Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah


Semoga bisa tetap membersamai para pejuang di Jalan perjuangan itu…

Sebiru Hari Ini...

Sebait catatan nasihat (Alm) Ustadz Rahmat Abdullah.

Copas dari grup.

Setiap kita akan senantiasa diuji oleh Allah SWT pada titik-titik kelemahan kita.

Orang yang lemah dalam urusan uang namun kuat terhadap fitnah jabatan dan wanita
tidak akan pernah diuji dengan wanita atau jabatan.

Tetapi orang yang lemah dalam urusan wanita namun kuat dalam urusan uang
tidak akan pernah diuji dengan masalah keuangan.

Orang yang mudah tersinggung dan gampang marah akan senantiasa dipertemukan oleh Allah dengan orang yang akan membuatnya tersinggung dan marah sampai ia
bisa memperbaiki titik kelemahannya itu sehingga menjadi tidak mudah tersinggung dan tidak pemarah.

Orang yang selalu berlambat-lambat menghadiri pertemuan forum dakwah karena alasan istri, anak, mertua, atau tamu akan senantiasa dipertemukan dengan perkara ‘mertua datang,
tamu datang silih berganti’ di saat ia akan berangkat .. terus begitu sampai ia memilih prioritas bagi aktivitasnya apakah kepada dakwah atau kepada perkara-perkara lain.

Kita semua harus memahami dan mengatasi segala…

View original post 478 more words

Advertisements

A litle note on marriage


Well.. Note it Asti…

Sebiru Hari Ini...

In a marriage, one should forget about falling in love. Falling is never a good thing. Love as we know it (from our romantic notions) is simply another word for physical attraction. It lasts usually for a couple of years and then starts to decrease. Since you want your marriage to last a lot longer than that, it is a good idea to focus on respect which will grow into love. Not falling into but growing into.

What does that mean? It means that 25 years after you have been married every time you look at your spouse you fall in love all over again. Growing in love means evolving a common language of looks, signals and words that only you two can understand. It is almost magical to see it work. I wish it for all those who read this. That is heaven on earth.

So it is respect, honor…

View original post 160 more words

High Heels


Entah, karena faktor ndeso atau memang tidak biasa, saya benar-benar tidak nyaman memakai high heels. Pertama kali mencoba bertahan memakai high heel selama kurang lebih 5 jam itu di acara akad dan resepsi pernikahan kakak saya. Hasilnya? tumit kaki saya bengkak dan well… It hurt my leg so much.. Perang batin, kalau kondangan keluarga kemudian dititah pakai sepatu ini ya, pakai baju ini ya?.. *Sigh*

Somehow, we have to fight fo our choice…

Saya jadi bertanya-tanya, apakah memang cuma saya saja yg merasa kesakitan kalau pakai high heels, atau perempuan lain juga ya? Baiklah, mungkin bahasan ini kurang penting. Tapi penting bagi saya meskipun cuma sekedar berceloteh, mengungkap hikmah di balik keengganan ber”high heels” ria. In my humble opinion, sebagai perempuan, kita memang patut memerhatikan keindahan. Tapi memilih apa yang kita pakai tanpa harus menyakiti diri sendiri adalah pilihan bijak saya kira.

Yang terpenting adalah, bukan seberapa mahal atau seberapa lucu atau seberapa modis yang kita pakai. Tapi sebagaimana pakaian itu bisa menjadi sarana kita menjadi perempuan baik yang menjaga martabat. Tidak akan menjadi rendah seorang perempuan yang lebih senang memakai sendal gunung atau flat shoes. Tidak akan menjadi sangat menawan perempuan yang kemana-mana menggunakan high heels. Bijaklah pada apa yang kita pakai. Siapa tahu, itu yang akan menjadi timbangan pemberat kebaikan/keburukan kita di hari perhitungan kelak.

Just be your self.

Bisikan yang saya hujam ke diri saya sendiri dan acapkali saya coba bisikan ke saudari-saudari yang dicinta. Mencoba segenap hati berbicara lembut tentang keengganan kepada mama atau tante yang kadang, terlalu “ingin terlibat” pada apa yang kita kenakan. Semoga ya, usaha kita menyederhanakan diri dengan penggunakan pakaian dan aksesori yang tidak berlebihan ini, dapat melangitkan pahala kita untuk menemui keridhaan-Nya.

4 Maret 2014,

dalam keengganan ber”high heels”