Karena fieldtrip bukan cuma jalan-jalan, tapi juga belajar

yosh!! sempatkan diri untuk posting tentang “fieldtrip agribisnis 4-8 desember 2012” sebelum memorinya menguap terbawa angin tenggara, atau lapuk berdebu tergilas zaman.. #okeh, ini lebay. abaikan.

in the name of Allah..

Setelah sekian lama kami para ranger kafilah dan mafia (katakanlah begitu) agribisnis di kampus menjadi anak yang rajin menabung, akhirnya kami dengan berbekal tabungan 785.000 IDR -yang didapat dengan berdarah-darah, red- dapat menggenapkan tujuan untuk mengadakan agrowisata ke daerah Malang. Yap, tepat sekali! Kota yang terkenal dengan buah Apelnya itu loh. Jadi ceritanya rute perjalanan kami adalah dari pinggiran bogor *ciawi* ke CV. ASIMAS di Lawang-Malang, Kusuma Agrowisata di Batu-Malang, CV. Bromo Semeru di Batu-Malang, Universitas Brawijaya dan Sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu Indonesia (Republik Telo). Lalu dilanjut dengan wisata ke Parangtritis, Prambanan dan Malioboro🙂.

Sejatinya, banyak kata yang ingin berloncatan keluar dari alam pikiran dan akhirnya tercantum dalam blog ini. Apa daya, semoga apa yang ditulis mewakili semua rasa yang tersirat di hati🙂.

Jadi, saya ingin sedikit sampaikan hikmah yang didapat dari perjalanan kemarin. Karena Fieldtrip kemarin itu bukan cuma jalan-jalan, tapi juga belajar. Belajar memahami karakter temans seperjalanan, belajar menyetarakan ego menyamakan langkah. Dan yang terpenting belajar bertafakur, belajar memetik hikmah dan pelajaran dari setiap momen dan peristiwa yang dialami.

1. Belajar Memahami Teman Seperjalanan
Yap! dalam waktu kurang lebih 5 hari 4 malam, kami jadi belajar dan setidaknya bisa membaca karakter masing-masing anggota perjalanan. Maka benarlah apa yang disabdakan Rasul SAW tercinta, seseorang telah menjadi sahabat bagi yang lainnya jika telah mengadakan perjalanan bersama dengannya. Dalam perjalanan ini, ada yang sukanya tidur terus, ada yang senang sekali mendendangkan lagu -untung suaranya bagus:)-, ada yang pandai mengatur segala hal tapi tak terkontrol dalam berbicara, ada yang damai mengikuti arus yang mengalir, ada pula yang pandai meramaikan suasana dengan kekonyolan atau jokes yang dibuatnya. Sempat bad mood dan ilfeel sama salah seorang ranger akibat kata-katanya yang kurang di jaga. Tapi, tapi, tapi,, keberagaman karakter ini membuat saya belajar bahwa ternyata saat bersama dengan teman-teman kita adalah saat yang paling tepat untuk berrefleksi. Berkaca. Ngeunteung kalau bahasa sundanya. Bahwa no body’s perfect, kita bisa melihat dan merasakan kekurangan dan kelebihan teman seperjalanan kita, begitupun mereka, bisa melihat baik dan buruknya kita. Dengan berkaca seperti itu, kita menjadi paham bahwa jalan terbaik untuk meminimalisir konflik atas beragamnya karakter orang-orang di sekitar kita itu adalah dengan “memahami” lalu mulai beradaptasi dengannya. Jadi, #okefine adaptasi sama kata-kata yang tidak menyenangkan🙂

Satu hal lagi, dalam kesempatan in..i i’ll confess about my mistake yang dilakukan saat makan popmie di bis tanpa memperhatikan teman-teman lain yang ga makan. Wah, feeling guilty so much itu.. maaf yah bu itoh dan temans.. tak kan terulang kedua kaliii😀

2. Belajar Menyetarakan Ego, Menyamakan Langkah
Dari 27 orang anggota perjalanan (24 ranger, 3 orang sopir) pasti memiliki selera makan yang berbeda-beda. Nah, disinilah ego kita di uji. Ima dkk dan pak bendum selalu kesibukan untuk cari resto/rumah makan yang selain pas di lidah pas juga di kantong kita-kita🙂. Bersyukur saat sajian makanan yang ada pas di lidah kita semua. Tapi ada kejadian yang menarik, saat itu kita telat makan, baru jam 10 malam kita semua bisa makan malam itupun di rumah makan padang yang makanannya ofcourse pedas semua. Sebagian besar awak bis kepedesan, ada yang langsung minta obat ke nia biar ga sakit perut, ada pula yang mengaduh karena sebelumnya mereka memang terjangkit sakit perut. Tapi alhamdulillah, kepedesan ini tidak menelan korban jiwa😀.
Disini, saya jadi berpikir dan salut betapa luar biasanya kebersamaan kita (ecieee). Yah, meskipun makanan tidak sesuai selera semua peserta tapi semua awak bis makan, tak terkecuali. Semua sama-sama mengenyampingkan ego masing-masing: suka ga suka harus makan. Semua paham bahwa betapa cakah-cikihnya ima dkk sebagai penanggungjawab konsumsi untuk bergegas cari pemadam kelaparan untuk mengurusi kesehatan perut kita semua, meskipun waktu makannya sering ngaret. Thanks for Divisi Konsumsi🙂

