Baktiku,,

 

 

Ayah, adalah cinta pertama bagi seorang anak perempuan

Ibu, adalah cinta pertama bagi seorang anak laki-laki

(anonym)

Tapi mengapa bagiku cinta pertama itu terasa begitu hambar, Yah?

Mengingatmu, adalah caraku memuisikanmu

 

Bersyukur dada ini dilapangkan-Nya..

HIngga sesak itu dapat bermigrasi..

Bermigrasi kemanapun yang ia suka,

Agar sang sesak tak bisa menyabotase baktiku padamu..

 

Semenyakitkan apapun,

Semenyesakkan apapun,

Seperih apapun luka yang tertoreh di masa lalu

Sungguh, aku berupaya membebatnya dengan tunaikan baktiku padamu.

Meski tak selalu cukup bagi dahagamu

 

Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya

Aku tak pernah membencimu, meski hati yang merajai diri inginnya bertalu

Tak pernah bisa membenci, meski seujung kuku

 

Bersyukur, karena rindang kasih-Nya,

Dengki itu tak sempat bertransformasi menyembulkan bentuknya,

Tak sempat dan tak pernah akan

 

Karena aku belajar,

Bahwa membenci, tak akan pernah bisa menghapuskan luka

Bahkan hanya akan menjadikan luka itu parah penuh nanah

 

Tapi memaafkan,

Adalah bianglala indah yang menghubungkan kita

Mengizinkan sang waktu menyembuhkan perih yang tersisa,

Dengan doa dan tawakkal sebagai tameng di dada

 

Dan akhirnya,

Kupersembahkan baktiku sepenuh rasa,

Mumpung waktu masih lapang tersedia.

 

Oct, 27th 2012

Dandelion,

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s