Watch our mouth, Folks …

311783_1937213311076_1264653589_31740615_2630977_n

Tahukah? Mungkin kalian sudah tahu,,,, tapi aku teringin menyampaikannya. Bahwa di dunia ini ada beberapa hal yang tak dapat kembali, waktu ketika telah berlalu, kesempatan bila sudah hilang, batu ketika telah dilontarkan dan KATA, kata yang kadung diucapkan.. Berapa kata kah yang telah kita ucapkan sejak kita mulai bisa berbicara hingga sekarang? berapa kata kah yang dengan sengaja kita tulis hingga menjadi bait-bait kebermanfaatan, atau kesia-siaan bagi orang sekitar? berapa juta kata yang terlontar dari lidah yang tak bertulang ini untuk dengan sengaja berucap pada kebajikan? atau dengan sengaja memperolok teman-teman kita? atau tidak tertahankan mendesas-desuskan orang lain? Tidak ada yang menghitung berapa kata yang telah dia ucapkan, aku, kamu, kita.. sama-sama tidak pernah menghitung jutaan kata yang telah kita produksi. Padahal di akhir nanti lidah menjadi salah satu saksi atas apa-apa yang kita perbuat..

“Pada hari ketika lidah, tangan dan kaki menjadi saksi atas mereka terhadap apa-apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. 24:24)

Oh betapa!!! Di akhir zaman ini media desas-desus semakin menjamur menggurita. Saat di zaman orang-orang terdahulu hanya memiliki satu-satunya lidah yang tajam sebagai media desas-desus, di kekinian kita memiliki banyak sekali fasilitas desas-desus, TV, Radio, HP, Internet dan bahkan Socmed (!). Mengapa bahkan, kita gemar sekali mendesas-desuskan orang lain, bukan, bukan hanya keburukan, tapi hal yang baik pun ramai diperbincangkan seolah-olah itu adalah hal buruk. Atau bahkan hal-hal tidak penting asalkan tentang seseorang, itu patut di perbincangkan. Oh, dear😦 …

Tak bisakah kita, berusaha sedikit demi sedikit menahan, menjaga amanah lidah agar tidak berbicara kecuali yang baik-baik saja? Semenit, sejam, sehari, tahan rasa yang sangat ingin untuk membicarakan orang lain di hadapan lawan bicara kita. Yap, paham bahwa lidah ini sepertinya gatal saja jika tidak membicarakan seseorang, tapi mari sadari bahwa setiap hela kata yang terucap adalah tanggungjawab kita di hadapan-Nya. Your word, your responsible..

“Tiada suatu kata yang diucapkannya, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (Q.S Qaf:18) 

Mengapa bahkan, ketika ada berita simpang siur yang menyebar, kita dengan serta merta menerimanya, seolah-olah berita itu FIX, benar. Dan dengan gamangnya melanjutkan keberprasangkaan terhadap orang yang di gunjing.. So sad😦 ..

“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam neraka yang jaraknya lebih jauh antara timur dan barat”. (Muttafaq ‘alaih, dari Abu Hurairah)

 

Ghibah 

Dalam sebuah perjalanan ke suatu daerah, para sahabat diatur agar setiap dua orang yang mampu, membantu seorang yang tak mampu (tentang makan-minum). Saat itu, Salman Al Farisi diikutkan pada dua orang, tetapi ketika itu ia lupa tidak melayani keperluan keduanya. Ia diperintahkan meminta lauk pauk kepada Rasulullah saw. Dan setelah ia berangkat, keduanya berkata, “Seandainya ia pergi ke sumur, pasti surutlah sumurnya.” Sewaktu Salman menghadap, beliau bersabda, “Sampaikan kepada kedua temanmu bahwa kalian sudah makan lauk pauknya.” Setelah ia menyampaikan kepada mereka berdua, lalu keduanya menghadap kepada Nabi saw dan katanya, “Kami tidak makan lauk pauk dan seharian kami tidak makan daging.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Kalian telah mengatakan saudaramu (Salman) begini-begitu. Maukah kalian memakan daging orang mati?” Mereka menjawab, “Tidak!” “Jika kalian tidak mau makan daging orang mati, maka janganlah kalian ghibah mengatakan kejelekan orang lain, sebab yang demikian itu berarti memakan daging saudaranya sendiri.” Menurut Ibnu Abbas, kisah tersebut yang melatarbelakangi diturunkannya surat Al-Hujarat : 12

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat: 12)

Diriwayatkan dari Abu Dzar berkata: Ya Rasulullah, apakah ghibah itu? Rasul menjawab : ”Menyebutkan tentang saudaramu akan sesuatu yang membuat dia merasa jijik.” Aku berkata: Ya Rasulullah, bagaimana jika hal tersebut memang ada pada dirinya? Rasul menjawab: Ketahuilah, bahwa menyebut tentang sesuatu yang memang ada pada dirinya, berarti kamu telah mengumpatnya. Abu Dzar berkata : Nabi SAW bersabda : Ghibah merupakan suatu dosa yang lebih besar daripada berzina. Kataku : Bagaimana itu, ya Rasulullah? Rasul menjawab : ”Itu karena orang yang berzina, jika dia bertobat kepada Allah, Allah menerima tobatnya. Namun ghibah tidak diampuni oleh Allah, hingga korban daripada ghibah mengampuninya.”

