“PENYAJIAN KOMUNIKASI PERTANIAN YANG EFEKTIF DALAM KEGIATAN PENYULUHAN ”

BAB I

                                                       PENDAHULUAN

1.1       Latarbelakang

Penyuluhan pertanian didefinisikan sebagai suatu sistem pendidikan di luar sekolah untuk keluarga-keluarga tani di pedesaan, di mana mereka belajar sambil berbuat untuk menjadi mau, tahu dan bisa menyelesaikan sendiri masalah-masalah yang dihadapinya secara baik, menguntungkan dan memuaskan (Wiriaatmaja, 1986).

Dalam kegiatan penyuluhan pertanian, komunikasi menjadi sebuah faktor penting yang dapat menunjang tercapainya tujuan-tujuan penyuluhan. Disini, komunikan dituntut untuk memiliki sebuah strategi komunikasi agar objek penyuluhan dapat menerima pesan dengan baik dan tidak terjadi missunderstanding dalam proses penyuluhan ini.

Setiap petani di suatu daerah pertanian memiliki karakteristik yang berbeda-beda, oleh karenanya penyajian komunikasinya pun perlu disesuaikan dengan daerah masing-masing petani. Para petani yang masih berada di daerah pedesaan yang terisolir tentunya lebih efektif jika diberikan penyuluhan dengan metode dialog dua arah serta pendekatan interpersonal. Terdapat korelasi positif yang nyata antara kompetensi komunikasi yang dimiliki oleh penyuluh terhadap perilaku petani dalam mengelola sumber daya yang dimiliki. Selain faktor keterisoliran dan kompetensi komunikasi, strategi komunikasi pun berpengaruh terhadap efektifitas komunikasi. Hal ini didukung oleh terbagi-baginya tipe penerima respon penyuluhan, mulai dari kelompok inovator; early adopter, early mayority, late adopter dan kelompok penolak inovasi yang bersifat apatis (lagger).

Oleh karenanya, diperlukan sebuah kajian mendalam untuk mengetahui bagaimana seharusnya penyajian komunikasi pertanian yang efektif dalam kegiatan penyuluhan terhadap ragam petani yang tersebar di berbagai daerah agar para petani dapat tercerahkan dan berkembang cara berpikirnya.

 

1.2       Rumusan Masalah

Dari latarbelakang diatas penulis dapat merumuskan beberapa masalah, antara lain:

  1. Bagaimana penerapan komunikasi pertanian yang efektif dalam kegiatan penyuluhan?
  2. Apa hambatan-hambatan komunikasi pertanian yang terjadi pada kegiatan penyuluhan pertanian?
  3. Apa faktor-faktor penunjang komunikasi pertanian yang efektif?

1.3       Tujuan

Adapun penyusunan tulisan ini bertujuan untuk :

  1. Mengetahui sejauh mana keefektifan komunikasi pertanian yang diterapkan para penyuluh pada kegiatan penyuluhan.
  2. Mengetahui faktor-faktor pendukung komunikasi pertanian yang efektif dalam kegiatan penyuluhan pertanian dan mampu mengaplikasikannya di lapangan.
  3. Menggali pengetahuan dan potensi penulis mengenai tipe-tipe komunikasi, khususnya komunikasi pertanian dan
  4. Mampu mengimplementasikan tahap-tahap komunikasi pertanian yang efektif dalam dunia pertanian.


BAB II

PEMBAHASAN

 

Proses Komunikasi

Theodornoson dan Theodornoson (1969) seperti  diacu dalam Bungin (2007) memberi batasan lingkup communication berupa penyebaran informasi, ide-ide, sikap-sikap, atau emosi dari seorang atau kelompok kepada yang lain (atau lain-lainnya terutama melalui simbol-simbol. Dipertegas Effendy (2000) yang mengatakan komunikasi sebagai proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Pikiran bisa merupakan gagasan, informasi, opini dan lain-lain yang muncul dari benaknya. Perasaan bisa berupa keyakinan, kepastian, keraguan, kekhawatiran, kemarahan, keberanian, kegairahan dan sebagainya yang timbul dari lubuk hati. Definisi lain tentang komunikasi (Berlo 1960; Kincaid & Schramm 1987; Rogers 2003) ialah proses penyampaian informasi atau pesan dari sumber kepada penerima, dengan tujuan timbulnya respons dari penerima sehingga melahirkan kesamaan makna.

