Bertahan Karena Allah

 

Jalan Perjuangan, 23 Oktober 2012, 11.45 WIB

Siang itu mentari tersenyum begitu lebar, menebarkan sinarnya ke seluruh penjuru bumi. Teriknya pancaran sang mentari tak jua surutkan langkah pemudi berjilbab lebat itu, ia bergegas menghalau panas yang menyengat, meyusuri jalan yang ia tak tahu rimbanya, hanya berbekal secarik kertas yang berisi alamat tujuan.

“Jalan Perjuangan No. 58, hmm.. dimana ya? Sudah masuk waktu dhuhur pula. Oke ndal, kita cari mesjid dulu yuk! Kita shalat, baru lanjutkan misi kita” Ujar gadis ini sembari menundukkan kepala, mengajak ngobrol sang sandal gunung kesayangan yang baru ia beli tiga bulan lalu.

Nasya Muthmainnah namanya. Seorang gadis yang dianugerahi paras yang elok khas pemudi Jawa ini tengah mencari alamat seseorang yang akan menjadi guru spiritualnya kedepan. Kemantapan untuk ikut melingkar dalam sebuah grup pengajian ini ia dapat setelah  bercengkrama dengan salah satu kakak tingkatnya di kampus. Ditengah perjalanannya menuju  masjid, pikiran Sya terkenang dengan percakapannya yang dalam dengan sang kakak pekan lalu…

 

Pelataran Kampus Biru, 16 Oktober 2012

“Sya sayang, sendiri itu mendekatkan diri kita pada kemaksiatan.. tapi kalau berjamaah kita akan kuat dan bersemangat. Karena apa? Karena ada teman seperjuangan yang akan merangkul kita disaat semangat melemah, atau menepuk pundak kita di saat kita keliru. Maka, meski tergopoh, tetaplah berjama’ah Sya..” Ujar Kak Nay lembut.

Sya senang sekali jika ia punya kesempatan mengobrol dengan Kak Nay, ia dengan senang hati bercerita dan mengungkapkan kegelisahannya tentang segala sesuatu kepada Kak Nay. Kak Nay semacam sebuah kotak ajaibnya Sya, yang siap diisi apapun, kapanpun dan dimanapun.. Jika pertanyaan Sya terlalu banyak, terlalu menggebu atau ketika Sya sedang banyak merengek dengan alasan-alasannya, Kak Nay hanya menyunggingkan senyum, atau diam seribu bahasa. Sya tahu, itu bukan karena Kak Nay acuh terhadapnya, tapi agar ia dapat lebih banyak berkontemplasi, berpikir dan mencari, dan menjadi dewasa atas setiap keputusan yang Sya ambil. Kali ini, Sya tengah berargumen tentang keengganannya untuk mengikuti kegiatan mentoring yang direkomendasikan Kak Nay.

“Tapi kak, apa Sya pantas berada di lingkaran itu? Kan, kakak tahu sendiri, Sya masih seperti ini. Masih belum bisa menjaga diri Sya, masih belum bisa mengabaikan perhatian-perhatian kecil dari lawan jenis. Masih  permisif dengan membalas sms-sms tak penting dari teman-teman lawan jenis Sya, bahkan kalau itu diatas jam 9 malam.. Masih suka kumpul-kumpul dengan teman lawan jenis. Sya tahu itu salah kak. Sya juga malu atas diri Sya ini..” rintih Sya dengan mata berkaca.

Mendengar keluhan Sya, Kak Nay tersenyum, seperti biasa, hingga membuat perasaan Sya semakin tak karuan..

“Benar nih Sya malu?”

“Sangat Kak, apalagi Sya  sudah berjilbab begini.. Meskipun Sya baru berhijrah tiga bulan lalu, Sya tahu Sya harusnya bisa menjaga akhlak Sya jadi lebih baik lagi.. Kalau seperti ini terus, Sya pasti akan dan telah mencoreng predikat seorang akhwat. Dan Sya tidak mau itu terjadi..”

Kak Nay terdiam, menghela napas panjang, diam lagi. Hening. Sejurus kemudian keluarlah kata-kata dari mulutnya..

“Sya sayang tahu apa yang kakak suka dari Sya?” Tanya Kak Nay dengan mata berbinar. Sya menggeleng.

“Sya, adalah adik yang paling tinggi ghirohnya, paling tanggap dalam merespon seruan. Paling bersemangat intinya. Dari sekian banyak adik-adik di kampus yang diajak berjilbab, hanya Sya yang langsung merespon. Sya tergolong akhwat yang berakselarasi dalam berhijab. Sya hanya butuh waktu seminggu untuk berhijrah dari tidak berjilbab hingga akhirnya bisa beratribut lengkap seperti sekarang ini.. Kalau kakak, dulu butuh proses satu semester lho Sya, untuk mengibarkan sang jilbab lengkap dengan manset dan kaos kakinya.. Ah, perjuangan sekali lah.. Tapi, tahu tidak apa yang lebih penting dari itu semua?” Sya menggeleng lagi, membiarkan Kak Nay mengalirkan kalimatnya..