Jadi temans, sebetulnya apa yang kita untungkan dari memperbincangkan orang lain? akan kah itu memuliakan kita? Dalam pandangan kita, okefine, kita mungkin lebih baik dari orang yang dipergunjingkan. Tapi dihadapan Allah, who knows? Siapa tahu amal kita lebih buruk dibanding orang yg kita gunjingkan. Tegakah kita, menjadi orang yang menggunjing, mungkin keceplosan, itu sekali, seterusnya ketagihan. Bisa bayangkan, orang yang ketagihan memperbincangkan orang lain, sama seperti ketagihan untuk memakan bangkai saudaranya sendiri. Itu kanibal sekanibal-kanibalnya, kawan…

 

Cek, Ricek, Kroscek ala Islam: Tabayyun

Ingat, bahwa dalam menerima sebuah informasi, kita sebagai muslim memiliki rumus tabayyun sebagai alat penguji data. Bukankah dalam dunia penelitian, kita mengenal sebuah pengujian agar data tersebut dikatakan valid?  Maka tentu dalam interaksi sosial kita *apalagi muslim terhadap muslim lainnya*, tabayyun adalah alat penting dalam dunia perinformasian yang penuh dengan ghibah bin fitnah ini.

Menurut istilah syara’ tabayyun adalah kehati-hatian terhadap informasi yang beredar terkait dengan kaum muslimin tanpa didasari dengan  pemahaman yang mendalam.  Mari ingat kembali ayat yang diturunkan Allah SWT terkait fitnah yang menimpa bunda Aisyah Ra,

“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja.  Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. (An Nur: 15) “

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (Al Hujurat: 6)

Jadi, jika ada berita menyimpang tentang saudara kita, rumus pertama dan utama yang mesti kita lakukan adalah tabayyun. Apa? Tabayyun, akhi.. ukhti…

 

Yuk Tabayyun !!!

Terdapat banyak metode tabayyun yang bisa dilakukan, namun kali ini saya ingin menyampaikan 3 (TIGA) *ehm, inget ya tiga :)*   cara bertabayyun. Check this out:

1) Mengklarifikasi terhadap pihak yang bersangkutan

Nah, ini hal yang urgent, temans. Tapi kadang, sering bahkan, kita terbelenggu dengan prasangka yang kepalang ada, mendarah daging menulang rusuk *oke, ini berlebihan, abaikan*. Apakah sedemikian sulitnya menanyai pihak yang bersangkutan sehingga kita bahkan hanya bisa mengandalkan insting saja, mendasarkan prasangka pada apa yang terlihat di permukaannya saja? begitukah? *Please lah* Rasulullah SAW bersabda:

“Jauhilah dirimu dari persangkaan, maka sesungguhnya persangkaan itu sedusta-dustanya perkataan.” (HR. al-Bukhori)

Jadi, bukan hal yang sulit untuk sekedar klarifikasi, bertanya baik-baik benar atau tidaknya sebuah berita kepada orang yang bersangkutan. Jika memang desas-desus yang tersebar adalah berita yang amat penting, akan mengganggu stabilitas dakwah atau akan memicu perpecahan jika tidak diluruskan, maka klarifikasilah kepada orang yang bersangkutan. Tapi semoga derajat “kepo” kita tidak dalam stadium akut dimana kita melulu dan terlalu ingin tahu akan urusan pribadi orang lain. Menjadi ingin tahu berlebih atas hal-hal yang derajatnya agak, kurang dan tidak penting. Mari tidak berkutat pada perbincangan tentang orang lain, bukankah tipe seseorang itu ditentukan oleh apa yang dibicarakannya? bahwa orang-orang besar adalah orang yang membicarakan ide, gagasan-gagasan yang cemerlang. Maka mari menjadi tipe manusia seperti itu. Menjadi cemerlang dengan gagasan-gagasan masa depan, bukan berhiruk pikuk dengan memata-matai orang lain mencari bercak dan noda akhlak mereka. Atau, jika belum bisa memberi gagasan, setidaknya diam adalah emas. Benar-benar emas yang menjadi harta karun. Dan, memang semua orang punya bercak dosa bukan? Allah knows, Allah definitely knows siapa-siapa yang hatinya berkilauan atau yang hatinya hitam bak jelaga, jadi kita tak perlu memekati hati sendiri dengan menunjukkan, atau mencari-cari kurangnya oranglain dengan bergosip. Oke? *okesip3 :)*