Dalam proses komunikasi terdapat  lima komponen atau unsur penting yang harus kita perhatikan yaitu: sender, massage, delivery channel atau media, receiver dan efect/umpan balik (feedback).  Melalui proses komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain. Akan tetapi, komunikasi hanya akan efektif apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesan tersebut.

Komunikasi Pembangunan

Nasution (2004) mengutip pernyataan Hedebro tentang tiga aspek komunikasi dan pembangunan yang berkaitan dengan tingkat analisisnya.  Ketiga aspek tersebut meliputi hal berikut: (i) Pendekatan yang berfokus pada pembangunan suatu bangsa, dan peran media massa menyumbang upaya tersebut. Di sini, politik dan fungsi-fungsi media massa dalam pengertian yang umum merupakan objek studi, sekaligus masalah-masalah struktur organisasional dan pemilikan, serta kontrol terhadap media. Untuk studi jenis ini, digunakan istilah kebijakan komunikasi dan merupakan pendekatan yang paling luas dan bersifat umum; (ii) Pendekatan untuk memahami peranan media massa dalam pembangunan nasional, namun lebih jauh spesifik. Persoalan utama dalam studi ini adalah penggunaan media agar dapat dipakai secara efisien, untuk mengajarkan pengetahuan tertentu bagi masyarakat suatu bangsa; dan (iii) Pendekatan yang berorientasi kepada perubahan yang terjadi pada suatu komunitas lokal atau desa. Studi jenis ini mendalami bagaimana aktivitas komunikasi dapat dipakai untuk mempromosikan penerimaan yang luas akan ide-ide dan produk baru.

Hasil penelitian Kifli (2007) tentang strategi komunikasi pembangunan pada komunitas dayak di Kalimantan Barat menemukan bahwa berbagai bentuk materi komunikasi yang selama ini tersedia, ternyata belum dapat dipahami atau diakses dengan optimal oleh orang Dayak. Materi komunikasi dari luar baik berupa materi tercetak maupun elektronik, seperti brosur, leaflet, majalah atau program radio dan televisi, tidak dapat diakses. Kendala dari sisi fisik disebabkan karena keterisoliran geografis, sedangkan kendala sisi bahasa menyebabkan mereka tidak dapat memahami isi (content)yang terkandung di dalamnya.  Konsep dan strategi pembangunan yang cenderung seragam, belum mampu menjangkau komunitas Dayak secara memadai. Berbagai asumsi dan prasyarat penerima (receiver)dari kebijakan strategi komunikasi tersebut tidak mampu dipenuhi oleh sebagian masyarakat, termasuk oleh masyarakat Dayak.  Penelitian Amanah (2007) tentang pengembangan masyarakat pesisir mengungkap pula bahwa terdapat korelasi positif yang nyata antara kompetensi komunikasi yang dimiliki oleh penyuluh terhadap perilaku masyarakat pesisir dalam mengelola sumber daya pesisir yang dimiliki. Selain faktor keterisoliran dan kompetensi komunikasi, strategi komunikasi pun berpengaruh terhadap efektifitas komunikasi.

Harris (Bessete & Rajasunderam 1996) menyatakan bahwa pendekatan komunikasi pembangunan partisipatif perlu dikembangkan untuk mengembangkan masyarakat di tingkat bawah melalui pendekatan pendidikan non formal. Terkait dengan pendekatan pembangunan yang diterapkan di Indonesia, Waskita (2005) mencermati bahwa pembangunan sampai saat ini masih terlalu berfokus pada hal-hal fisik dan terukur. Hal ini pada gilirannya, berkontribusi terhadap model komunikasi yang dianut cenderung menunjukkan pola interaksi yang terbatas dan berkaitan dengan kekuasaan dan pelayanan.  Alternatif model komunikasi yang diusulkan adalah komunikasi dialogis antar orang yang terlibat dalam proses pembangunan.