“Istiqamah Sya.. Istiqamahlah yang paling penting dari hijrah yang kita lakukan.. Setelah kita memutuskan untuk berjilbab dengan syar’i, akan ada banyak godaan lain atas apa yang kita putuskan. Termasuk itu, tentang hubungan Sya dengan lawan jenis yang harus dibatasi. Sya malu, itu adalah tameng agar Sya tidak melulu mengikuti hawa nafsu… Di jalan ini, kita harus bahu membahu Sya, saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran..Nah, dalam mentoring itulah kita akan memperdalam kefahaman kita akan tsaqafah islamiyyah dan salah satu wasilah untuk memperkuat keistiqamahan kita…”

 “Tapi kak, apa Sya pantas ikut mentoring?Kan, Sya masih suka membangkang ini itu..” ujar Sya, masih beralasan.

“Kalau merasa belum pantas, maka pantaskanlah.. Kita semua ini ya sedang berusaha untuk memantaskan diri dihadapanNya. Sudah merasa belum pantas, tapi tidak mau memantaskan diri, lalu maunya apa dong?” Jawab Kak Nay, tegas tapi tetap lembut. Sya jengah, hatinya terketuk, ada bulir-bulir kesadaran disana.

Sya terdiam lama.. Larut dalam pikirannya sendiri.. Ya Allah.. Bagaimana aku bisa memantaskan diri dihadapanMu? Sudah banyak kekhilafan yang pernah ia perbuat.. Lagi, dan lagi.. Tak peduli sebanyak apa ia terjatuh, Allah yang Maha Baik selalu mengulurkan  invisible handNya agar Sya bangkit lewat jalan yang tak disangkanya.. Inilah titik balik Sya, perlahan namun pasti, kata-kata indah itu terurai dari hatinya..

“Iya Kak.. Aku juga lelah, bergumul dalam kesendirian, selalu kalah oleh bisikan-bisikan yang melemahkan. Aku menuruti nafsu yang menjauhkanku padaNya, padahal batin dan hatiku menjerit jika aku melakukan apa yang seharusnya tidak aku lakukan.. Mungkin, jika aku ikut mentoring, aku bisa mengabaikan bisikan-bisikan yang melemahkan itu..” aku Sya.

“Sya bisa, jika berpikir bisa. Jadi, minggu depan siap??” Tanya Kak Nay bersemangat.

Sya mengangguk, “Yosh!!”. Malu-malu, Sya berkata lagi, “Kak, Afwan ya, aku bandel. Ternyata jadi akhwat bandel ga enak Kak, galau terus..” ungkap Sya.

Kak Nay hanya tersenyum simpul. Mendekatkan tubuh pada Sya, lalu mendekapnya erat. Ah, Sya suka langsung terharu kalau Kak Nay seperti ini. Hening. Makin lama dekapan Kak Nay makin menghangatkan tubuh. Mata Sya juga mulai berkaca. 1,2,3. Dekapan terlama yang dirasa Sya, bulir-bulir airmata itu jatuh bersama dengan hangatnya dekap Kak Nay.. “Ya Allah, nikmatNya ukhuwah ini..” desis Sya dalam hati.

Sambil mendekap adik yang disayanginya ini, Kak Nay berujar:

 “Sungguh, suatu hal yang tidak disangka-sangka, Allah mempertemukan kita di jalan ini, Sya.. Mari sama-sama berjuang, karena perjalanan ini masih panjang.. Sekeras apapun syaitan berusaha memalingkan kita dari JalanNya, bertahanlah. Jangan bandel, Kakak akan sangat sedih kalau Sya bandel. Karena Kak menyayangi Sya. Sangat. Maka, bertahanlah karena Allah, Sya..” suara Kak Nay mulai bergetar, namun terdengar jelas dan kuat.

“Kak Nay, dia menyayangiku,, sedangkan aku masih saja tak bersyukur dengan terus membangkangMu.. maafkan aku Robbi,
Sya tergugu, merintih dalam hati.

“Kak, jangan lelah mengingatkanku ya? Bantu aku kalau aku terjatuh. Meski telah berkali-kali aku jatuh” pinta Sya dalam tangis.

“Selalu.. Selalu shalihah, tak akan pernah melepaskan uluran tanganku, tak akan pernah, kecuali Allah berkehendak atas itu..” tutur Kak Nay lembut.

Dan Sya kembali tergugu.. semakin erat mendekap Kak Nay dengan berurai airmata.

 

Pelataran Masjid Al-Mukhlisin, 12.04

Tak terasa butir bening menyembul dari kelopak matanya mengingat momen yang mengharu biru itu. “Yosh.. Semangat perbaikan, Semangat mentoring!” ujar Sya sembari menyeka air mata yang menyembul di pipi gembilnya. 15 menit berjalan, akhirnya ia menemukan Masjid yang terletak di ujung jalan. Masjid Al-Mukhlisin. Di depan pelataran mesjid, ada kios makanan dan minuman. Sya menghampirinya,    “Beli minum ah, sekalian tanya alamat. Mungkin penjaganya tahu.”

“Bu, air mineralnya satu ya.. Berapa?”

“Iya neng, 3ribu aja neng.”

