Hujan dan Teduh


flower

 

Desember – Januari sepertinya sedang bersahabat denganku.

Mereka membiarkanku beraktivitas rutin,

Menemani para penggalau dengan kesendiriannya.

Tapi hari tak membiarkanku sendiri, ia hadirkan dirimu untuk menemaniku

Walau tak berjalan seiringan.

Sekedar memberikan waktu untuk mentari bersinar,

Memberikan ruang untuk pelangi menampakkan pesonanya.

Aku suka awan.

Tapi aku lebih suka dirimu.

Setidaknya walaupun qt tak pernah bersama, kau membuatku ada dan berarti.

_Hujan_

 

Denting yang memecah sunyi itu terasa perih,

Tapi betapa beruntungnya Dia panggil kau untuk temani.

Ah, meski waktu tak mengizinkan kita berlama-lama bersama,

Tapi kita tetap beriringan bukan?

Terimakasih untuk selalu percaya dan menguatkan.

Bangga kita bisa menggenapkan rasa dan saling berbagi

_Teduh_

 

For the better us

*And yet, your word found a way to melt my heart 🙂

 

 

Advertisements

Karena fieldtrip bukan cuma jalan-jalan, tapi juga belajar


yosh!! sempatkan diri untuk posting tentang “fieldtrip agribisnis 4-8 desember 2012” sebelum memorinya menguap terbawa angin tenggara, atau lapuk berdebu tergilas zaman.. #okeh, ini lebay. abaikan.

in the name of Allah..

Setelah sekian lama kami para ranger kafilah dan mafia (katakanlah begitu) agribisnis di kampus menjadi anak yang rajin menabung, akhirnya kami dengan berbekal tabungan 785.000 IDR -yang didapat dengan berdarah-darah, red- dapat menggenapkan tujuan untuk mengadakan agrowisata ke daerah Malang. Yap, tepat sekali! Kota yang terkenal dengan buah Apelnya itu loh. Jadi ceritanya rute perjalanan kami adalah dari pinggiran bogor *ciawi* ke CV. ASIMAS di Lawang-Malang, Kusuma Agrowisata di Batu-Malang, CV. Bromo Semeru di Batu-Malang, Universitas Brawijaya dan Sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu Indonesia (Republik Telo). Lalu dilanjut dengan wisata ke Parangtritis, Prambanan dan Malioboro :).

Sejatinya, banyak kata yang ingin berloncatan keluar dari alam pikiran dan akhirnya tercantum dalam blog ini. Apa daya, semoga apa yang ditulis mewakili semua rasa yang tersirat di hati :).

Jadi, saya ingin sedikit sampaikan hikmah yang didapat dari perjalanan kemarin. Karena Fieldtrip kemarin itu bukan cuma jalan-jalan, tapi juga belajar. Belajar memahami karakter temans seperjalanan, belajar menyetarakan ego menyamakan langkah. Dan yang terpenting belajar bertafakur, belajar memetik hikmah dan pelajaran dari setiap momen dan peristiwa yang dialami.

1. Belajar Memahami Teman Seperjalanan
Yap! dalam waktu kurang lebih 5 hari 4 malam, kami jadi belajar dan setidaknya bisa membaca karakter masing-masing anggota perjalanan. Maka benarlah apa yang disabdakan Rasul SAW tercinta, seseorang telah menjadi sahabat bagi yang lainnya jika telah mengadakan perjalanan bersama dengannya. Dalam perjalanan ini, ada yang sukanya tidur terus, ada yang senang sekali mendendangkan lagu -untung suaranya bagus:)-, ada yang pandai mengatur segala hal tapi tak terkontrol dalam berbicara, ada yang damai mengikuti arus yang mengalir, ada pula yang pandai meramaikan suasana dengan kekonyolan atau jokes yang dibuatnya. Sempat bad mood dan ilfeel sama salah seorang ranger akibat kata-katanya yang kurang di jaga. Tapi, tapi, tapi,, keberagaman karakter ini membuat saya belajar bahwa ternyata saat bersama dengan teman-teman kita adalah saat yang paling tepat untuk berrefleksi. Berkaca. Ngeunteung kalau bahasa sundanya. Bahwa no body’s perfect, kita bisa melihat dan merasakan kekurangan dan kelebihan teman seperjalanan kita, begitupun mereka, bisa melihat baik dan buruknya kita. Dengan berkaca seperti itu, kita menjadi paham bahwa jalan terbaik untuk meminimalisir konflik atas beragamnya karakter orang-orang di sekitar kita itu adalah dengan “memahami” lalu mulai beradaptasi dengannya. Jadi, #okefine adaptasi sama kata-kata yang tidak menyenangkan 🙂

