Konspirasi Semesta


Dialog ditengah rapat agenda spesial:

S: “Asti ada yang mau disampaikan ga?” kata sang ketua.

A: *geleng* lalu sibuk kembali menatap lembaran jobdesc di depan batang hidung. Berpikir, merenung, berkontemplasi, atau apalah itu namanya.

See Asti, konspirasi semesta selalu berjalan menjalankan titah-Nya. Seseorang yang baik, akan mendapatkan yang baik pula. Sepadan. Mereka layaknya cermin yang memantulkan akhlaknya masing-masing. Karena cermin tidak pernah berdusta.

Lalu kamu disini begitu banyak berharap-harap sesuatu yang kamu sendiri belum tahu ujungnya.

Maka lamat-lamat tersemat doa dalam dinginnya udara.. Doa yang jelita nan rahasia. Dalam geliat cita, gerisik harap dan getar cinta.

Karena aku tak bisa, jika tak berpasrah padaMu dalam doa T_T

 

 

Kamis, 29/08/2013

 

 

Advertisements

Sikap!


Jika tak mampu menolak dengan menshalihkan, jangan menolak dengan mensalahkan. (Fadlan Al-Ikhwani, Penulis)

 

Kalimatnya dalam dan Noted To My Self banget. Reminder buat para muslimah yang punya alasan kuat untuk menolak. Semoga alasan menolak itu jauh melampaui kriteria pragmatis, tapi lebih karena pertimbangan syar’i nan sahih..

Semoga kita, Allah bukakan bashirah ya ukhti.

Sehingga bisa menerima apa-apa yang haq, dan menolak dengan kata-kata baik apa-apa yang bathil.

Maka perkataanmu, wahai sahabat, akan terekam selalu dalam benakku:

Sekufu itu, bukan tentang materi, pendidikan atau status sosial. Fikroh jauh lebih penting untuk diutamakan.

 

Dibanding mencari-cari setengah dien itu, lebih baik menggenapi setengah dien yang lain. Apa itu? Kita *sambil tunjuk hati*

 

Moga Allah ampuni, #sikap terdahulu kita *apalah lagi saya* sebab kekurangpahaman atau kekurangdewasaan sang diri. *Meski entah, sekarang sudah dewasa atau belum?*

Moga Allah membimbing kita selalu dalam taat dan gapai shalihat.

(Bincang santai dengan 2 Rangers di Warung Bakso Cibadak *too memorable to forget* )

 

Belajar dari Gula: Jangan Sentuh Sebelum Waktunya.


Terkadang, eh, sering bahkan.. Kita*wabilkhusus saya* harus merasakan kepahitan dulu untuk memetik sebuah pelajaran emas. Seperti kejadian yang saya alami Selasa kemarin, saat saya bertandang ke daerah Cihara di sudut Banten sana. Perjalanan yang lumayan meletihkan dan memeningkan kepala berhubung itu kali pertama saya membolang ke daerah tersebut.

Singkat cerita, saya berkeliling di Cihara sana untuk menggali informasi mendalam tentang aren genjah. Aren genjah adalah jenis aren yang dapat memproduksi gula berkualitas tinggi dengan tinggi pohon efisien (5-6 m) dan masa panen yang tahan lama (1-2 tahun). Dalam perjalanan di hutan aren, saya dan dua orang partner berkunjung ke sebuah saung yang di dalamnya terdapat hawu untuk mengolah gula menjadi gula semut atau gula batok.

Kami bertiga menyaksikan proses pengolahan gula ini hingga matang. Baunya harum semerbak, penampakan karamelnya menggiurkan. Saya menelan ludah dan ah nampaknya lezatlah.. Sedetik kemudian si ibu pengolah gula menghidangkan gula tersebut kedalam sebuah piring kecil. Tanpa ba-bi-bu saya yang terpesona dengan harum dan performa karamel ini langsung saja mencoleknya dengan jari telunjuk saya.

Dan, What happen to me? Saya sontak menjerit kepanasan, jari saya melepuh, fiks keperihan. *Yaiyalah, kamu bukan wonderwomen, dimana-mana gula yg dilelehkan itu panas Asti. Lupa atau gimana sih? | #entahlah, somehow i lost my memory, like a fool T_T *

Tapi, Rabbanaa maa khalaqta haadza baathila.. subhana fakina ‘adzaa bannar

Dari situ saya belajar kekawan, meskipun sebelumnya sudah tahu, saya belajar, menegaskan kembali bahwa “Sesuatu yang belum saatnya disentuh, tidak menuai apa-apa kecuali keperihan”.. Sambil berjalan jauh meninggalkan saung itu, sambil mengemut jari yang melepuh, saya mulai beranalogi *again*.. Jika karamel panas yg belum waktunya disentuh saja bisa membuat jari ini melepuh, apalah lagi lawan jenis tak halal yang sengaja disentuh atau tak sengaja tersentuh? Apa akibatnya di akhirat nanti?

Duh Allah, hamba mohon ampun T_T …
Atas tiap sentuhan tak halal yang pernah dengan sengaja atau tak sengaja hamba lakukan..
benarlah apa dikata Rasul mulia: lebih baik menyentuh besi membara daripada menyentuh lawan jenis yang masih belum hak diraba.

Duhai Allah, mohon ampuni …
diri ini dimasa jahiliy yang dengan mudah menyentuh sesiapa tiada peduli
bahwa balasan atas perbuatan yang tak benar adalah neraka yang membuat nanar

Ya Allah ampun..
Atas rupa-rupa keteledoran dan kekhilafan hamba-Mu yang lemah ini, dulu, kini dan nanti

Rabu, 21/08/2013
11:16 am
Perjalanan Bayah-Pelabuhanratu

caramelicious of aren genjah; don't touch till it ready for

caramelicious of aren genjah; don’t touch till it ready for