 

            Pemberdayaan

Pemberdayaan memiliki berbagai interpretasi, pemberdayaan dapat dilihat sebagai suatu proses dan program. Payne (1997) mengemukakan bahwa pemberdayaan (empowerment) pada hakekatnya bertujuan untuk membantu klien mendapatkan kekuatan (daya) untuk mengambil keputusan dan tindakan yang akan dilakukan dan berhubungan dengan diri klien tersebut, termasuk mengurangi kendala pribadi dan sosial dalam melakukan tindakan.  Pemberdayaan dilakukan dengan jalan meningkatkan kapasitas, pengembangan rasa percaya diri untuk menggunakan kekuatan dan mentransfer kekuatan dari lingkungannya. Sebagai suatu proses, pemberdayaan adalah usaha yang terjadi terus menerus sepanjang hidup manusia.

Bowling dan Barbara (2002) mengemukakan bahwa program penyuluhan dapat membentuk perubahan perilaku melalui prinsip berbagi pengetahuan, dan pengalaman dengan masyarakat.  Bersama–sama masyarakat, dapat dilakukan berbagai kegiatan yang mengarah pada pembentukan perilaku masyarakat.  Pemberdayaan sebagai sebuah program mempunyai makna bahwa pemberdayaan merupakan tahapan–tahapan kegiatan untuk mencapai suatu tujuan dalam kurun waktu tertentu.  Dalam konteks ini, pelaksanaan program pemberdayaan dibatasi waktu, sehingga tampak sebagai kegiatan keproyekan.  Kondisi seperti ini tentu tidak menguntungkan bagi pelaksana program maupun komunitas target, karena sering terjadi kegiatan terputus di tengah jalan dan kurangnya koordinasi antar lembaga yang terlibat dalam program.

Van Den Ban (1999) mengungkapkan bahwa peranan berbagai program penyuluhan sebagai implementasi komunikasi pembangunan adalah dengan membantu petani untuk mengambil keputusan sendiri dengan cara menambah pilihan bagi mereka, dan dengan cara menolong mereka mengembangkan wawasan mengenai konsekuensi dari masing-masing pilihan tersebut. Upaya pemberdayaan ini perlu memahami struktur sosial masyarakat, tidak hanya melihat aspek ekonomi atau teknologi saja, melainkan juga aspek sosial-budaya perlu diperhatikan, sehingga program tidak lagi hanya bersifat “ingin cepat selesai.”

Strategi komunikasi pembangunan pertanian harus berfokus pada  peningkatan kemampuan petani dalam pengelolaan teknologi pertanian, penguatan kapasitas permodalan, kemampuan pengelolaan keuangan dan yang paling urgen adalah perubahan sikap dan perilaku yang positif memanfaatkan kekayaan alam, baik kekayaan darat maupun bahari.

Komunikasi Pertanian yang Efektif

Komunikasi pertanian menjadi sebuah kebutuhan dalam tugas seorang penyuluh pertanian. Peranan komunikasi pertanian menjadi sangat penting dalam memajukan dan meningkatkan kesejahteraan petani beserta keluarga tani. Penyampaian informasi pertanian akan semakin efektif bila kita memahami bagaimana sebenarnya konsep penyuluhan pertanian yang baik dan tepat sehingga mampu tepat sasaran.

Penerapan komunikasi pertanian efektif dapat dilaksanakan dengan tiga metode, antara lain: (1) Metode pendekatan  kelompok, dimana dilakukan pengelompokkan petani berdasarkan lokasi tempat tinggal atau hamparan sawah; (2) Metode pendekatan  massa, biasanya dilakukan secara massa dengan tujuan target seluruh khalayak ramai dan menggunakan media informasi seperti:tv, radio, dsb ; (3). Metode pendekatan  individu, dimana penyuluh dapat melakukan komunikasi dialogis terhadap petani an informasi yang disampaikan pun lebih tepat sasaran dan terarah, hanya saja sasarannya terbatas.