Satu hal lagi, dalam kesempatan in..i i’ll confess about my mistake yang dilakukan saat makan popmie di bis tanpa memperhatikan teman-teman lain yang ga makan. Wah, feeling guilty so much itu.. maaf yah bu itoh dan temans.. tak kan terulang kedua kaliii 😀

2. Belajar Menyetarakan Ego, Menyamakan Langkah
Dari 27 orang anggota perjalanan (24 ranger, 3 orang sopir) pasti memiliki selera makan yang berbeda-beda. Nah, disinilah ego kita di uji. Ima dkk dan pak bendum selalu kesibukan untuk cari resto/rumah makan yang selain pas di lidah pas juga di kantong kita-kita :). Bersyukur saat sajian makanan yang ada pas di lidah kita semua. Tapi ada kejadian yang menarik, saat itu kita telat makan, baru jam 10 malam kita semua bisa makan malam itupun di rumah makan padang yang makanannya ofcourse pedas semua. Sebagian besar awak bis kepedesan, ada yang langsung minta obat ke nia biar ga sakit perut, ada pula yang mengaduh karena sebelumnya mereka memang terjangkit sakit perut. Tapi alhamdulillah, kepedesan ini tidak menelan korban jiwa :D.
Disini, saya jadi berpikir dan salut betapa luar biasanya kebersamaan kita (ecieee). Yah, meskipun makanan tidak sesuai selera semua peserta tapi semua awak bis makan, tak terkecuali. Semua sama-sama mengenyampingkan ego masing-masing: suka ga suka harus makan. Semua paham bahwa betapa cakah-cikihnya ima dkk sebagai penanggungjawab konsumsi untuk bergegas cari pemadam kelaparan untuk mengurusi kesehatan perut kita semua, meskipun waktu makannya sering ngaret. Thanks for Divisi Konsumsi 🙂

Kita juga belajar menyetarakan ego saat memutuskan jadi atau tidaknya berkunjung ke Candi Prambanan. Diskusi dipimpin Dadang waktu singgah ke rumah Buk De-nya Salma di Klaten. Awalnya diskusi alot karena ternyata masuk Prambanan harus merogoh finansial kita-kita *lagi* sebesar 35.000 IDR. Ada yang keberatan. Lalu ada yang saran masing-masing aja. Yang mau masuk-masuk, yang ngga, ya ngga usah. Awalnya begitu. Tapi kebayang jalan-jalannya akan sangat garing kalau ga sama-sama. Meskipun Garing itu kriuk, kriuk itu krekes, krekes itu enak. Tapi garing tetaplah garing teman!#apasihhh
Satu menit, dua menit, tiga menit.. Akhirnya muncul ide dari Nabil sang bendum.. Usul subsidi silang dari teman-teman, sampai akhirnya masing-masing kita hanya perlu mengeluarkan 15.000 IDR. Okefiks. Approved. Semuanya merogoh kocek masing-masing, dan jadilah kita semua pergi ke Prambanan dan berhasil mencetak blueprint foto yang memorable seperti di bawah ini:)

jalan-jalan, sama-sama, belajar-belajar, berkah-berkah :)

jalan-jalan, sama-sama, belajar-belajar, berkah-berkah 🙂

3. Belajar Bertafakur
This is it. Hal yang paling penting yang kita harus petik. Bertafakur. Merenungi tanda-tanda kebesaran Allah lewat ciptaan-Nya. Bukankah di setiap pagi di bis *kalau ga tidur :D* kita bisa menyaksikan sunrises dengan indahnya lalu melihat pula terbenamnya senja? Dan apa yang kita dapat setelah melihat indahnya pantai parangtritis, lalu cerahnya biru langit diatas indah bangunan-bangunan tua Prambanan? Maka kita, dengan segenap hati seluruh jiwa, seharusnya bisa melihat, merasakan dan berfikir bahwa Allah SWT sungguh Maha Besar dan Maha Indah. Lalu bersyukur dan memuji Allah SWT atasnya. Salah satu fungsi besar dari jalan-jalan ya agar kita bisa bertafakur seperti ini. Iya tho? 🙂

