airmata itu jatuh bersama dengan hangatnya dekap Kak Nay.. “Ya Allah, nikmatNya ukhuwah ini..” desis Sya dalam hati.

Sambil mendekap adik yang disayanginya ini, Kak Nay berujar:

 “Sungguh, suatu hal yang tidak disangka-sangka, Allah mempertemukan kita di jalan ini, Sya.. Mari sama-sama berjuang, karena perjalanan ini masih panjang.. Sekeras apapun syaitan berusaha memalingkan kita dari JalanNya, bertahanlah. Jangan bandel, Kakak akan sangat sedih kalau Sya bandel. Karena Kak menyayangi Sya. Sangat. Maka, bertahanlah karena Allah, Sya..” suara Kak Nay mulai bergetar, namun terdengar jelas dan kuat.

“Kak Nay, dia menyayangiku,, sedangkan aku masih saja tak bersyukur dengan terus membangkangMu.. maafkan aku Robbi,
Sya tergugu, merintih dalam hati.

“Kak, jangan lelah mengingatkanku ya? Bantu aku kalau aku terjatuh. Meski telah berkali-kali aku jatuh” pinta Sya dalam tangis.

“Selalu.. Selalu shalihah, tak akan pernah melepaskan uluran tanganku, tak akan pernah, kecuali Allah berkehendak atas itu..” tutur Kak Nay lembut.

Dan Sya kembali tergugu.. semakin erat mendekap Kak Nay dengan berurai airmata.

 

Pelataran Masjid Al-Mukhlisin, 12.04

Tak terasa butir bening menyembul dari kelopak matanya mengingat momen yang mengharu biru itu. “Yosh.. Semangat perbaikan, Semangat mentoring!” ujar Sya sembari menyeka air mata yang menyembul di pipi gembilnya. 15 menit berjalan, akhirnya ia menemukan Masjid yang terletak di ujung jalan. Masjid Al-Mukhlisin. Di depan pelataran mesjid, ada kios makanan dan minuman. Sya menghampirinya,    “Beli minum ah, sekalian tanya alamat. Mungkin penjaganya tahu.”

“Bu, air mineralnya satu ya.. Berapa?”

“Iya neng, 3ribu aja neng.”

“Ini Bu, Uangnya. Oya Bu, kalau ini tuh Jalan Perjuangan kan ya?” Bertanya sambil memberikan uang.

“Iya neng, kenapa memangnya?”

“Kalau rumah no. 58 itu sebelah mana ya Bu. Nama pemiliknya Mba Kinan. Mungkin Ibu tahu?

 “Ohh..  Kalau Bu Kinan itu saya tahu neng, baik lagi orangnya. Neng mau ngaji ya? Sering kok, pemudi kaya neng yang jilbabab gini main ke rumahnya. Saya juga ngaji sama Bu Kinan neng, tapi di madrasah, ngga di rumahnya. Hehe.. Rumahnya  di sebrang gang itu. Pas di sebelah pohon mangga itu neng. Kelihatan kan?”

Wah frontal sekali ibu ini, gelagapan Sya jadinya, tapi Sya jadi tahu, bahwa Mba Kinan sepertinya humble dan dekat sekali dengan masyarakat sekitar. Jadi tidak sabar untuk bertemu.

“Hehe.. Iya Bu.. Oh yang itu, iya bu kelihatan kok. Terimakasih ya Bu..” Sahut Sya sambil berlalu ke dalam masjid.

Azanpun berkumandang, tak membuang waktu, Sya bergegas menuju tempat wudhu akhwat. Selesai berwudhu, Sya bergegas menuju tempat shalat bagi akhwat, disana ternyata ada pula beberapa muslimah yang telah siap untuk melaksanakan shalat berjama’ah. Akhirnya, ia ambil posisi di sebelah ibu paruh baya yang sedang melaksanakan rawatib. Sya mengambil mukena yang dibekalnya, lalu bersiap melaksanakan shalat rawatib.

Sya tidak sadar, ternyata Hp mungilnya bergetar melulu. Mengisyaratkan bahwa ada beberapa panggilan masuk dan sms. Sya baru menyadarinya ketika ia telah keluar dari mesjid.

8 panggilan tak terjawab dan 3 sms.

Sya buka 8 panggilan masuk itu, ternyata 4 kali panggilan dari Kak Nay, 4 kali dari Remi.

“Remi? Mau apa dia telpon? Aduhh. Nggak, nggak, nggak boleh. Ga usah tanggapi Sya, Ga usah.” Tandas Sya menenangkan diri sendiri.

