Saat Langit Berwarna Merah Saga..

Dia terduduk lesu, bersandar pada pohon akasia yang berdiri dengan gagahnya, menjulang menerabas berkas-berkas cahaya senja yang hangat bersahabat.. Dipandanginya langit yang kini kemerahan.  Langit yang senantiasa menemani perjuangan panjangnya.. Langit kemerahan yang selalu ia cinta. Langit yang setia menjadi tempat berlabuhnya keluh kesah yang tercurah limpah. Langit, yang dengan bijaksana selalu mengingatkan dia akan sebuah kenikmatan dari Sang Khalik yang hanya akan di dapat oleh sebuah kerja panjang. Kerja yang tak hanya menuntut raga tapi juga jiwa, tak hanya membutuhkan cinta tapi juga pengorbanan.. Kerja yang membuatnya menghayati makna indah dalam sebuah dekapan ukhuwah..

Terekam jelas dalam benaknya sebuah masa. Masa yang menyenandungkan awal perjuangan panjangnya. Masa yang ia tapaki dengan ringkih. Masa yang sempat membuatnya ingin berpaling, namun urung karena sebuah energi ketulusan yang luar biasa. Ia lupa, bahwasanya ia tak sendiri.. Sungguh ia tak akan pernah sendiri. Ada milyaran cinta disana.

Begitulah.. Bagaimana cinta mengkristalkan bentuknya, dalam sebuah pengorbanan, dalam sebuah ketulusan, dalam sebuah kepedulian, dalam sebuah do’a. Ketika ia terjatuh, ada tangan yang terulur indah untuk membantunya bangkit. Selalu… Bahkan ketika secara fisik ia merasa sendiri, terlupakan di tengah hiruk pikuknya dunia, ada lantunan do’a tersemat untuknya. Meski ia tak tahu pasti siapa atau seberapa banyak jiwa yang melantunkannya, tapi do’a-do’a itu terbingkai indah, tercermin dalam setiap kebaikan yang ia dapat. Membentengi dirinya dari setiap keburukan yang datang. Atau dalam apapun bentuknya itu, bait-bait do’a yang terlantun untuknya senantiasa ada, hadir memayungi. Meski terkadang serasa absurd dalam guliran hidupnya…

Maka, tak ada alasan untuknya untuk tak bertahan.. Hidup adalah pilihan, dan seseorang harus menerima resiko atas pilihannya tersebut. Maka, ia memilih bertahan.. Meski tak sedikit yang memilih berputar haluan… Bertahan, bersama sang langit yang senantiasa setia menghiasi hari..

Sang langit yang kini menjadi sahabat karib sang pengembara… Langit yang ketika memandang kemerahannya selalu membuat segala lelah yang menyesak dalam derap-derap perjuangannya menguap seketika. Langit yang dengan atau tanpa kata, seringkali memberinya sebuah pemahaman, sebuah pengertian, sebuah pelajaran…

Maka, ia tahu bahwa ia harus terus bergerak, seperti sang langit yang terus bergerak mengikuti hari..

Ia bersyukur kepada Sang Maha Bijaksana, yang telah menciptakan langit itu untuknya, Yang kilaunya tersebar ke segala penjuru. Yang tak hanya menghangatkan hatinya tapi juga menghangatkan seisi dunia.. Yang menjadi penyejuk saat badai ghoflah menerpa..

Bersama lantunan almatsurat yang ia baca, ia nikmati kemilau senja hari itu. Berazzam dalam hati bahwasanya ia tak akan pernah berhenti. Ia akan terus melaju melanglang buana, seperti sang Langit yang senantiasa setia menaungi manusia.. Sampai habis masanya nanti..

 

Teruntuk langit kemerahan, yang dengan kemilaunya ia berkata, ramah bercengkrama, terima kasih telah menghangatkan hati ini..

_reddishcloud_

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s