Maka biarlah teman, fenomena kemenyan yang kita lihat di bibir pantai dan fenomena orang yang menghanyutkan barang-barangnya di tepi pantai parangtritis itu jadi i’tibar buat kita. Bahwa sesungguhnya apa yang mereka lakukan nonsense sekali. Bahwa Allah amat benci dengan perkara-perkara syirik seperti itu. Don’t try that at home, okeh? 🙂

Juga mari kita berdo’a pada Allah agar kebersamaan yang pernah kita ukir itu menuai keberkahan dan ridho Allah. Bukan malah menuai murka Allah karena perkara-perkara salah yang kita lakukan saat perjalanan. Sungguh akan menjadi hal yang amat sangat menyedihkan jika kita menikmati ranumnya kebersamaan, mengukir tawa renyah nan indah tapi disana tidak terdapat kasih sayang Allah sama sekali. Jadi, tawa dan kebersamaan yang kita buat untuk apa? Untuk mendekati surga atau neraka-Nya? Mari #berpikir

Mengertilah bahwa Allah sungguh menilai dan melihat gerak-gerik kita di setiap waktu, di setiap kesempatan dan di setiap tempat. Maka mari beristighfar atas apa-apa yang tidak seharusnya kita lakukan. Dan berazzam jadi pribadi yang jauuhh lebih baik lagi.. Kita sama-sama perbaiki diri ya 🙂

“Tidakkah mereka perhatikan, bagaimana Allah memulai ciptaan kemudian mengulanginya? Sesungguhnya yang demikian itu mudah saja bagi Allah. Katakanlah:’Berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah, bagaimana Allah memulai ciptaan, kemudian Ia mengulangi penciptaan itu sekali lagi. Sesungguhnya Tuhan Berkuasa atas segala sesuatu.” (QS. 29:19-20)

“Berjalanlah kamu di atas muka bumi, kemudian lihatlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan itu.” (Al An’am: 11)

Di Prambanan - Jogja

Di Prambanan – Jogja

Continue reading

Rindu (lagi)


Rindu.. rindu.. rindu..

Atas nama ukhuwah aku rindu..

Pada wajah yang teduh bergelimang cahaya

Pada pundak yang hangat senantiasa menyangga tubuh yang terasa menanggung berkilo-kilo beban..

Mereka yang tangguh, yang senantiasa menyemangati, membersamai..

Baik-baik ya disana..

Semoga Allah senantiasa mengokohkan dan membersamai pijakanmu..

yang merindu.
2.30 pm

Do’a Buat Para Syuhada


Allahku, aku tahu mereka hidup

Sekalipun darah bercucuran, kulit terkelupas, tubuh terburai

Sungguh, mereka adalah panglima dalam ribath

Yang senantiasa menjaga tanah suci, warisan anbiya’

Yang dengan lantang melawan tindasan kaum kafir zionis laknatulloh.

Allahu Rabbana,,

Engkau Saksikan Kesyahidan mereka,

maka sampaikanlah kecintaan kami pada pada syuhada Palestina, Syiria, Rohingya, Somalia, dan pada syuhada di belahan bumi Mu yang lainnya..

Jadikan mereka sebagai penghuni syurga, sebaik-baik penghuni di jannah-Mu yang indah…

“Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) akan mati. Sebenarnya mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Q.S Al-Baqarah:154)

“Allahummarham Syuhadaa-anaa,, Wanshur Ikhwaananaa Fii Ghazzah, Allahumma Daamiril Juyuusyal Israaiilil Muhtal”

 

untukmu para syuhada, yang kami cinta..

8:57 pm

 

HAPPY GRADUATION MY DEAR FRIEND ^0^


 

wisudawati cantik

Bismillahirrahmanirrahim..