Remi adalah teman dekat Sya semasa SMA, saking dekatnya Sya sudah menganggapnya sebagai kakak kandung. Tapi setelah mengenal Islam lebih dekat, Sya tahu tak ada itu yang namanya kakak angkat, tak ada itu namanya persahabatan sejati antara laki-laki dan perempuan. Apalagi akhir-akhir ini Sya menangkap gelagat aneh dari Remi yang perhatiannya terhadap Sya sudah diluar ambang kewajaran. Dulu, Sya tenang-tenang saja menghadapi hal ini, toh ia merasa baik-baik saja. Tapi sekarang, ia tidak bisa begitu. Ada rasa was-was yang menjalari sekujur tubuhnya ketika ia harus berlama-lama sms-an atau bertelepon dengan Remi. Sya tidak boleh jatuh lagi. Sudah cukup. Tidak boleh mengizinkan  rasa yang ada berkembang menjadi rasa yang tidak seharusnya timbul.

“Fix. Jangan tanggapi. Stop ini Sya. Jangan jatuh lagi.” Sya meyakinkan diri sendiri.

Lalu, ia baca inboxnya yang berisi 3 pesan yang belum di baca

Pesan 1

Dari Remi

            “Sya, dimana? Ketemu yuk? Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan. J

Sya menghela napas. Menekan tombol delete untuk pesan ini.

Pesan 2

Dari Remi

Sya? Angkat telponnya kalau sudah tidak sibuk ya? Please lho J

Helaan napas Sya lebih berat. Tekan tombol delete lagi untuk pesan kedua. “Audzubillahiminasysyaithaanirrajiim”

Pesan 3

Dari Kak Nay 

            “Sudah sampai mana? Hati-hati ya, Sya shalihah.. Yakin, Allah selalu temani J

Ini ayat yang kakak suka, semoga Sya juga suka :

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata): “Janganlah kamu merasa takut dan bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu” (Q.S Fushilat [41] : 30)

Dan bertahanlah,, karena Allah… *big hug*J

Langkah Sya terhenti. Nafasnya memburu. Dan tenggorokan tercekat, seakan ada duri di tenggorokannya yang membuatnya perih menelan. Matanya menghangat, ada bulir keharuan lagi disana. “Allahku.. betapa engkau mencintaiku”. Sya termenung, dari 8 panggilan masuk dan 3 pesan yang ia terima, betapa Allah telah menunjukkan, mana yang baik dan mana yang tidak untuknya. Faalhamaha fujuraha wa taqwaha.

Baiklah Ya Allah, Inilah aku, hambamu.. Sehitam apapun aku, Kau tetap putihkanku. Inilah aku, dengan niatku, meski dengan iman sebelanga. Berusaha meniti jalanMu. Menjadi seorang muslimah pilihanMu. Izinkanlah aku istiqamah di JalanMu..

HAPPY GRADUATION MY DEAR FRIEND ^0^


 

wisudawati cantik

Bismillahirrahmanirrahim..

Pagi di hari Sabtu, 15 September 2012, bagaimana kabar hatimu Cantik? Apakah buncah dengan luapan rasa?? Ah, aku tak tahu.. Tapi sungguh, di raut wajahmu aku lihat senyum kebahagiaan terkembang disana.. Memancarkan rasa syukur terdalam atas salah satu nikmat yang Ia beri padamu..Turut bahagia atas kelulusanmu, met wisuda geulis J

Kalimat yang sebetulnya tak pernah disampaikan kepadanya.. *sayangnya*.. Padahal banyak yang ingin dikatakan, tapi kata yang sempat terucap hanya “ Met wisuda gin!” sambil memeluknya erat dan mengulurkan sebuket bunga hasil patunganku dengan ka Jiah untuknya.. meski begitu, Itu lebih dari cukup.. Sangat cukup.. Melihat senyum merekah dari keluarga gina saat gina diborder bersama wisudawan/wati lain oleh adik himpunan TEKNIK LISTRIKnya *ini ceremony khas POLBAN, katanya*, lalu saat ayah gina bilang “Ayo, sing sararukses, sing ararenggal nikahna” sahutnya sambil tertawa sumringah.. Ah, itu sangat cukup, lebih dari cukup untuk merekam kebahagiaan saudariku di hari wisudanya.. Bahagia.. meski tanpa banyak kata dan sapa J

Hemm.. si atraktif gina akhirnya lulus juga.. Haru dan bangga.. Dia dengan wajahnya yang selalu bergairah bilang “Ti, gina jadi mau bikin butik. Nanti liat ya hasilnya” tukasnya mantap. Aku menyunggingkan senyum.. Apapun itu, semoga kamu sukses gin. Eksekusi semua goalmu. J

Semoga ilmu mu bermanfaat, get your parent proud of you

Happy graduation day, Gin. J

Aku akan segera menyusulmu, hee

dari kita buat gina ^^

Senja di pinggiran bandung,

 With love

“A”

Memantaskan diri..


JIka ingin didampingi oleh seorang yang sekaliber ‘Ali ra, maka mari pantaskan diri menjadi seorang muslimah sekaliber Fathimah.. Itu indikatornya..