Syarat utama dalam komunikasi efektif adalah karakter yang kokoh yang dibangun dari fondasi integritas pribadi yang kuat, disertai dengan kepercayaan pada orang lain. Covey mengusulkan ada lima hal utama yang dapat menambah kekuatan emosi dalam menjalin hubungan  dengan sesama yaitu :

1. Berusaha benar-benar mengerti orang lain

Ini adalah dasar dari apa yang disebut emphatetic communication- (komunikasi empatik). Ketika  berkomunikasi dengan orang lain, kita mungkin mengabaikan orang itu dengan tidak serius membangun hubungan yang baik. Kita mungkin berpura-pura. Kita mungkin secara selektif berkomunikasi pada saat kita memerlukannya, atau kita membangun komunikasi yang atentif (penuh perhatian) tetapi tidak benar-benar berasal dari dalam diri kita.

Bentuk komunikasi tertinggi adalah komunikasi empatik, yaitu melakukan komunikasi untuk terlebih dahulu mengerti orang lain – memahami karakter dan maksud/tujuan atau peran orang lain.
Kebaikan dan sopan santun yang kecil-kecil begitu penting dalam suatu hubungan – hal-hal yang kecil adalah hal-hal yang besar.

2. Memenuhi komitmen atau janji

3. Menjelaskan harapan

Penyebab dari hampir semua kesulitan dalam hubungan berakar di dalam harapan yang bertentangan atau berbeda sekitar peran dan tujuan. Harapan harus dinyatakan secara eksplisit.

4. Meminta maaf

5. Integritas

Integritas merupakan fondasi utama dalam membangun komunikasi yang efektif. Karena tidak ada persahabatan atau teamwork tanpa ada kepercayaan (trust), dan tidak akan ada kepercayaan tanpa ada integritas. Integritas mencakup hal-hal yang lebih dari sekadar kejujuran (honesty). Kejujuran mengatakan kebenaran atau menyesuaikan kata-kata kita dengan realitas. Integritas adalah menyesuaikan realitas dengan kata-kata kita. Integritas bersifat aktif, sedangkan kejujuran bersifat pasif.

 

Prinsip dasar yang mempengaruhi komunikasi:

1. Faktor Teknis

2. Faktor Perilaku

Bentuk dari perilaku yang dimaksud adalah perilaku komunikan yang bersifat : pandangan yang bersifat apriori, prasangka yang didasarkan atas emosi, suasana yang otoriter, ketidak mampuan untuk berubah vvalaupun salah, sifat yang egosentris.

3. Faktor Situasional

Kondisi dan situasi yang menghambat komunikasi misalnya situasi ekonomi, sosial, politik dan keamanan

4. Keterbatasan Waktu

Sering karena keterbatasan waktu orang tidak berkomunikasi, atau berkomunikasi secara tergesa-gesa, yang tentunya tidak akan bisa memenuhi persyaratan-persyaratan komunikasi.

5. Jarak Psychologis/status social

Jarak psychologis biasanya terjadi akibat adanya perbedaan status, yaitu status sosial maupun status dalam pekerjaan. Misalnya, seorang pesuruh akan sulit berkomunikasi dengan seorang menteri karena ada jarak psichologis yaitu pesuruh merasa statusnya terlalu jauh terhadap  menteri. Selanjutnya, ada orang yang hanya ingin mendengar informasi yang dia senangi saja, sedangkan informasi lainnya tidak.

6. Adanya evaluasi terlalu dini

Seringkali orang sudah mempunyai prasangka, atau sudah menarik suatu kesimpulan sebelum menerima keseluruhan informasi atau pesan. Hal ini jelas menghambat komunikasi yang baik.

7. Lingkungan yang tidak mendukung

Komunikasi interpersonal akan lebih efektif jika dilakukan dalam lingkungan yang menunjang, berikut ini beberapa contoh suasana lingkungan yang tidak menunjang atau mendukung yaitu :

  • Keadaan suhu (terlalu panas atau terlalu dingin)
  • Keadaan ribut atau bising
  • Lingkungan    fisik yang tidak mendukung (ruang terlalu sempit/ kurang keleluasaan pribadi)
  • Keadaan si komunikator
  • Keadaan fisik dan perasaan komunikator sangat berpengaruh terhadap berhasil atau gagalnya komunikasi.