Pagi di hari Sabtu, 15 September 2012, bagaimana kabar hatimu Cantik? Apakah buncah dengan luapan rasa?? Ah, aku tak tahu.. Tapi sungguh, di raut wajahmu aku lihat senyum kebahagiaan terkembang disana.. Memancarkan rasa syukur terdalam atas salah satu nikmat yang Ia beri padamu..Turut bahagia atas kelulusanmu, met wisuda geulis J

Kalimat yang sebetulnya tak pernah disampaikan kepadanya.. *sayangnya*.. Padahal banyak yang ingin dikatakan, tapi kata yang sempat terucap hanya “ Met wisuda gin!” sambil memeluknya erat dan mengulurkan sebuket bunga hasil patunganku dengan ka Jiah untuknya.. meski begitu, Itu lebih dari cukup.. Sangat cukup.. Melihat senyum merekah dari keluarga gina saat gina diborder bersama wisudawan/wati lain oleh adik himpunan TEKNIK LISTRIKnya *ini ceremony khas POLBAN, katanya*, lalu saat ayah gina bilang “Ayo, sing sararukses, sing ararenggal nikahna” sahutnya sambil tertawa sumringah.. Ah, itu sangat cukup, lebih dari cukup untuk merekam kebahagiaan saudariku di hari wisudanya.. Bahagia.. meski tanpa banyak kata dan sapa J

Hemm.. si atraktif gina akhirnya lulus juga.. Haru dan bangga.. Dia dengan wajahnya yang selalu bergairah bilang “Ti, gina jadi mau bikin butik. Nanti liat ya hasilnya” tukasnya mantap. Aku menyunggingkan senyum.. Apapun itu, semoga kamu sukses gin. Eksekusi semua goalmu. J

Semoga ilmu mu bermanfaat, get your parent proud of you

Happy graduation day, Gin. J

Aku akan segera menyusulmu, hee

dari kita buat gina ^^

Senja di pinggiran bandung,

 With love

“A”

Ku Baca Firman Persaudaraan…


Ukhuwah

Ketika kubaca firmanNya, “sungguh tiap mukmin bersaudara”

Aku merasa, kadang ukhuwah tak perlu dirisaukan

Tak perlu, karena ia hanyalah akibat dari iman…

 

Aku ingat pertemuan pertama kita, Ukhti sayang

Dalam dua detik, dua detik saja

Aku telah merasakan perkenalan, bahkan kesepakatan

Itulah ruh-ruh kita yang saling sapa, berpeluk mesra

Dengan iman menyala, mereka telah mufakat

Meski lisan belum saling sebut nama, dan tangan belum ber Jabat

 

Ya, kubaca lagi firmanNya, “sungguh tiap mukmin bersaudara”

Aku makin tahu persaudaraan tak perlu dirisaukan

 

Karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh

Saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan terasa siksaan

Saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai..

Aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita..

Hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau mengerdil

Mungkin dua-duanya, mungkin kau saja

Tentu lebih sering, imankulah yang compang-camping..

 

Kubaca firman persaudaraan Ukhti sayang

Dan aku makin tahu, mengapa di kala lain diancamkan;

“para kekasih pada hari itu, sebagian menjadi musuh sebagian yang lain… kecuali orang yang bertaqwa…”

_Salim A. Fillah,Dalam Dekapan Ukhuwah_

 

Membacanya sempat membuat hati gerimis..

Oh Allah,, betapa,, betapa hati ini telah melabuhkan hati kepada saudari-saudariku tercinta..

Tapi, mungkin terkadang, sering bahkan sikap, perkataan dan segala tindak laku sang diri banyak mengiris hati mereka yang ku cintai..

Ukhti sayang, maafkanlah saudarimu ini..

If only you know how much i love u…

Sungguh, tak dapat ku pendam rasa perih ketika terucap di bibirmu sebuah kata keluar..tak lagi ingin membersamaiku dalam kumpulan ini. .

Sungguh,, tak mampu..

Maka, mohon dengan sangat ukhtiku sayang.. Jika aku memiliki khilaf dan alfa,, maafkanlah,, ikhlaskanlah..

Tapi jangan katakan hal itu.Hal yang membuat aku merasa sedih, tidak kah bagimu?. Meskipun futur alasannya, atau dengan alasan apapun itu,, sungguh tak akan pernah rela membiarkanmu pergi….Tak akan pernah…

Tetaplah disini ukhtiku sayang, membersamaiku dalam perjalanan panjang ini..

Karena aku mencintaimu.. amat sangat..

Uhibbuki fillah..