“Ini Bu, Uangnya. Oya Bu, kalau ini tuh Jalan Perjuangan kan ya?” Bertanya sambil memberikan uang.

“Iya neng, kenapa memangnya?”

“Kalau rumah no. 58 itu sebelah mana ya Bu. Nama pemiliknya Mba Kinan. Mungkin Ibu tahu?

 “Ohh..  Kalau Bu Kinan itu saya tahu neng, baik lagi orangnya. Neng mau ngaji ya? Sering kok, pemudi kaya neng yang jilbabab gini main ke rumahnya. Saya juga ngaji sama Bu Kinan neng, tapi di madrasah, ngga di rumahnya. Hehe.. Rumahnya  di sebrang gang itu. Pas di sebelah pohon mangga itu neng. Kelihatan kan?”

Wah frontal sekali ibu ini, gelagapan Sya jadinya, tapi Sya jadi tahu, bahwa Mba Kinan sepertinya humble dan dekat sekali dengan masyarakat sekitar. Jadi tidak sabar untuk bertemu.

“Hehe.. Iya Bu.. Oh yang itu, iya bu kelihatan kok. Terimakasih ya Bu..” Sahut Sya sambil berlalu ke dalam masjid.

Azanpun berkumandang, tak membuang waktu, Sya bergegas menuju tempat wudhu akhwat. Selesai berwudhu, Sya bergegas menuju tempat shalat bagi akhwat, disana ternyata ada pula beberapa muslimah yang telah siap untuk melaksanakan shalat berjama’ah. Akhirnya, ia ambil posisi di sebelah ibu paruh baya yang sedang melaksanakan rawatib. Sya mengambil mukena yang dibekalnya, lalu bersiap melaksanakan shalat rawatib.

Sya tidak sadar, ternyata Hp mungilnya bergetar melulu. Mengisyaratkan bahwa ada beberapa panggilan masuk dan sms. Sya baru menyadarinya ketika ia telah keluar dari mesjid.

8 panggilan tak terjawab dan 3 sms.

Sya buka 8 panggilan masuk itu, ternyata 4 kali panggilan dari Kak Nay, 4 kali dari Remi.

“Remi? Mau apa dia telpon? Aduhh. Nggak, nggak, nggak boleh. Ga usah tanggapi Sya, Ga usah.” Tandas Sya menenangkan diri sendiri.

Remi adalah teman dekat Sya semasa SMA, saking dekatnya Sya sudah menganggapnya sebagai kakak kandung. Tapi setelah mengenal Islam lebih dekat, Sya tahu tak ada itu yang namanya kakak angkat, tak ada itu namanya persahabatan sejati antara laki-laki dan perempuan. Apalagi akhir-akhir ini Sya menangkap gelagat aneh dari Remi yang perhatiannya terhadap Sya sudah diluar ambang kewajaran. Dulu, Sya tenang-tenang saja menghadapi hal ini, toh ia merasa baik-baik saja. Tapi sekarang, ia tidak bisa begitu. Ada rasa was-was yang menjalari sekujur tubuhnya ketika ia harus berlama-lama sms-an atau bertelepon dengan Remi. Sya tidak boleh jatuh lagi. Sudah cukup. Tidak boleh mengizinkan  rasa yang ada berkembang menjadi rasa yang tidak seharusnya timbul.

“Fix. Jangan tanggapi. Stop ini Sya. Jangan jatuh lagi.” Sya meyakinkan diri sendiri.

Lalu, ia baca inboxnya yang berisi 3 pesan yang belum di baca

Pesan 1

Dari Remi

            “Sya, dimana? Ketemu yuk? Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan. J

Sya menghela napas. Menekan tombol delete untuk pesan ini.

Pesan 2

Dari Remi

Sya? Angkat telponnya kalau sudah tidak sibuk ya? Please lho J

Helaan napas Sya lebih berat. Tekan tombol delete lagi untuk pesan kedua. “Audzubillahiminasysyaithaanirrajiim”

Pesan 3

Dari Kak Nay 

            “Sudah sampai mana? Hati-hati ya, Sya shalihah.. Yakin, Allah selalu temani J

Ini ayat yang kakak suka, semoga Sya juga suka :

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata): “Janganlah kamu merasa takut dan bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu” (Q.S Fushilat [41] : 30)

Dan bertahanlah,, karena Allah… *big hug*J

Langkah Sya terhenti. Nafasnya memburu. Dan tenggorokan tercekat, seakan ada duri di tenggorokannya yang membuatnya perih menelan. Matanya menghangat, ada bulir keharuan lagi disana. “Allahku.. betapa engkau mencintaiku”. Sya termenung, dari 8 panggilan masuk dan 3 pesan yang ia terima, betapa Allah telah menunjukkan, mana yang baik dan mana yang tidak untuknya. Faalhamaha fujuraha wa taqwaha.

Baiklah Ya Allah, Inilah aku, hambamu.. Sehitam apapun aku, Kau tetap putihkanku. Inilah aku, dengan niatku, meski dengan iman sebelanga. Berusaha meniti jalanMu. Menjadi seorang muslimah pilihanMu. Izinkanlah aku istiqamah di JalanMu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s