 

Mengukur keefektifan komunikasi

Kita tidak dapat menilai keefektifan komunikasi bila apa yang kita maksudkan tidak jelas;  kita harus benar-benar tahu apa yang kita inginkan.  Menurut Tubbs and Moss (1999) terdapat 5 hasil utama yang dapat dijadikan ukuran bagi komunikasi yang efektif :

  1. Pemahaman
    Penerimaan cermat atas kandungan rangsangan seperti yang dimaksudkan oleh pngirim pesan.  Komunikator dikatakan efektif bila penerima memperoleh pemahaman yang cermat atas pesan yang disampaikannya.
  2. Kesenangan
    Timbulnya rasa senang dan terhibur atau mempertahankan hubungan insani
  3. Pengaruh pada sikap
  4. Hubungan yang makin baik
  5. Tindakan


BAB IV

 PENUTUP

4.1         Kesimpulan

Dalam proses komunikasi terdapat  lima komponen atau unsur penting yang harus kita perhatikan yaitu: sender, massage, delivery channel atau media, receiver dan efect/umpan balik (feedback).  Melalui proses komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain. Akan tetapi, komunikasi hanya akan efektif apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesan tersebut.

Sistem penyuluhan seharusnya berorientasi pada kegiatan mendalami dan mengembangkan perubahan perilaku masyarakat dan merupakan proses pendidikan berkelanjutan yang dilakukan dengan cara persuasif atau membujuk. Namun, hingga saat ini  tidak jarang berubah bentuk menjadi proses instruksi dengan cara paksaan. Hal ini terjadi karena kegiatan penyuluhan dilakukan dengan cara berorientasi pada kepentingan sektoral atau target pembangunan tertentu tanpa memikirkan kepentingan dan kesiapan khalayak dalam menerima berbagai tawaran perubahan tersebut.

Penerapan komunikasi pertanian yang efektif dapat dilaksanakan dengan metode pendekatan kelompok, metode pendekatan massa dan metode pendekatan individu yang tentunya harus didukung oleh strategi komunikasi yang tepat dari penyuluh.

Di sisi lain, penyajian komunikasi pertanian efektif tak terlepas dari beragam hambatan, diantaranya: lingkungan yang tidak mendukung, gangguan bahasa, keterbatasan waktu, status sosial, rintanagn fisik dan rintangan kerangka berfikir.

Oleh karenanya, para penyuluh dituntut mengoptimalisasikan perannya sebagai fasilitator, dinamisator, motivator dan inovator bagi petani di seda binaannya dengan memiliki teknik komunikasi pertanian yang efektif guna menunjang fungsi-fungsinya tersebut.

4.2         Saran

Kegiatan penyuluhan yang dilakukan di setiap wilayah Indonesia merupakan sebuah upaya untuk mendorong para produsen pertanian agar lebih giat meningkatkan produtivitasnya dengan memanfaatkan teknologi dan sarana pertanian yang ada.

Adapun saran yang dapat disampaikan guna mengpotimalisasikan penyajian komunikasi pertanian yang efektif tehadap keluarga tani antara lain:

  1. Adanya dukungan dari pemerintah terhadap program penyuluhan pertanian dengan cara mengadakan pelatihan intensif terhadap para penyuluh agar mereka terampil berkomunikasi.
  2. Peningkatan kompetensi penyuluh dan adanya sebuah social respect agar para penyuluh tidak hanya mementingkan kepentingan sektoral tapi juga memperhatikan kebutuhan dan kesiapan pihak yang akan disuluh.
  3. Adanya sistem jaringan komunikasi yang telah terinstitusionalkan (melembaga) antara penyuluh dan pihak yang disuluh sehingga keefektifan komunikasi pertanian dapat tercapai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s