Kita juga belajar menyetarakan ego saat memutuskan jadi atau tidaknya berkunjung ke Candi Prambanan. Diskusi dipimpin Dadang waktu singgah ke rumah Buk De-nya Salma di Klaten. Awalnya diskusi alot karena ternyata masuk Prambanan harus merogoh finansial kita-kita *lagi* sebesar 35.000 IDR. Ada yang keberatan. Lalu ada yang saran masing-masing aja. Yang mau masuk-masuk, yang ngga, ya ngga usah. Awalnya begitu. Tapi kebayang jalan-jalannya akan sangat garing kalau ga sama-sama. Meskipun Garing itu kriuk, kriuk itu krekes, krekes itu enak. Tapi garing tetaplah garing teman!#apasihhh
Satu menit, dua menit, tiga menit.. Akhirnya muncul ide dari Nabil sang bendum.. Usul subsidi silang dari teman-teman, sampai akhirnya masing-masing kita hanya perlu mengeluarkan 15.000 IDR. Okefiks. Approved. Semuanya merogoh kocek masing-masing, dan jadilah kita semua pergi ke Prambanan dan berhasil mencetak blueprint foto yang memorable seperti di bawah ini:)

jalan-jalan, sama-sama, belajar-belajar, berkah-berkah :)

jalan-jalan, sama-sama, belajar-belajar, berkah-berkah🙂

3. Belajar Bertafakur
This is it. Hal yang paling penting yang kita harus petik. Bertafakur. Merenungi tanda-tanda kebesaran Allah lewat ciptaan-Nya. Bukankah di setiap pagi di bis *kalau ga tidur :D* kita bisa menyaksikan sunrises dengan indahnya lalu melihat pula terbenamnya senja? Dan apa yang kita dapat setelah melihat indahnya pantai parangtritis, lalu cerahnya biru langit diatas indah bangunan-bangunan tua Prambanan? Maka kita, dengan segenap hati seluruh jiwa, seharusnya bisa melihat, merasakan dan berfikir bahwa Allah SWT sungguh Maha Besar dan Maha Indah. Lalu bersyukur dan memuji Allah SWT atasnya. Salah satu fungsi besar dari jalan-jalan ya agar kita bisa bertafakur seperti ini. Iya tho?🙂

Maka biarlah teman, fenomena kemenyan yang kita lihat di bibir pantai dan fenomena orang yang menghanyutkan barang-barangnya di tepi pantai parangtritis itu jadi i’tibar buat kita. Bahwa sesungguhnya apa yang mereka lakukan nonsense sekali. Bahwa Allah amat benci dengan perkara-perkara syirik seperti itu. Don’t try that at home, okeh?🙂

Juga mari kita berdo’a pada Allah agar kebersamaan yang pernah kita ukir itu menuai keberkahan dan ridho Allah. Bukan malah menuai murka Allah karena perkara-perkara salah yang kita lakukan saat perjalanan. Sungguh akan menjadi hal yang amat sangat menyedihkan jika kita menikmati ranumnya kebersamaan, mengukir tawa renyah nan indah tapi disana tidak terdapat kasih sayang Allah sama sekali. Jadi, tawa dan kebersamaan yang kita buat untuk apa? Untuk mendekati surga atau neraka-Nya? Mari #berpikir

Mengertilah bahwa Allah sungguh menilai dan melihat gerak-gerik kita di setiap waktu, di setiap kesempatan dan di setiap tempat. Maka mari beristighfar atas apa-apa yang tidak seharusnya kita lakukan. Dan berazzam jadi pribadi yang jauuhh lebih baik lagi.. Kita sama-sama perbaiki diri ya🙂

“Tidakkah mereka perhatikan, bagaimana Allah memulai ciptaan kemudian mengulanginya? Sesungguhnya yang demikian itu mudah saja bagi Allah. Katakanlah:’Berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah, bagaimana Allah memulai ciptaan, kemudian Ia mengulangi penciptaan itu sekali lagi. Sesungguhnya Tuhan Berkuasa atas segala sesuatu.” (QS. 29:19-20)

“Berjalanlah kamu di atas muka bumi, kemudian lihatlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan itu.” (Al An’am: 11)

Di Prambanan - Jogja

Di Prambanan – Jogja

Dedicated for Rombongan fieldtrip AGB Road to Malang yang terdiri dari 19 ranger agb ’09 (ipin, dean, dika, nabil, dadang, desur, ajat, hendrix, samsam, lutfi, ira, ima, iis, thya, syifa, nia, asti, salma, neng), 4 ranger agb angkatan’11 (asih, kiki, lukman and imam) dan satu orang dosen agribisnis tercinta yang benar-benar menjadi sahabat perjalanan kami: ibunda Siti Masithoh serta 3 orang bapak sopir yang dengan setia menyertai suka duka perjalanan kami. Baraakallahu fiikum🙂.

Tahu apa? Bersyukur bisa ada di tengah-tengah keluarga agribisnis yang berwarna. Semoga Allah mencatat kebersamaan kita sebagai kebersamaan yang barakah🙂.

Regards,
Asti.
12-12-2012

6 thoughts on “Karena fieldtrip bukan cuma jalan-jalan, tapi juga belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s