Apa yang paling utama dalam mempersiapkan pernikahan? Keimanan dan keshalihan yang utama..

Qt adalah pembelajar, maka mari pantaskan diri, agar layak bersanding dengan seseorang pilihanNya nanti…

#dalam rangka memantaskan diri..
dengan doa terpanjat..
Sang Pembelajar yang lemah T_T

6/8/2012

Ku Baca Firman Persaudaraan…


Ukhuwah

Ketika kubaca firmanNya, “sungguh tiap mukmin bersaudara”

Aku merasa, kadang ukhuwah tak perlu dirisaukan

Tak perlu, karena ia hanyalah akibat dari iman…

 

Aku ingat pertemuan pertama kita, Ukhti sayang

Dalam dua detik, dua detik saja

Aku telah merasakan perkenalan, bahkan kesepakatan

Itulah ruh-ruh kita yang saling sapa, berpeluk mesra

Dengan iman menyala, mereka telah mufakat

Meski lisan belum saling sebut nama, dan tangan belum ber Jabat

 

Ya, kubaca lagi firmanNya, “sungguh tiap mukmin bersaudara”

Aku makin tahu persaudaraan tak perlu dirisaukan

 

Karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh

Saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan terasa siksaan

Saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai..

Aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita..

Hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau mengerdil

Mungkin dua-duanya, mungkin kau saja

Tentu lebih sering, imankulah yang compang-camping..

 

Kubaca firman persaudaraan Ukhti sayang

Dan aku makin tahu, mengapa di kala lain diancamkan;

“para kekasih pada hari itu, sebagian menjadi musuh sebagian yang lain… kecuali orang yang bertaqwa…”

_Salim A. Fillah,Dalam Dekapan Ukhuwah_

 

Membacanya sempat membuat hati gerimis..

Oh Allah,, betapa,, betapa hati ini telah melabuhkan hati kepada saudari-saudariku tercinta..

Tapi, mungkin terkadang, sering bahkan sikap, perkataan dan segala tindak laku sang diri banyak mengiris hati mereka yang ku cintai..

Ukhti sayang, maafkanlah saudarimu ini..

If only you know how much i love u…

Sungguh, tak dapat ku pendam rasa perih ketika terucap di bibirmu sebuah kata keluar..tak lagi ingin membersamaiku dalam kumpulan ini. .

Sungguh,, tak mampu..

Maka, mohon dengan sangat ukhtiku sayang.. Jika aku memiliki khilaf dan alfa,, maafkanlah,, ikhlaskanlah..

Tapi jangan katakan hal itu.Hal yang membuat aku merasa sedih, tidak kah bagimu?. Meskipun futur alasannya, atau dengan alasan apapun itu,, sungguh tak akan pernah rela membiarkanmu pergi….Tak akan pernah…

Tetaplah disini ukhtiku sayang, membersamaiku dalam perjalanan panjang ini..

Karena aku mencintaimu.. amat sangat..

Uhibbuki fillah..

 

 

Selamat Tebar Pijar, Cinta . . .


Dihari ini, di titik ini, genaplah sudah setengah dien itu.

Ketika tapak-tapak langkah tak lagi sama. Pahala dhuha menjadi berlipat ganda, pun ganjaran sedekah bertambah-tambah..

Dan, bertebar Pijarlah Cinta. . .

Bersama angin ketaatan, membina barakah lagi sakinah

Mencipta generasi shalih dan shalihah, penyejuk dalam rindangnya kebun dakwah, meski aral dan penggoda senantiasa meruah. . .

Jikapun ada langkah terpercik salah, cinta senantiasa membersamai dan membenahi.

Melangkah tapaki rinai-rinai hidup, Anugerah Terindah Sang Pengggenggam Cinta. . .

Maka, Tebarkan dan Pijarkan Cinta. . .

Dengan bait-bait rindu dalam Huda-Nya, yang senantiasa benderang memayungi,

Pancarkan kesyukuran cinta.

Halau segala bentuk eksternalitas negatif dalam perjalanan panjang itu,

Karena sungguhpun, pundak itu kini tlah berganda. Kandungi kekuatan yang bertambah kokoh, matang dan berpilin dalam temali keimanan mengakar.

Berdaya menyandang beban berjuta kali lipat.

Dan.. Begitulah Cinta bertebar pijar…

Menghimpun kasih diantaranya,

Agar dapat lewati batas uji itu,

Menjadi sebaik-baik sejoli;

Pasangan dunia akhirat yang dirindu syurga (amien)

Selamat menebarpijar cinta,

dalam khidmatnya “rumah tangga”

Barakallahu lakuma wa baraka ‘alaikuma wa jama’a bainakuma fii khair…

dengan rindu sehangat senja,

“A”