 2) Menanyakan kevalidan data informasi kepada sahabat terdekat orang yang bersangkutan

Diriwayatkan bahwa ketika ada seseorang memuji orang lain di sampingnya, Umar bin Khattab lalu berkata, “Apakah kamu pernah bepergian bersamanya ? Ia menjawab : tidak. Umar melanjutkan : apakah kamu pernah mengadakan transaksi binis dengannya ? Katanya : tidak. Kata umar : kalau begitu, kamu diam saja. Saya pikir kamu hanya pernah melihatnya di masjid sambil mengangkat dan menundukkan kepalanya. Jadi, sebagai seorang muslim yang hati-hati, mari kita tanya siapa sang pembawa informasi. Terpercayakah? atau adalah pribadi yang gemar mengumbar aib saudaranya sendiri? Mari kita selidiki dulu sang pembawa berita sebelum mengarah kepada yang diberitakan. Karena pembawa informasi itu ada 3 jenisnya *tiga lagi deh* , yang pertama adalah pembawa informasi yang jujur dan biasanya mereka memberitakan hal-hal yang penting saja. Taklimat misalnya. Kedua, berita dari pembohong yang secara langsung harus ditolak. Ketiga, berita dari seorang yang fasik yang membutuhkan klarifikasi, cek, ricek dan kroscek akan kebenarannya. 

Dalam sebuah riwayat dari Qatadah disebutkan, “At-Tabayyun minaLlah wal ‘ajalatu Minasy Syaithan”, sikap tabayun merupakan perintah Allah, sementara sikap terburu-buru merupakan arahan syaitan.

Selanjutnya ketika kita ingin mengklarifikasi berita maka menanyai sahabat terdekat dari orang yang diberitakan adalah tindakan yang tepat. Seseorang dikatakan telah menjadi sahabat jika telah melakukan 3 *duh, lagi-lagi 3* hal seperti yang telah diriwayatkan. Melakukan perjalanan bersama, bermalam bersama dan bermuamalah. Jadi ketika teman-teman tahu orang yang ditanyai itu belum melakukan hal-hal diatas, hati-hati ya. Begitu.

3) Husnudzon, pada akhirnya Allah-lah yang menunjukkan

Ketika suuzdon menjadi sedusta-dusta perkataan, maka husnudzon adalah sejujur-jujur perkataan bukan? Entahlah, Yang jelas adalah, orang-orang yang berhusnudzon selalu berprasangka baik, waspada, tidak mudah percaya pada berita yang mengarah pada menjatuhkan kehormatan saudaranya sendiri atau berita sejenis yang negatif. Dan lagi, mereka tidak mudah untuk menyebar berita yang tidak jelas sumbernya dari mana. Mari, mengingat kembali orang-orang beriman yang berhusnudzon terhadap bunda Aisyah r.a atas haditsul ifki yang menimpa beliau. Mereka tak ikut-ikutan membicaran. Tetap sahaja menghormati karena mereka orang-orang terhormat.

 “Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.” (An-Nur: 16).

 

Kita bukan kumpulan para malaikat yang tak pernah berbuat salah. Kita pun bukan golongan nabi yang ma’shum,. Tapi kita adalah kumpulan manusia yang lemah, khilaf, dan banyak dosa. Tapi hakikat kita tidak begitu Allah menciptakan kita menjadi makhluk yang sempurna dibanding makhluk Allah yang lain. Kita diberi Allah nikmat iman untuk meneguhkan percaya, akal untuk memikirkan gejala penciptaan dan hati untuk merasa memfatwa diri atas apa-apa yang haq dan yang bathil.

Maka mari saling menjaga, di tengah hiruk pikuk kekinian yang dipadati ghibah, fitnah dan namimah

Moga Allah mampukan kita mengendalikan sang pedang lisan

Moga Allah mampukan kita menahan ego bincang berlebihan

agar tak mengoyak hati sesama, agar tak pudar rasa saling hormat

agar tak ada manusia yang amat menggemari bangkai-bangkai manusia

Moga Allah berkahi tiap niat lisan yang bijak berkata, hingga sejahtera tercipta,

menghadiahinya pahala surga

Moga Allah ampuni tiap kata yang terkata menyakiti saudara, menggantinya dengan taubat nasuha

agar Allah ridhoi kita memasuki firdaus-Nya

Semoga Allah senantiasa menjaga aku dari  tajam lisan mu

Semoga Allah menyelamatkan dirimu dari keji lisan ku

Dan semoga Allah melindungi kita dari syaithan yang bergiat menggelincirkan sang lidah

 

Demikianlah..

 

Referensi:

1) Al-Qur’anul Karim

2) Madah Tarbiyah Tamhidi “Afatul Lisan”

3) Sikap Tabayyun Terhadap Informasi, Dakwatuna.

4) Mericek Kebenaran Berita, Menjauhi fitnah. Masjid Al-amanah.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s