dari Bumi menuju Langit


Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju (menciptakan) langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S) Al-Baqarah : 29

Ayat ini menjadi dalil bahwa ALlah menciptakan bumi terlebih dahulu, kemudian langit yang berjumlah tujuh lapis. ALlah memulainya dari bagian bawah kemudian menuju ke bagian atas. Saya tertegun..

Dan begitulah tarbiyah yang selama ini saya kenal. Dimana saya merasa kembali dilahirkan. Dari titik kejahiliyahan ke jalan yang bercahaya. Ada tahapan-tahapannya. Ibda’ binafsi. Dimulai dari diri sendiri. Dimulai dari hal yang terkecil. Setelahnya adalah dakwah kepada keluarga, kerabat terdekat, kepada masyarakat lalu bernegara sesuai syariat yang ALlah perintahkan.

Dimulai dari bumi lalu menuju langit..

Membenahi hal tersepele sekalipun kemudian dengan segenap cinta memperjuangkan kerja agar harmoni membentuk baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur…

Izinkan saya sampaikan bahwa bagaimanapun, sayapun rindu dengan khilafah

Amat mengingini kalimat ALlah tegak di seluruh bumi-Nya ini.

Tapi lagi-lagi kita berbeda cara. Tak apa kan? Asal pergerakan kebajikan itu selalu ada.

dan lagi-lagi pula, mari, kita memetik cinta dari langit, lalu menebarkannya di bumi..

menerjemahkan bahasa langit agar sahih teramalkan oleh penduduk bumi

tugas yang hanya bisa diemban kaum kita. Para manusia beriman.

Mari laksanakan tugas kita masing-masing. Untukmu tugasmu, untukku tugasku…

dimanapun gerbong tempat kita berpijak, satu tujuan itu terpatri sudah bukan?

ALlahu Ghayyatuna

Salam ukhuwah untuk Muktamar Khilafah Juni nanti.

Salam cinta, kerja, harmoni

Baraakallahu Fiikum

Selasa, 7 Mei 2013

#Hadits 1: Niat


Jangan sampai sesuatu yang sedemikian kita cintai sehingga menggelincirkan niat lurus yang pada awalnya telah terpancang di hati. Jangan pernah !!!

Jangan sampai, kita bertarbiyah karena ingin termasyhur keshalihan/keshalihahannya.

Jangan sampai, keaktifan kita dalam dunia dakwah, karena hanya ingin mendapat kesempatan agar bisa berdekatan dengan si akhi A, atau si ukhti B..

Ah, sungguh.. Syaithan itu amat pintar menggelincirkan niat kita..

Maka mari hati-hati pada isi hati kita. Moga ALlah selalu menjernihkannya.

Semenyulitkan apapun, mari benahi terus niat kita.

Realize that when Allah is not the real one goal, how much we got, whatever we had. Truly we got nothing! indeed! 

Amirul Mukminin Abi Hafsh Umar bin Khattab ra. berkata, Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda,

“Sesungguhnya amal perbuatan itu disertai niat dan setiap orang mendapat balasan amal sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang berhijrah hanya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya itu karena dunia yang ia harapkan atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya itu menuju yang ia inginkan.”

(Diriwayatkan oleh dua orang ahli hadits: Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah Bardizbah Al-Bukhari dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairy An-Naisaburi)

_Hadits Arba’in, An-Nawawi